Kecerdasan buatan dalam bumi akuntansi mulai mengubah langkah perusahaan mencatat transaksi, memeriksa data, menyusun laporan, hingga mendeteksi kejanggalan keuangan. Pekerjaan nan dulu memerlukan waktu berjam-jam sekarang dapat diselesaikan lebih sigap dengan support perangkat lunak dan otomatisasi.
Perubahan ini menimbulkan kekhawatiran, terutama di kalangan mahasiswa dan pekerja bagian akuntansi. Ketika mesin bisa menghitung, mengelompokkan transaksi, dan membaca ribuan info dalam waktu singkat, apakah perusahaan tetap memerlukan akuntan?
Kekhawatiran tersebut cukup beralasan. Namun, masuknya kepintaran buatan alias artificial intelligence bukan berfaedah seluruh pekerjaan akuntan bakal hilang. Hal nan lebih mungkin terjadi adalah perubahan jenis pekerjaan, keterampilan, dan tanggung jawab nan kudu dimiliki seorang akuntan.
Kecerdasan Buatan dalam Dunia Akuntansi
Kecerdasan buatan merupakan teknologi nan memungkinkan sistem komputer melakukan tugas nan biasanya memerlukan keahlian manusia, seperti mengenali pola, memahami bahasa, mempelajari data, dan menghasilkan rekomendasi.
Dalam akuntansi, teknologi ini dapat digunakan untuk membaca arsip transaksi, mengelompokkan pengeluaran, mencocokkan info rekening bank, memeriksa faktur, serta membantu menemukan transaksi nan tidak biasa.
Contoh sederhananya dapat ditemukan dalam proses pencatatan keuangan. Dahulu, staf akuntansi kudu memasukkan info transaksi satu per satu. Saat ini, sistem dapat mengambil info dari nota alias tagihan digital, kemudian memasukkannya ke dalam kategori nan sesuai.
Pada bagian audit, AI juga dapat membantu memeriksa info dalam jumlah jauh lebih besar. Auditor tidak hanya berjuntai pada beberapa sampel transaksi, tetapi dapat menggunakan kajian info untuk mengenali pola dan menentukan bagian nan mempunyai akibat lebih tinggi.
International Federation of Accountants alias IFAC menyebut bahwa kepintaran buatan membuka kesempatan sekaligus membawa akibat baru bagi pekerjaan akuntan. Penggunaan AI perlu disertai tata kelola, pengawasan, dan pertimbangan etika nan memadai.
Pekerjaan Rutin Paling Mudah Diotomatisasi
Tidak semua pekerjaan akuntansi mempunyai tingkat akibat otomatisasi nan sama. Pekerjaan nan berulang, mempunyai patokan jelas, dan menggunakan format info nan seragam lebih mudah digantikan alias dibantu oleh sistem.
Beberapa tugas tersebut meliputi:
1. memasukkan info transaksi;
2. mencocokkan saldo;
3. membikin kalkulasi berulang;
4. mengelompokkan dokumen;
5. menyusun laporan standar;
6. memeriksa kelengkapan data.
World Economic Forum dalam Future of Jobs Report 2025 menempatkan pekerjaan manajemen akuntansi, pembukuan, dan penggajian di antara pekerjaan nan diperkirakan mengalami penurunan akibat otomatisasi dan perubahan teknologi. Laporan tersebut juga menunjukkan bahwa banyak perusahaan berencana mengurangi tenaga kerja pada bagian nan tugasnya dapat diotomatisasi oleh AI.
Namun, penurunan kebutuhan terhadap pekerjaan rutin tidak sama dengan hilangnya seluruh pekerjaan akuntan. Teknologi biasanya menggantikan sebagian tugas, bukan seluruh peran seseorang.
Sebuah kalkulator dapat menggantikan proses menghitung secara manual, tetapi tidak dapat secara otomatis menentukan keputusan upaya nan paling tepat. Begitu pula dengan AI. Sistem dapat mengolah info dengan cepat, tetapi tetap memerlukan manusia untuk menilai apakah hasilnya masuk logika dan sesuai dengan kondisi perusahaan.
AI Cepat Mengolah Data, tetapi Tidak Selalu Memahami Konteks
Kecerdasan buatan bekerja berasas data, pola, dan petunjuk nan diberikan. Kualitas hasilnya sangat berjuntai pada kualitas info nan masuk ke dalam sistem.
Apabila info perusahaan tidak lengkap, salah, alias mengandung bias, hasil kajian AI juga dapat menyesatkan. Sistem mungkin menghasilkan jawaban nan terlihat meyakinkan, padahal tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya.
Akuntansi tidak hanya berangkaian dengan kalkulasi matematis. Banyak persoalan memerlukan pertimbangan profesional.
Sebagai contoh, akuntan perlu menilai apakah suatu biaya kudu diakui sebagai beban alias aset, apakah perkiraan kerugian sudah wajar, serta apakah info tertentu perlu diungkapkan dalam laporan keuangan. Keputusan tersebut tidak selalu dapat diselesaikan hanya dengan mengikuti satu rumus.
Akuntan juga perlu memahami keadaan perusahaan, karakter transaksi, ketentuan nan berlaku, dan akibat keputusan terhadap pengguna laporan keuangan.
AI dapat membantu menyediakan informasi, tetapi tanggung jawab atas keputusan tetap berada pada manusia.
Apakah Akuntan Akan Tergantikan?
Jawabannya berjuntai pada langkah akuntan merespons perubahan teknologi.
Akuntan nan hanya mengandalkan keahlian memasukkan info dan melakukan kalkulasi dasar menghadapi akibat lebih besar. Sebaliknya, akuntan nan bisa menggunakan teknologi, menganalisis informasi, dan memberikan pertimbangan upaya bakal tetap dibutuhkan.
Ikatan Akuntan Indonesia menilai bahwa teknologi seperti AI dan analitik info telah mengubah pekerjaan akuntansi dari pekerjaan pencatatan tradisional menuju peran nan lebih strategis. Otomatisasi memberi kesempatan kepada akuntan untuk berfokus pada analisis, perencanaan keuangan, dan pemberian saran kepada manajemen.
Dengan demikian, pertanyaannya bukan hanya “apakah AI bakal menggantikan akuntan?”, tetapi juga “akuntan seperti apa nan berisiko digantikan?”
Akuntan nan menolak mempelajari teknologi mungkin bakal tertinggal. Namun, akuntan nan bisa bekerja berbareng teknologi justru dapat menjadi lebih produktif dan berbobot bagi perusahaan.
Peran Akuntan Akan Menjadi Lebih Strategis
Ketika pekerjaan rutin mulai ditangani sistem, akuntan dapat mengalokasikan lebih banyak waktu untuk pekerjaan nan memerlukan kajian dan pertimbangan.
Akuntan dapat berkedudukan dalam menjelaskan kondisi finansial perusahaan kepada manajemen, menyusun perencanaan, mengidentifikasi risiko, serta membantu menentukan strategi bisnis.
Sebagai contoh, AI dapat menunjukkan bahwa biaya produksi meningkat. Namun, akuntan tetap perlu mencari tahu penyebabnya. Peningkatan tersebut dapat berasal dari naiknya nilai bahan baku, pemborosan produksi, perubahan kurs, alias rendahnya efisiensi tenaga kerja.
Sistem dapat menghasilkan diagram dan angka, tetapi akuntan kudu menerjemahkannya menjadi info nan dapat digunakan untuk mengambil keputusan.
Dalam posisi ini, akuntan tidak lagi hanya berfaedah sebagai pencatat kejadian masa lalu. Akuntan dapat menjadi mitra manajemen nan membantu perusahaan merencanakan masa depan.
IAI juga menekankan bahwa digitalisasi bukan hanya ancaman, melainkan kesempatan bagi akuntan untuk mengembangkan peran strategis dengan tetap berdasarkan etika, kompetensi, dan konektivitas.
Tantangan Etika dalam Penggunaan AI
Penggunaan AI di bagian akuntansi tidak hanya menimbulkan persoalan teknis. Terdapat pula masalah etika dan keamanan nan perlu diperhatikan.
Data akuntansi biasanya mengandung info sensitif, seperti pendapatan, utang, transaksi pelanggan, penghasilan karyawan, dan strategi perusahaan. Mengunggah info tersebut ke dalam aplikasi AI tanpa perlindungan nan memadai dapat menimbulkan akibat kebocoran informasi.
Akuntan juga tidak boleh menerima hasil AI tanpa melakukan pemeriksaan. Sebuah sistem dapat menghasilkan angka, analisis, alias konklusi nan salah.
Apabila kesalahan tersebut masuk ke dalam laporan perusahaan, dampaknya dapat merugikan investor, kreditur, pemerintah, dan pihak lainnya.
Selain itu, penggunaan AI dapat menimbulkan pertanyaan mengenai tanggung jawab. Ketika sistem membikin kesalahan, siapa nan kudu bertanggung jawab? Pengembang teknologi, perusahaan, alias akuntan nan menggunakan hasilnya?
Dalam pekerjaan akuntansi, tanggung jawab ahli tidak dapat dialihkan sepenuhnya kepada mesin. Akuntan tetap wajib memastikan bahwa info nan digunakan dapat dipercaya.
Karena itu, AI semestinya diperlakukan sebagai perangkat bantu, bukan sebagai pengganti penilaian profesional.
Keterampilan Baru nan Harus Dimiliki Akuntan
Perubahan teknologi membikin akuntan perlu memperluas keahlian di luar pencatatan dan perhitungan.
Pertama, akuntan perlu memahami teknologi digital. Mereka tidak kudu menjadi programmer, tetapi perlu mengetahui langkah kerja sistem, sumber data, keterbatasan aplikasi, serta akibat penggunaannya.
Kedua, keahlian kajian info menjadi semakin penting. Akuntan kudu bisa membaca pola, membandingkan informasi, dan menjelaskan makna suatu perubahan angka.
Ketiga, keahlian komunikasi tidak boleh diabaikan. Hasil kajian finansial nan rumit kudu dapat diterjemahkan menjadi penjelasan sederhana bagi manajemen alias pemilik usaha.
Keempat, akuntan perlu menjaga keahlian berpikir kritis. Setiap jawaban nan dihasilkan AI kudu diuji, dibandingkan, dan diperiksa kembali.
Kelima, etika pekerjaan tetap menjadi dasar utama. Teknologi dapat berubah dengan cepat, tetapi prinsip integritas, objektivitas, kehati-hatian, dan kerahasiaan tetap kudu dijaga.
Bahkan, semakin canggih teknologi nan digunakan, semakin krusial pula kehadiran manusia nan bisa memastikan bahwa teknologi tersebut digunakan secara benar.
Dampaknya bagi Mahasiswa Akuntansi
Bagi mahasiswa, hadirnya AI tidak semestinya menjadi argumen untuk menghindari bidang akuntansi. Perubahan tersebut justru dapat menjadi dorongan untuk mempersiapkan keahlian nan lebih sesuai dengan kebutuhan bumi kerja.
Mahasiswa tidak cukup hanya menghafal jurnal alias rumus. Pemahaman mengenai konsep dasar tetap penting, tetapi kudu dilengkapi dengan keahlian menggunakan perangkat lunak akuntansi, mengolah data, memahami sistem informasi, dan membikin analisis.
AI dapat digunakan sebagai perangkat belajar. Mahasiswa dapat memanfaatkannya untuk menjelaskan konsep, membikin latihan, alias membantu mengembangkan ide. Namun, hasil dari AI tetap perlu dibandingkan dengan buku, standar, peraturan, dan sumber resmi.
Ketergantungan berlebihan terhadap AI justru dapat melemahkan keahlian berpikir. Apabila setiap tugas langsung diserahkan kepada mesin, mahasiswa mungkin memperoleh jawaban, tetapi tidak memahami proses di baliknya.
Karena itu, penggunaan AI dalam pendidikan akuntansi sebaiknya tetap menempatkan mahasiswa sebagai pihak nan berpikir, memeriksa, dan mengambil kesimpulan.
AI Tidak Memiliki Empati dan Tanggung Jawab Moral
Salah satu kelebihan manusia nan susah digantikan adalah keahlian memahami situasi sosial dan moral.
Seorang akuntan mungkin menghadapi tekanan dari pemimpin untuk mengubah angka, menyembunyikan kerugian, alias membikin laporan terlihat lebih baik. Dalam keadaan seperti itu, persoalannya bukan lagi mengenai keahlian menghitung.
Akuntan kudu menentukan sikap berasas etika dan tanggung jawab kepada publik.
AI dapat menjelaskan aturan, tetapi tidak menanggung akibat moral dari suatu keputusan. Mesin tidak mempunyai reputasi profesional, hati nurani, alias tanggung jawab norma seperti manusia.
Selain itu, akuntan sering berkomunikasi dengan klien, pemilik usaha, auditor, regulator, dan karyawan. Interaksi tersebut memerlukan kepercayaan, empati, dan keahlian memahami kondisi masing-masing pihak.
Hal-hal tersebut membikin peran manusia tetap krusial di tengah perkembangan teknologi.
Bekerja Bersama AI, Bukan Melawannya
Kehadiran kepintaran buatan memang bakal mengurangi kebutuhan terhadap beberapa pekerjaan rutin. Namun, teknologi juga menciptakan kebutuhan baru.
Perusahaan memerlukan orang nan bisa mengawasi sistem, memeriksa kualitas data, menilai hasil analisis, menjaga keamanan informasi, serta memastikan penggunaan AI sesuai etika.
Akuntan nan memahami teknologi dapat bekerja lebih sigap dan menghasilkan kajian nan lebih mendalam. Mereka tidak perlu menghabiskan terlalu banyak waktu untuk pekerjaan administratif nan berulang.
Waktu tersebut dapat digunakan untuk membantu manajemen memahami akibat dan kesempatan perusahaan.
Dengan demikian, AI dan akuntan tidak selalu kudu ditempatkan sebagai dua pihak nan saling menggantikan. Keduanya dapat saling melengkapi.
AI mempunyai kelebihan dalam kecepatan dan keahlian memproses data. Sementara itu, akuntan mempunyai keahlian memahami konteks, menilai kewajaran, berkomunikasi, dan bertanggung jawab atas keputusan.
Masa Depan Profesi Akuntan
Perkembangan kepintaran buatan tidak dapat dihentikan. Perusahaan bakal terus mencari langkah untuk meningkatkan efisiensi dan mengurangi kesalahan.
Profesi akuntan juga bakal terus berubah. Beberapa jenis pekerjaan mungkin berkurang, tetapi peran baru dapat muncul dalam kajian data, audit teknologi, tata kelola AI, keamanan sistem, pengendalian internal, dan konsultasi bisnis.
Akuntan masa depan kemungkinan tidak lagi menghabiskan sebagian besar waktunya untuk memasukkan data. Mereka bakal lebih banyak memeriksa sistem, menilai risiko, dan menerjemahkan info menjadi keputusan.
Oleh karena itu, kepintaran buatan tidak otomatis mengakhiri pekerjaan akuntan. AI justru menjadi ujian mengenai seberapa jauh pekerjaan ini bisa beradaptasi.
Akuntan tidak bakal tergantikan hanya lantaran mesin dapat menghitung lebih cepat. Namun, akuntan nan tidak mau belajar menggunakan teknologi dapat tergantikan oleh akuntan lain nan bisa memanfaatkannya.
Pada akhirnya, masa depan pekerjaan akuntansi tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan AI. Masa depan tersebut juga ditentukan oleh kesiapan manusia untuk terus belajar, menjaga etika, dan menghadirkan nilai nan tidak dapat diberikan oleh mesin.
1 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·