Kartini dan Beban yang Belum Selesai

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Ilustrasi Hari Kartini. Sumber Freepik

SETIAP tahun tanggal 21 April, kita ramai berkebaya. Anak-anak SD berpotret dengan sanggul rapi. Kantor-kantor mengadakan lomba. Media sosial penuh dengan caption tentang semangat Kartini. Lalu tanggal 22 April, semua kembali seperti biasa.

Ini bukan kritik terhadap perayaan. Tapi ada pertanyaan nan lebih krusial dari soal pakaian: wanita Indonesia sekarang sebenarnya sudah bebas sejauh mana?

Kartini menulis surat-suratnya kepada Stella Zeehandelaar sejak usia tujuh belas tahun, dari kembali tembok pingitan di Jepara. Dalam surat tertanggal 25 Mei 1899, dia mengungkapkan angan nan terasa sederhana namun saat itu terasa mustahil: mau berkenalan dengan “seorang gadis modern, nan berani, nan dapat berdiri sendiri… nan selalu bekerja tidak hanya untuk kepentingan dan kebahagiaan dirinya sendiri saja, tetapi juga berjuang untuk masyarakat luas” (Kartini, Surat kepada Stella Zeehandelaar, 25 Mei 1899). Ia tidak sekadar mau maju sendiri. Ia mau perempuan-perempuan lain ikut maju bersamanya.

Kemarahan itulah nan paling jarang kita rayakan

Lebih dari seratus tahun kemudian, info bicara perihal nan menarik sekaligus menyedihkan.

Tingkat partisipasi angkatan kerja wanita Indonesia memang naik. Menurut Badan Pusat Statistik, angkanya mencapai 55,41 persen pada Februari 2024, naik dari 54,42 persen setahun sebelumnya (BPS, 2024). Perempuan sudah masuk universitas dalam jumlah besar. Ada wanita nan menjadi menteri, direktur, dokter, hakim.

Tapi di sisi lain, Survei Pengalaman Hidup Perempuan Nasional (SPHPN) 2024 nan diinisiasi Kementerian PPPA mencatat bahwa 1 dari 4 wanita Indonesia usia 15–64 tahun pernah mengalami kekerasan bentuk dan/atau seksual sepanjang hidupnya. Prevalensi kekerasan bentuk tercatat 7,2 persen dan kekerasan seksual 5,3 persen (KemenPPPA, 2024). Angka itu belum mencakup kekerasan nan tidak dilaporkan, nan kemungkinan besar jauh lebih banyak.

Komnas Perempuan dalam Catatan Tahunan (CATAHU) 2022 mencatat 338.496 kasus kekerasan berbasis kelamin terhadap wanita sepanjang 2021, meningkat 50 persen dibanding tahun sebelumnya (Komnas Perempuan, 2022). Lonjakan itu tidak berfaedah kekerasan tiba-tiba meledak. Sebagian disebabkan oleh naiknya keberanian melapor. Tapi nomor tetaplah angka.

Di tempat kerja, wanita tetap sering menghadapi pilihan nan tidak adil

International Labour Organization (ILO) berbareng Katadata Insight Center pada 2023 mengkaji beban dobel nan dihadapi wanita Indonesia: beban kerja produktif di luar rumah sekaligus beban kerja perawatan di dalam rumah. Survei nan menjangkau 2.217 responden itu mencatat bahwa 79,3 persen responden wanita menanggung beban dobel ini, sementara hanya 61,6 persen laki-laki nan mengakui istri alias kerabat perempuannya berada dalam kondisi nan sama (ILO & Katadata Insight Center, 2023). Ketidakseimbangan ini bukan kebetulan. Ia dibangun bertahun-tahun oleh ekspektasi sosial nan tidak pernah betul-betul dipertanyakan.

ILO juga memperkirakan bahwa investasi dalam jasa pengasuhan anak universal di Indonesia berpotensi menciptakan 10,4 juta lapangan kerja baru hingga 2035. Artinya, masalah ini bukan soal pilihan pribadi wanita semata. Ini soal prasarana sosial nan belum hadir.

Ada juga tekanan nan lebih halus, tapi tidak kalah berat

Harus elok tapi tidak terlalu menonjolkan penampilan. Harus ambisius tapi tidak boleh terlihat agresif. Harus pandai tapi jangan membikin orang lain merasa kecil. Harus baik sebagai ibu, istri, karyawan, dan anak, semua pada waktu bersamaan, tanpa mengeluh.

Kartini juga menghadapi jenis dari tekanan ini. Ia akhirnya menikah menjadi istri keempat Bupati Rembang, meski sebelumnya dia menentang pendapat poligami dengan keras dalam surat-suratnya. Ada nan menyebut ini kompromi. Tapi Kartini tidak berakhir setelah menikah. Ia tetap mendirikan sekolah. Ia tetap menulis sampai meninggal di usia 25 tahun.

Mungkin pelajaran nan lebih jujur dari hidupnya bukan bahwa dia sukses melepas semua belenggu. Tapi bahwa dia tetap bergerak meski belenggu itu ada.

Lalu apa artinya Hari Kartini hari ini?

Bukan seremoni bahwa kita sudah sampai di tujuan. Kita belum. Tapi juga bukan ratapan bahwa tidak ada nan berubah. Banyak nan sudah berubah, dan perubahan itu diraih dengan kerja keras banyak wanita nan namanya tidak kita ingat.

Hari Kartini semestinya menjadi momen untuk bertanya: wanita di sekitar kita, apakah mereka betul-betul punya ruang untuk tumbuh? Bukan sekadar ruang untuk bertahan.

Kebaya itu indah. Tapi Kartini tidak menulis surat-suratnya agar kita berakhir di kebaya.

Ia menulis agar kita terus bertanya.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan