Suasana Kota Samarinda di sekitar wilayah Jembatan Mahkota II, Palaran.(Dok Istimewa)
KABUT asap pekat tetap menyelimuti Kota Samarinda, Kalimantan Timur, hingga Kamis (17/9/2026) pagi. Kondisi ini muncul cukup sigap sejak Rabu (16/9/2026) siang, ketika asap awalnya terlihat tipis, namun perlahan semakin pekat hingga sore hari dan mulai mengganggu aktivitas masyarakat.
Dampak kabut asap apalagi dirasakan sektor penerbangan. Pada Rabu sore, pesawat Batik Air dari Jakarta dengan nomor penerbangan BTK 6676 nan dijadwalkan mendarat di Bandara Aji Pangeran Tumenggung (APT) Pranoto Samarinda sekitar pukul 16.55 WITA, kudu dialihkan alias divert ke Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan, Balikpapan.
Saat itu, jarak pandang di area airport dilaporkan turun hingga sekitar 1.000 meter sehingga kondisi dinilai belum memungkinkan untuk pendaratan.
Memasuki Kamis pagi, kondisi udara di Samarinda semakin menjadi perhatian. Data Stasiun Pemantauan Indeks Standar Pencemar Udara menunjukkan kualitas udara Kota Samarinda berada pada nomor 129, nan masuk kategori tidak sehat.
Data tersebut sejalan dengan pemantauan kualitas udara dari IQAir. Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Samarinda, Suwarso, mengatakan pada 16 September 2026 pukul 15.00 WITA, AQI Samarinda tercatat 108 dengan polutan utama PM2.5. Angka tersebut masuk kategori tidak sehat bagi golongan sensitif.
Menurut Suwarso, kondisi udara seperti ini berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan, mulai dari iritasi tenggorokan, batuk hingga sesak napas.
Karena itu, masyarakat diminta meningkatkan perlindungan diri selama kabut asap tetap menyelimuti kota.
“Wajib menggunakan masker, seperti masker N95 alias KF94. Masker ini mempunyai efisiensi filtrasi tinggi dan segel rapat di wajah. Masker juga perlu diganti secara berkala, sekitar 8 sampai 12 jam,” ungkap Suwarso.
Masyarakat nan berada di dalam rumah juga dianjurkan menutup rapat pintu dan jendela untuk meminimalkan masuknya udara dari luar. Aktivitas di luar ruangan juga diminta dikurangi andaikan tidak ada keperluan mendesak.
“Kalau memang tidak perlu alias urgent, kurangi aktivitas di luar rumah,” ujarnya.
Dampak memburuknya kualitas udara juga mulai menyentuh sektor pendidikan. Dinas Pendidikan Kota Samarinda telah menerapkan pembelajaran secara daring bagi siswa. Sekolah diminta tidak melaksanakan pembelajaran tatap muka dan mengalihkan aktivitas belajar dari rumah.
Kebijakan tersebut sejalan dengan imbauan Dinas Kesehatan Kota Samarinda nan meminta masyarakat, terutama anak-anak dan golongan rentan, mengurangi aktivitas di luar ruangan selama kualitas udara belum membaik.
Perguruan tinggi dan sekolah tinggi di Samarinda juga diimbau memantau perkembangan kualitas udara serta menyesuaikan aktivitas dengan kondisi lingkungan.
Suwarso menduga memburuknya kualitas udara Samarinda berangkaian dengan karhutla nan tetap terjadi di wilayah kota maupun sejumlah wilayah lain di Kalimantan.
“Kondisi saat ini selain lantaran tetap sering terjadi kebakaran lahan di Samarinda, juga diperparah dengan karhutla di sejumlah wilayah di Kalimantan,” tutupnya.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·