Kebakaran RSUD Dr Soetomo, RS Bantah Hidran Tak Berfungsi Optimal

Sedang Trending 56 menit yang lalu

Surabaya, CNN Indonesia --

Sistem hidran di gedung Pusat Pelayanan Jantung Terpadu (PPJT), RSUD Dr Soetomo Surabaya diduga tak berfaedah optimal saat peristiwa kebakaran terjadi, Jumat (15/5) pagi.

Namun, perihal itu dibantah oleh manajemen rumah sakit.

Wakil Direktur Pelayanan Medik & Keperawatan RSUD Dr Soetomo Prof Dr Ahmad Suryawan menampiknya. Ia menyebut, seluruh hidran nan ada di Gedung PPJT tetap berfaedah secara normal.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Mengenai hydrant indoor dan outdoor, kemungkinan tekanannya bisa jadi [kurang optimal], tapi fungsinya pasti berjalan," kata Suryawan, di letak kejadian, Jumat (15/5).

Sementara itu, Koordinator Red Code RSUD Dr Soetomo, Dwi K mengatakan, gedung PPJT mempunyai dua hidran, ialah di bagian outdoor dengan ukuran selang 2,5 inci dan indoor 1,5 inci.

"Punya kami digunakan [hidran] nan di dalam, lantaran [kebakaran] ada di dalam gedung. nan luar lantaran ada supporting dari tim Damkar, lantaran tekanannya dari luar," kata Dwi.

Dwi menyebut, kedua hidran tersebut seluruhnya tetap berfaedah dengan baik. Tapi, tekanannya disebut kurang kuat untuk menjangkau api nan berada di sisi belakang lantai 5 Gedung PPJT.

"Terkait kegunaan PPJT box indoor kami berfungsi, namun angan dari tim Damkar itu tekanannya nan bisa tinggi. Namun keahlian dari hidran kami dirasa belum cukup," ucapnya.

Senada, Kepala Instalasi Hukum, Humas dan Pemasaran RSUD Dr Soetomo Martha Kurnia K mengatakan, pihaknya sukses melakukan penanganan kebakaran menggunakan sistem perlindungan internal gedung, dan berkah koordinasi dengan Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP), serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Surabaya.

"Proses penanganan awal kebakaran sendiri, petugas rumah sakit segera melakukan pemadaman menggunakan sistem perlindungan internal gedung sembari menghubungi petugas pemadam kebakaran. Respons sigap seluruh pihak sukses melokalisir api sehingga tidak meluas ke area maupun lantai lain di lingkungan rumah sakit," kata Martha dalam keterangan tertulisnya.

Direktur Utama RSUD Dr Soetomo, Prof Dr Cita Rosita Sigit Prakoeswa menegaskan kematian pasien dalam kejadian itu murni disebabkan oleh aspek penyakit nan diderita, bukan lantaran akibat kebakaran maupun paparan asap.

Cita mengatakan, pasien itu memang dalam kondisi medis nan kritis sebelum kebakaran terjadi. Saat kejadian berlangsung, pasien tersebut sedang mendapatkan support melalui perangkat medis lantaran mengalami kegagalan kegunaan pada beberapa organ tubuh utama.

"Meninggal lantaran penyakit. Karena memang itu tadi sesuai dengan penjelasan kawan-kawan bahwa kondisi sudah tersupport oleh tiga organ, ialah paru-paru, jantung, dan ginjal. Dan cuci darah sedang on the way, dan kami tetap melakukan evakuasi, dan tentu bukan lantaran asap lantaran semuanya tersupport oleh mesin ya," kata Cita.

Kesaksian family korban meninggal

Sementara itu, pasien RSUD Dr Soetomo Surabaya dinyatakan meninggal bumi saat kejadian kebakaran melanda lantai 5 Gedung Pusat Pelayanan Jantung Terpadu (PPJT), Jumat (15/5).

Satu pasien nan meninggal itu berjulukan Sutaji (46), asal Desa Kapuan, Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Pasien nan sempat dirawat di ruang ICCU pada lantai 6 itu dinyatakan meninggal bumi meski sudah sukses dievakuasi.

Yuli, istri korban, mengatakan saat kejadian Sutaji menjadi pasien nan terakhir dievakuasi petugas. Sebelumnya ada juga pasien dengan kondisi kritis lain nan sukses diselamatkan.

Dia mengaku sempat kebingungan mencari keberadaan Sutaji karena mereka terpisah. Suaminya itu dirawat di ruang ICCU nan tak bisa didampingi family secara terus-menerus.

Walhasil saat kejadian, Yuli nan panik, menyelamatkan diri lebih dulu ke luar gedung sembari pasrah dan berambisi suaminya sukses dievakuasi oleh petugas.

"Saya nyari sana-sini rupanya tetap tinggal di atas dua orang. nan pertama itu sudah turun, bapaknya nan terakhir," kata Yuli dengan terbata.

Saat proses pemindahan itu, seluruh listrik di gedung PPJT dipadamkan. Yuli pun menyelamatkan diri ke lantai dasar dengan menggunakan tangga darurat karena lift sudah tidak berfungsi.

"Listriknya dimatikan, enggak bisa. Turun langsung pakai tangga darurat, enggak bisa pakai lift," ujarnya.

Yuli mengatakan, tak lama kemudian dia berjumpa dengan Sutaji. Tapi, kondisi suaminya itu makin lemah. Sesaat setelah dipindahkan ke Ruang Resusitasi (RES) IGD, laki-laki asal Blora itu pun dinyatakan meninggal dunia.

"Pas posisi turun jantung bapak sudah lemah, langsung enggak ada," kata Yuli, tangisnya pun pecah.

Direktur Utama RSUD Dr Soetomo, Prof Dr Cita Rosita Sigit Prakoeswa menegaskan kematian pasien dalam kejadian itu murni disebabkan oleh aspek penyakit nan diderita, bukan lantaran akibat kebakaran maupun paparan asap.

Cita mengatakan, pasien itu memang dalam kondisi medis nan kritis sebelum kebakaran terjadi. Saat kejadian berlangsung, pasien tersebut sedang mendapatkan support melalui perangkat medis lantaran mengalami kegagalan kegunaan pada beberapa organ tubuh utama.

"Meninggal lantaran penyakit. Karena memang itu tadi sesuai dengan penjelasan kawan-kawan bahwa kondisi sudah tersupport oleh tiga organ, ialah paru-paru, jantung, dan ginjal. Dan cuci darah sedang on the way, dan kami tetap melakukan evakuasi, dan tentu bukan lantaran asap lantaran semuanya tersupport oleh mesin ya," kata Cita.

Seperti diketahui, kebakaran melanda Gedung Pusat Pelayanan Jantung Terpadu (PPJT) RSUD Dr Soetomo, Surabaya, pada Jumat (15/5) pagi. Dugaan sementara api berasal dari korsleting listrik lemari es nan berada di ruang farmasi pada lantai 5 Gedung tersebut.

Sebanyak 44 pasien pun dievakuasi dari gedung PPJT tersebut. Namun satu pasien atas nama Sutaji (46), asal Desa Kapuan, Kecamatan Cepu, Blora, Jawa Tengah, nan tengah dirawat di ruang ICCU pada lantai 6, dinyatakan meninggal bumi meski sudah sukses dievakuasi.

(frd/bac)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Selengkapnya
Sumber CNN Indonesia Nasional
CNN Indonesia Nasional