Kata Mereka: Membongkar Periode Kelam di Balik Hilangnya Jejak Keturunan Belanda

Sedang Trending 5 bulan yang lalu

JAKARTA – Pada bagian Kata Mereka kali ini, Bang Robby Purba membujuk penonton untuk mengulik dan memandang sisi lain sejarah Indonesia nan jarang dibicarakan secara terang-terangan. Ia membuka bagian kali ini dengan menyoroti keluhan sebagian besar masyarakat nan sering kali membandingkan kondisi Indonesia saat ini dengan masa kolonial, hingga mempertanyakan kenapa keturunan Belanda sekarang jarang ditemui di Indonesia.

Menurut Bang Robby, pertanyaan tersebut tidak bisa dijawab secara sederhana. Secara historis, Belanda menjajah Indonesia lebih dari 3,5 abad. Dalam kurun waktu sepanjang itu, secara logika, semestinya ada banyak sekali jejak keturunan Belanda nan tersebar luas di Nusantara. Namun nyatanya, darah dan garis keturunan Belanda seolah lenyap memudar dari ruang sosial Indonesia.

Bang Robby membawa penonton untuk memandang awal kehadiran Belanda ke Nusantara. Pada abad ke-16, Belanda awalnya datang ke Nusantara sebagai pedagang rempah-rempah melalui VOC. Hubungan jual beli nan awalnya tampak setara perlahan mulai bergerak berubah menjadi kekuasaan ekonomi. VOC mulai menentukan harga, jalur distribusi, hingga siapa nan boleh berdagang. Dari monopoli ekonomi inilah, kekuasaan politik kolonial tumbuh.

Akibat adanya kekuasaan dan monopoli ekonomi ini, rakyat Indonesia kemudian dipaksa menyerahkan tanah, tenaga, dan waktu melalui sistem tanam paksa dan kerja rodi. Luka nan nyaris dirasakan seluruh rakyat Indonesia akibat penindasan tersebut akhirnya terus menumpuk dan tersimpan hingga pada akhirnya Perang Dunia II menjadi titik kembali sejarah. Jepang menyerah pada Agustus 1945 dan Indonesia memproklamasikan kemerdekaan. Namun, angan rakyat bakal kebebasan penuh justru dibayangi oleh upaya Belanda untuk kembali berkuasa.

Di sinilah Bang Robby memperkenalkan salah satu situasi nan jarang disinggung oleh masyarakat “masa bersiap”, periode kelam pasca-proklamasi nan berjalan akhir 1945 hingga awal 1946. Masa ini ditandai oleh kekacauan, ketakutan, dan kekerasan nan meluas. Identitas menjadi penentu nasib. Nama, aksen, dan warna kulit bisa berujung pada penangkapan, pengusiran, apalagi dapat menyebabkan kematian.

Selengkapnya
Sumber Okezone.com
Okezone.com