Kalam Salan(Dok YouTube/Parlemen Malaysia)
KEBAKARAN hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia nan memicu paparan kabut asap lintas pemisah (cross-border haze) kembali memicu gelombang kritik keras dari majelis parlemen Malaysia (Dewan Rakyat). Aksi terbaru Anggota Parlemen Sabak Bernam, Kalam Salan, menjadi sorotan viral setelah dia menegur Presiden Indonesia Prabowo Subianto menggunakan Bahasa Jawa dalam sidang Parlemen, Rabu (21/10).
Namun, Kalam Salan bukanlah legislator pertama di Dewan Rakyat nan mengeluhkan akibat polusi asap dari Indonesia. Gelombang protes dari para politisi Malaysia terpantau terus menguat secara berjenjang sepanjang Oktober 2026 seiring memburuknya kualitas udara di negara jiran tersebut.
Kalam Salan Sentil soal Oksigen dan Berpidato Bahasa Jawa
Dalam sidang pleno tersebut, Kalam Salan menumpahkan kekecewaannya atas kualitas udara nan kian memburuk, terutama di wilayah pesisir Selangor dan sekitarnya. Ia secara terbuka menyemprot narasi beberapa oknum pejabat Indonesia nan kerap berseloroh bahwa rimba Indonesia berjasa memberikan pasokan oksigen bagi Malaysia.
"Jangan jadikan rumor ini bahan lelucon dengan mengatakan rimba Indonesia menyuplai oksigen untuk Malaysia. Apakah pohon-pohon di Malaysia ini terbuat dari plastik sehingga tidak bisa menghasilkan oksigen?" ujar Kalam tegas di ruang sidang parlemen.
Guna menyampaikan pesan kemanusiaan secara lebih personal, Kalam kemudian meminta izin berbincang dalam Bahasa Jawa untuk menyapa Presiden RI Prabowo Subianto secara langsung.
"Assalamualaikum Pak Prabowo, pripun kabare? Paringi waras nggih... Pak, asap songko kobongan dasar kuwi nggawe wong Malaysia susah arep ambegan. Pak Prabowo, tulung masalah iki enggal ditangani... Kulo matur nuwun, Bapak Presiden."
Deretan Anggota Parlemen Malaysia nan Lebih Dulu Protes
Kritik Kalam Salan merupakan puncak dari rangkaian kecaman politisi Malaysia nan terakumulasi dalam sepekan terakhir. Sebelum pidato Kalam viral, sejumlah legislator senior telah menyuarakan dorongan diplomatik hingga ancaman jalur hukum:
- Lim Guan Eng (Bagan): Meminta Pemerintah Federal Malaysia mempertimbangkan langkah norma internasional serta menuntut tukar rugi finansial dari Indonesia atas akibat kesehatan dan ekonomi.
- Andrew Chen Kah Eng: Mendesak Indonesia untuk tidak meremehkan polusi lintas pemisah dan meminta maaf secara terbuka atas lumpuhnya aktivitas publik di Malaysia.
- Syed Saddiq Syed Abdul Rahman (Muar): Mendorong blok regional ASEAN mengambil sikap kolektif nan tegas untuk menekan Jakarta agar menindak konkret pelaku pembakaran lahan.
- Hassan Abdul Karim (Pasir Gudang): Menekankan perlunya kerja sama teknis nan transparan dan menyatakan kesiapan Malaysia untuk membantu tanpa halangan pamor diplomatik.
Eskalasi Krisis dan Respons Regional
Meningkatnya kecaman dari Parlemen Malaysia berbanding lurus dengan memburuknya Indeks Pencemaran Udara (API) di puluhan stasiun pemantau. Kabut asap Karhutla dilaporkan tidak hanya melumpuhkan sektor penerbangan dan pariwisata, tetapi juga meningkatkan kasus jangkitan saluran pernapasan (ISPA) bagi penduduk lokal maupun jutaan Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Malaysia.
Isu Karhutla lintas pemisah ini dijadwalkan masuk dalam agenda pembahasan intensif KTT ASEAN mendatang. Fokus utamanya adalah merumuskan kepatuhan norma lingkungan lintas negara guna mencegah krisis serupa berulang di masa depan. (E-4)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·