Kadin Pahami Alasan BI-Rate Ditahan, Penurunan Suku Bunga Tetap Diharapkan

Sedang Trending 2 jam yang lalu
Kadin Pahami Alasan BI-Rate Ditahan, Penurunan Suku Bunga Tetap Diharapkan Bank Indonesia.(MI/Rommy)

WAKIL Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Erwin Aksa menyebut dari sisi bumi usaha, keputusan Bank Indonesia mempertahankan suku kembang di 5,75% dapat dipahami dalam kondisi saat ini. Menurutnya, stabilitas rupiah memang kudu menjadi prioritas lantaran pelemahan nilai tukar juga langsung meningkatkan biaya bahan baku, peralatan modal, energi, serta tanggungjawab valas perusahaan.

Karena itu, pihaknya memandang BI sedang mencari keseimbangan antara menjaga stabilitas dan tidak menambah tekanan terhadap sektor riil. "Namun, dari perspektif pengusaha, tentu ruang penurunan suku kembang tetap diharapkan andaikan kondisi rupiah, inflasi, dan pasar finansial dunia sudah memungkinkan," ujar Erwin saat dihubungi, Rabu (19/8).

BI sendiri, lanjutnya, menempatkan stabilisasi rupiah dan inflasi sebagai konsentrasi kebijakan, sementara kebijakan makroprudensial diarahkan untuk mendorong angsuran ke sektor riil. nan perlu diperhatikan, kata Erwin, adalah akibat kumulatif suku kembang tinggi terhadap biaya pembiayaan. Apalagi sepanjang tahun ini BI-Rate sudah mengalami kenaikan nan cukup signifikan.

"Bagi perusahaan besar mungkin tetap tersedia pengganti pendanaan, tetapi bagi UMKM, sektor padat karya, properti, otomotif, manufaktur, dan perusahaan nan sedang melakukan ekspansi, cost of fund menjadi sangat menentukan," ungkapnya.

Menurut Erwin, persoalannya sekarang bukan hanya berapa BI-Rate, tetapi seberapa efektif transmisi kebijakan moneter ke kembang angsuran dan likuiditas sektor riil. Jangan sampai likuiditas tersedia di sistem perbankan tetapi tidak cukup mengalir ke aktivitas produktif lantaran bank terlalu berhati-hati alias biaya angsuran tetap tinggi.

Kadin menekankan tiga sejumlah catatan untuk kebijakan moneter saat ini. Pertama, BI perlu menjaga rupiah dengan instrumen nan lebih luas, sehingga beban stabilisasi tidak semata-mata ditanggung melalui suku bunga. Intervensi valas, DNDF/NDF, pengelolaan likuiditas, pendalaman pasar valas, hedging, dan peningkatan penggunaan Local Currency Transaction perlu terus diperkuat.

"Kedua, perlu diperkuat insentif likuiditas nan betul-betul diarahkan ke sektor produktif dan pembuat lapangan kerja. Jadi meskipun BI-Rate tetap 5,75%, sektor-sektor seperti manufaktur, ekspor, pertanian dan pangan, perumahan, UMKM serta industri padat karya tetap mendapatkan akses pembiayaan nan kompetitif," lanjutnya.

Ketiga, BI dinilai perlu memberikan forward guidance nan lebih jelas. Menurutnya, bumi upaya memerlukan kepastian mengenai kondisi seperti apa nan memungkinkan siklus penurunan suku kembang dimulai. Kepastian arah kebijakan sangat krusial lantaran keputusan investasi hari ini dihitung berasas biaya modal beberapa tahun ke depan.

“Kami memahami BI tetap kudu menjaga rupiah dan inflasi sehingga BI-Rate dipertahankan 5,75%. Tetapi bumi upaya berambisi fase suku kembang tinggi ini tidak berjalan terlalu lama. Begitu tekanan terhadap rupiah dan kondisi dunia mereda, ruang penurunan suku kembang perlu dimanfaatkan untuk mendorong kredit, investasi dan pembuatan lapangan kerja. nan terpenting, stabilitas moneter kudu melangkah berbareng pertumbuhan sektor riil, bukan mengorbankan salah satunya," pungkasnya. (Ifa/P-3)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia