Liputan6.com, Jakarta - Ketua DPR Puan Maharani menyoroti rumor perundungan di kembali kasus peledakan bom rakitan nan dilakukan seorang siswa di Kota Padang, Sumatra Barat. Pelaku diketahui melakukan aksinya lantaran jengkel setelah menjadi korban bullying alias perundungan oleh teman-temannya.
“Peristiwa peledakan peledak rakitan di sekolah di Padang tentu sangat kita sesalkan. Namun, dalam kasus ini perlu dilihat akar persoalannya, ialah kenapa anak tersebut nekat melakukan perbuatan itu,” kata Puan, Kamis (16/7/2026).
Kasus peledakan peledak rakitan di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 3 Padang nan terjadi pada Selasa (14/7/2026) menggegerkan publik. Pelaku merupakan pelajar berinisial R (17), nan merupakan siswa di sekolah tersebut.
Polisi mengatakan R mengalami masalah psikologis akibat menjadi korban perundungan oleh teman-temannya. Karena itu, Puan meminta lembaga mengenai membantu pemulihan mental R.
“Apa nan dilakukan pelaku memang tidak bisa dibenarkan. Namun, persoalan psikologis nan dialaminya menunjukkan bahwa pemulihan mental kudu menjadi prioritas,” tegasnya.
Menurut Puan, peristiwa peledakan peledak rakitan di lingkungan MAN 3 Padang menjadi peringatan serius bahwa karakter persoalan remaja Indonesia telah mengalami perubahan nan sangat mendasar.
Puan menilai tindakan R, nan diduga dipicu perundungan berkepanjangan serta kemudahan memperoleh info mengenai perakitan bahan peledak melalui internet, menunjukkan bahwa beragam persoalan nan selama ini dipandang sebagai kenakalan remaja telah berkembang menjadi perilaku berisiko tinggi (high-risk behavior) nan dapat menakut-nakuti keselamatan banyak orang.
“Perubahan tersebut kudu menjadi sirine nasional bahwa sistem perlindungan anak di Indonesia perlu segera beradaptasi dengan tantangan baru di era digital,” ungkap Puan.
Lebih lanjut, mantan Menko PMK itu mengingatkan pentingnya lingkungan pendidikan memastikan setiap anak memperoleh perlindungan nan layak. Meski pendidikan bukan hanya menjadi tanggung jawab sekolah, dia menegaskan satuan pendidikan kudu bisa menjamin keamanan dan kenyamanan peserta didik selama belajar.
“Iklim pendidikan juga kudu mendapat perhatian. Satuan pendidikan kudu memastikan anak mendapatkan ruang belajar nan kondusif dan lingkungan pendidikan nan sehat, termasuk terbebas dari perundungan,” ujarnya.
“Sementara itu, orang tua juga perlu meningkatkan pengawasan dan memperkuat ketahanan family di rumah,” imbuh Puan.
2 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·