Kalsel Akui Kesulitan Tangani Lahan Gambut yang Terbakar 

Sedang Trending 1 hari yang lalu
Kalsel Akui Kesulitan Tangani Lahan Gambut nan Terbakar  Pemadaman karhutla nan membakar lahan gambut di Kalimantan Selatan (Kalsel)(MI/Denny Susanto)

KEBAKARAN rimba dan lahan (Karhutla) gambut di wilayah ring satu Bandara Internasional Syamsudin Noor, Banjarbaru, Kalimantan Selatan (Kalsel), Jumat (28/8), kembali mengganggu agenda penerbangan. Kepala BPBD Kalsel, Ronny Eka Saputra mengakui karhutla di Kalsel susah ditangani.

"Ada tujuh wilayah di Kalsel nan sudah menetapkan status siaga darurat karhutla dan kekeringan. Namun untuk kebakaran di area sekitar airport cukup susah ditangani, lantaran akses dan letak nan jauh dan karakter kebakaran lahan gambut susah dipadamkan," ungkap Ronny, Jumat (28/8).

Pemprov Kalsel, kata dia, telah mengerahkan semua sumber daya dan strategi penanganan karhutla melalui pembagian tiga area utama penanganan ialah area Guntung Damar dan Hutan Lindung Liang Anggang. Serta area Pengayuan Landasan Ulin nan tidak mempunyai sumber air, pemadaman mengandalkan pengerahan mobil tangki dan water bombing.

Pimpinan rombongan Komisi VIII DPR RI, Abdul Wachid, menegaskan bahwa penanganan karhutla di Kalsel memerlukan pendekatan teknologis nan berbeda daripada wilayah lain. Sifat lahan gambut nan menyimpan bara di bawah permukaan tanah menjadi hambatan utama pemadaman di lapangan.

"Kebakaran lahan gambut di Kalsel ini sangat spesifik. Di permukaan hanya terlihat asap, namun api sebenarnya membara di dalam tanah. Kunjungan ini konsentrasi mencari solusi teknologi penanganan, baik melalui metode peredaman maupun penyuntikan air," ujar Abdul Wachid.

Menurutnya, karhutla telah memicu masalah turunan seperti gangguan kesehatan masyarakat, krisis air bersih, dan kelangkaan pasokan air untuk armada pemadam.

"Tidak bisa ditangani oleh satu lembaga saja. Berdasarkan pengalaman pemulihan musibah Aceh, penanganan kudu melibatkan lintas komisi di DPR dan lintas kementerian," tambah Wachid.

Kunjungan rombongan Komisi VIII DPR RI ke Kalsel ini sempat terganggu dan berputar-putar di atas airport lantaran kabut asap.

"Tadi pesawat kami sempat berputar-putar, untung akhirnya bisa mendarat," kata Wachid.

Sementara itu, General Manager Bandara Syamsudin Noor, Banjarbaru Stephanus Millyas Wardana mengatakan selama Agustus 2026 telah terjadi empat kali delay pesawat lantaran kabut asap. "Jarak pandang memang tidak memungkinkan, sehingga penerbangan kudu ditunda ini sudah empat kali selama Agustus," ujarnya.

Pihaknya juga mempersilahkan Satgas untuk memanfaatkan dua embung di area airport untuk membantu pemadaman. Saat ini sumber air semakin menipis akibat kemarau. (H-4)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia