Kantor Purbaya Ungkap Potensi 'Durian Runtuh RI' dari Krisis TimTeng

Sedang Trending 2 bulan yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah meyakini adanya akibat positif gejolak di Timur Tengah terhadap penerimaan negara berupa windfall keuntungan alias durian runtuh dari peningkatan nilai komoditas ekspor. Dengan adanya windfall keuntungan ini, rencana untuk menerapkan kebijakan bea keluar seperti batu bara untuk memacu penerimaan negara mencuat.

Sayangnya, Direktur Jenderal Direktorat Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kementerian Keuangan Febrio Nathan Kacaribu, belum bisa menjabarkan berapa potensi nilai windfall keuntungan dari ekspor sumber daya alam RI.

"Belum kan kita tetap sedang bahas, kelak jika sudah jelas menunya kita umumkan pasti dengan potensi penerimaannya berapa," kata Febrio, usai obrolan di Badan Komunikasi Pemerintah (BAKOM RI), Kamis (9/4/2026).

Febrio menjelaskan bahwa kenaikan penerimaan negara berasal dari naiknya harga-harga komoditas seperti batu bara, CPO, nikel, hingga tembaga. Meskipun tanpa adanya perubahan kebijakan nan dilakukan pemerintah.

Namun dengan memandang adanya potensi ini pemerintah berencana mengoptimalisasi tambahan penerimaan. Caranya dengan perubahan kebijakan, baik melalui peningkatan royalti maupun bea keluar.

"Nah itu nan kelak bakal kita sedang telaah dengan Kementerian ESDM, ada beragam mineral nan sedang kita lihat. Bisa bentuknya macam-macam, ada royalti, ada bea keluar, kelak bakal kita finalkan, kelak jika sudah final baru kita omongkan," katanya.

Salah satu nan sudah dipastikan adalah pengenaan bea keluar komoditas batubara berkisar antara 5% - 10%, nan bakal diterapkan pada bulan ini. Selain itu juga ada rencana pengenaan pada komoditas lain seperti nikel, meski belum mau dikonfirmasi oleh Febrio.

"Itu (nikel) juga dalam pertimbangan, kita sedang pertimbangkan semuanya dengan Kementerian ESDM," tuturnya.

Windfall Profit Berujung Windfall Tax

Ketua Komisi XI DPR RI dari Fraksi Partai Golkar, Mukhamad Misbakhun mengakui bahwa kenaikan nilai minyak juga berpotensi diimbangi oleh peningkatan nilai komoditas ekspor Indonesia.

Harga komoditas seperti batu bara, minyak kelapa sawit, nikel, hingga produk pertanian seperti karet dan kopi biasanya ikut naik saat nilai minyak mentah bumi meningkat.

Artinya, komoditas tersebut bakal mendapatkan tambahan untung dari lonjakan nilai minyak (windfall profit). Dengan kondisi itu, penerimaan negara dinilai tetap dapat terjaga.

Misbakhun juga mengusulkan penerapan windfall tax alias pajak tambahan satu kali terhadap pelaku upaya sumber daya alam nan mendapat untung besar dari kenaikan nilai komoditas.

Menurutnya, penerapan windfall tax dinilai ideal lantaran pengelola sumber daya alam tersebut, nan mendapatkan konsesi dari pemerintah, juga mendapatkan untung nan berlipat.

"Mereka berbagi beban di sini lantaran semua untung upaya nan diperoleh itu akomodasi negara. Penggunaan lahan hutan, penguasaan konsesi pertambangan, dan sebagainya," paparnya.

(haa/haa) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News