Kasus Bayi Nyaris Dibawa Orang Lain: RSHS Bandung Minta Maaf, Polisi Selidiki

Sedang Trending 2 bulan yang lalu
Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Hasan Sadikin Bandung. Foto: Abisatya Ramdhani/kumparan

Seorang bayi nyaris dibawa oleh orang tidak dikenal saat berada di RS Hasan Sadikin (RSHS) Bandung. Peristiwa itu diceritakan ibu sang bayi, Nina Saleha.

Nina menceritakan, kejadian bermulai saat dirinya menunggu pemeriksaan master untuk bayinya. Di sela menunggu, dia sempat berinteraksi dengan seorang wanita lain nan berada di letak nan sama.

“Saya tanya, 'mau ngapain ke sini? Mau pulang alias nengok?' Dia bilang mau pulang,” ujar Nina saat dihubungi wartawan, Kamis (9/4).

Nina sempat turun ke bawah berbareng suaminya untuk makan. Namun, dia mengaku mempunyai firasat tidak lezat dan memutuskan kembali ke ruangan bayi.

“Pas saya kembali ke atas, rupanya anak saya sudah dipegang oleh wanita itu. Saya tanya, 'Teh, pulang?' Dia bilang, iya. Pas saya perhatikan baju, selimut, dan wajahnya, itu anak saya,” katanya.

Nina juga mendapati gelang identitas bayinya sudah tidak ada.

“Pas dilihat, gelang namanya sudah tidak ada. Katanya gelangnya sudah digunting oleh suster,” ungkapnya.

Nina lampau mencari suster, dan menyebut bahwa anaknya bakal dibawa pergi oleh visitor itu.

“Saya teriak, ‘Sus, Sus, itu anak saya mau dibawa pergi!’”

Suami Nina datang dan berbincang dengan suster. Si suster beralih, Nina telah dipanggil namun tidak ada di lokasi.

Meski begitu, Nina menduga ada kelalaian dari pihak rumah sakit, apalagi tidak menutup kemungkinan adanya unsur kesengajaan. Nina berambisi kasus ini dapat ditindaklanjuti secara serius agar tidak terulang di kemudian hari.

“Harapannya ditindaklanjuti. Susternya jika bisa diberi hukuman tegas, takutnya jadi oknum,” ucapnya.

RSHS Bandung Minta Maaf

Manajemen RSHS Bandung menyampaikan permohonan maaf atas peristiwa tersebut.

“Sehubungan dengan adanya pemberitaan di media sosial TikTok pada tanggal 8 April 2026 mengenai dengan pelayanan kesehatan pada bayi dari Ibu Nina Saleha, maka segenap manajemen RSUP Dr. Hasan Sadikin menyampaikan permohonan maaf nan sedalam-dalamnya atas ketidaknyamanan peristiwa nan dialami oleh anak Ibu Nina Saleha selama mendapatkan pelayanan kesehatan di RSUP Dr. Hasan Sadikin,” demikian pernyataan resmi manajemen.

Lebih lanjut, pihak rumah sakit menegaskan komitmennya untuk mengevaluasi layanan, serta meningkatkannya.

“Pada prinsipnya, RSUP Dr. Hasan Sadikin bakal selalu melakukan pertimbangan dan peningkatan keahlian dalam pemberian jasa kesehatan kepada masyarakat sesuai dengan ketentuan nan berlaku,” lanjut pernyataan tersebut.

Menjadi Sorotan KDM

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi alias KDM diwawancarai wartawan di Kantor Bank Indonesia (BI), Jakarta, Rabu (22/10/2025). Foto: Fadhil Pramudya/kumparan

Peristiwa itu turut mendapat perhatian unik dari Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. Pria nan berkawan disapa KDM tersebut langsung turun tangan memberikan support kepada Nina dan bayinya.

Dalam video nan diunggah di akun YouTube Kang Dedi Mulyadi Channel, Kamis (9/4), KDM menyampaikan keprihatinannya sekaligus menyoroti dugaan kelalaian dalam pelayanan kesehatan nan menimpa Nina dan bayinya.

“Yang krusial nan pertama itu adalah tindakan nan asal-asalan nan dilakukan oleh perawat, dan kelak saya tanya ke manajemen apa tindakan nan dilakukan oleh manajemen. Tapi saya dengar bahwa sudah diberikan sanksi, tapi tidak tahu sanksinya apa,” ujar KDM dalam video tersebut.

Selain itu, KDM juga menyampaikan empati dan dukungannya kepada Nina Saleha nan baru saja melewati masa susah setelah proses kelahiran sang bayi.

“Yang kedua, saya mengucapkan selamat atas kelahiran anak teteh, kemudian selamat sudah melewati masa nan berat dalam hidup, ialah anaknya sempat dibawa orang,” lanjutnya dalam percakapan telepon dengan Nina.

Sebagai corak kepedulian, KDM juga memberikan support finansial untuk membantu kebutuhan pasca persalinan Nina dan sang bayi.

“Yang ketiganya, ini corak lantaran teteh mengalami kesulitan waktu kelahiran, saya kelak titip buat beli popok anak teteh, buat beli gizi dan pemulihan kesehatan teteh ya. Saya kelak (kasih) ke teteh Rp 10 juta ya,” katanya.

Polisi Selidiki

Peristiwa itu memicu kekhawatiran masyarakat mengenai keamanan pasien, khususnya bayi dan anak-anak di akomodasi kesehatan. Terkait peristiwa itu, polisi bakal mengusutnya.

“Kita bakal mendalami perihal tersebut. Akan dilakukan penyelidikan,” ujar Kasat Reskrim Polrestabes Bandung, AKBP Anton, saat dikonfirmasi, Jumat (10/4).

Menurutnya, penyelidikan dilakukan untuk memastikan secara utuh kronologi kejadian, termasuk mengidentifikasi pihak nan diduga terlibat dalam kejadian tersebut.

RSHS Nonaktifkan Perawat, Juga Disanksi SP 1

Ilustrasi perawat rumah sakit . Foto: THICHA SATAPITANON/Shutterstock

Manajemen RSHS Bandung mengambil langkah tegas mengenai peristiwa ini. Direktur Utama RSHS, dr. Rachim Dinata Marsidi, menyampaikan bahwa pihaknya telah menjatuhkan hukuman terhadap perawat nan terlibat dalam kejadian tersebut.

“Perawatnya sudah kami nonaktifkan dari pelayanan langsung kepada pasien, dipindahkan ke bagian lain, serta diberikan Surat Peringatan (SP) 1,” ujar Rachim.

Selain itu, RSHS juga menyatakan kesiapan untuk dilakukan pertimbangan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mengenai kejadian tersebut.

“Kami siap untuk dilakukan pertimbangan oleh Kementerian Kesehatan, dan kami juga sudah melaporkan kejadian ini ke Kemenkes,” katanya.

Ia menegaskan bahwa pihak rumah sakit terbuka terhadap segala corak pengawasan dan pembinaan guna meningkatkan kualitas pelayanan serta keamanan pasien.

Lebih lanjut, RSHS bakal melakukan pertimbangan internal secara menyeluruh, khususnya terhadap prosedur operasional standar (SOP) dalam penyerahan bayi kepada orang tua.

“Ke depan, kami bakal melakukan pertimbangan dan pembinaan kembali kepada para perawat mengenai kepatuhan dalam melaksanakan SOP, terutama dalam proses penyerahan bayi kepada orang tuanya,” jelas Rachim.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan