Kapolri Listyo Sigit di Mata 'Devil's Advocate'

Sedang Trending 2 bulan yang lalu

Jakarta -

"Biografi Kebijakan," begitu Prof (Ris) Hermawan 'Kikiek' Sulistyo memposisikan karya terbarunya ini. Subjek utama pembahasannya adalah Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo (LSP). Namun dia tak menuliskannya seperti riwayat hidup pada umumnya nan condong linear dan naratif. "Saya gak bisa ngolor," tulis Kikiek nan memang dikenal ceplas-ceplos.

Ia membawa pembaca untuk memahami sosok LSP melalui keputusan-keputusan nan diambil ketika tekanan datang berlapis: politik, opini publik, hingga dinamika internal institusi. Memotret secara makro gagasan-gagasan dan langkah-langkah praksis kebijakan dari posisi filosofis, teori dan konsep.

Kikiek hanya melakukan clustering terhadap penjabaran nan dirinci dalam Program Presisi secara kritis. Ia lebih bertindak sebagai 'Devil's Advocate' alih-alih sekadar merangkainya menjadi puja-puji. Karena itu kitab ini tidak jatuh dalam glorifikasi. Tetapi mengakui kompleksitas medan nan dihadapi seorang Kapolri.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pengalamannya mendampingi enam Kapolri serta rekam jejak akademiknya, termasuk lewat karya seperti Democratic Policing, memberi berat tersendiri pada kajian nan ditawarkan.

Pada bagian awal, Kikiek menyelipkan bagian individual nan singkat namun signifikan: kedekatan LSP dengan olahraga judo. Ia meyakini disiplin bela diri ini turut membentuk ketahanan bentuk dan mental sang Kapolri.

Kesaksian Irjen Pol Krishna Murti tentang latihan bersama-termasuk kisah ekstrem saat Listyo Sigit membanting 60 pejudo Akademi Kepolisian-memberi sentuhan manusiawi, meski tetap tidak menjadi konsentrasi utama. Tak heran jika di internal kepolisian, LSP kerap diingat sebagai pejudo, bukan sekadar polisi.

Latar keluarga, pendidikan, serta lingkungan sosial-budaya Yogyakarta tempat LSP tumbuh hingga remaja juga disinggung sekilas. Semua itu membentuk sosok nan tegas namun tetap empatik, terukur tanpa kehilangan kelenturan. "Ia bisa memandang kekuasaan bukan sebagai hak, melainkan sebagai tanggung jawab moral," tulis Kikiek.

Dia dua bab terakhir dalam kitab ini Prof Kikiek mengupas empat kasus utama nan menjadi ujian terberat bagi LSP maupun lembaga kepolisian dan mengaitkannya dengan tagline Presisi LSP secara akademis. Keempat kasus pembunuhan oleh Kadiv Propam Irjen Ferdy Sambo terhadap ajudannya pada pertengahan 2022, Kanjuruhan (1 Oktober 2022), kasus narkoba oleh Kapolda Sumatera Barat Irjen Teddy Minahasa, dan kejadian kerusuhan Agustus 2025.

Keempat kasus tersebut menjadi semacam gempa tektonik nan menurunkan kepercayaan publik terhadap polri ke titik terendah dalam dua dasawarsa terakhir. Namun secara perlahan kepercayaan publik kembali bangkit ketika mereka memandang respons cepat, transparan, dan konsisten - bukan lantaran propaganda tapi ketulusan lembaga dalam mengakui kesalahan.

Ketika kerusuhan Agustus 2025 menghantam, tulis Kikiek, LSP tidak mencari kambing hitam lapangan, tetapi memerintahkan audit komando. Ia juga membentuk tim reformasi internal sebagai upaya memperkuat akuntabilitas dan profesionalisme lembaga nan dipimpinnya.

"Gaya kepemimpinan LSP nan tenang, rasional, dan empatik menciptakan ruang refleksi di tengah polarisasi public," tulis Kikiek.

Judul buku: Alter Ego Listyo Sigit Presisi Sebuah Biografi Kebijakan
Penulis: Hermawan Sulistyo
Penerbit: Pensil 324
Terbitan: 2026
Tebal: 246 halaman

(jat/whn)

Selengkapnya
Sumber Detik News
Detik News