Kabut Asap Menggila, Singapura Tekan Perusahaan Sawit di Negeri Singa

Sedang Trending 1 hari yang lalu
Kabut Asap Menggila, Singapura Tekan Perusahaan Sawit di Negeri Singa Kebun kelapa sawit.(MI/Ramdani)

PRODUSEN minyak sawit First Resources menyatakan siap menerima inspeksi lapangan serta pemeriksaan arsip dan aspek teknis oleh pihak berkuasa mengenai kabut asap nan tetap berlangsung. Dalam pernyataannya pada Selasa (20/10), perusahaan menegaskan dukungannya terhadap proses pemeriksaan nan menyeluruh dan berbasis bukti.

Dalam laporan nan disampaikan kepada Bursa Efek Singapura, First Resources menyatakan percaya bahwa peninjauan secara objektif terhadap bukti nan tersedia bakal menunjukkan bahwa perusahaan tidak terlibat dalam pembukaan lahan menggunakan api, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Perusahaan menyebut sejumlah bukti nan dapat ditinjau, antara lain kronologi kemunculan titik panas dan perkembangan kebakaran berasas gambaran satelit, pengarsipan upaya penanganan serta pemadaman api, dan kajian spasial nan menunjukkan perlindungan terhadap area konservasi.

First Resources juga menanggapi pernyataan sejumlah pejabat Singapura mengenai kemungkinan penggunaan jalur norma dan peraturan terhadap perusahaan nan mengenai dengan kabut asap. 

Perusahaan menyatakan terbuka terhadap pemeriksaan dokumenter, teknis, maupun inspeksi langsung andaikan diperlukan untuk memberikan gambaran nan lebih jeli mengenai kondisi di lapangan.

Pernyataan tersebut disampaikan setelah Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong dan Menteri Senior K Shanmugam mengisyaratkan kemungkinan tindakan norma terhadap perusahaan nan bertanggung jawab atas kebakaran penyebab kabut asap.

Pekan lalu, Wong menyatakan Singapura bakal mengambil langkah berasas Undang-Undang Pencemaran Kabut Lintas Batas jika diperlukan. 

Setelah itu, Badan Lingkungan Hidup Nasional Singapura (NEA) mengeluarkan pemberitahuan pencegahan kabut kepada 10 perusahaan.

Pada Senin, Shanmugam menegaskan bahwa pemerintah Singapura bakal memanfaatkan beragam instrumen norma dan peraturan untuk menekan pihak-pihak nan dinilai bertanggung jawab, termasuk melalui aspek untung perusahaan dan akses terhadap pendanaan.

Shanmugam juga menanggapi pernyataan First Resources mengenai kebijakan tanpa pembakaran dan upaya pemadaman kebakaran. Menurutnya, klaim perusahaan kudu disertai bukti nan dapat diverifikasi.

"Kami bakal meminta kebenaran komplit dan kami bakal bertindak berasas kebenaran tersebut," katanya.

First Resources kembali membantah bertanggung jawab atas kabut asap nan terjadi. Perusahaan menyatakan telah lama menerapkan kebijakan nol pembakaran dan menjalankannya secara ketat di seluruh wilayah operasional. Mereka juga menegaskan komitmen terhadap transparansi dan akuntabilitas.

"Kami percaya bahwa setiap penilaian sumber kebakaran kudu didasarkan pada kebenaran nan terverifikasi, bukti ilmiah, dan pemahaman komprehensif tentang keadaan di lapangan," ujar perusahaan tersebut.

First Resources menambahkan bahwa pihaknya terbuka terhadap masukan konstruktif untuk memperkuat upaya berbareng dalam mencegah dan menangani kebakaran.

"Mengatasi tantangan kompleks kabut asap lintas pemisah memerlukan kerjasama berkepanjangan antara pemerintah, perusahaan, masyarakat setempat, dan pemangku kepentingan lainnya," kata First Resources.

Sementara itu, CNA telah menghubungi NEA untuk meminta keterangan mengenai kemungkinan tindak lanjut atas tawaran First Resources untuk menjalani inspeksi. Didirikan pada 1992, First Resources telah tercatat di Bursa Efek Singapura sejak 2007. Perusahaan tersebut mengelola lebih dari 200.000 hektare perkebunan kelapa sawit, termasuk di Sumatera Utara dan Kalimantan Barat.

Nama First Resources sebelumnya muncul dalam laporan Greenpeace pada 5 Oktober. Laporan tersebut mengaitkan perusahaan itu dengan sejumlah perusahaan nan mempunyai konsesi perkebunan nan dinilai berkontribusi terhadap kabut asap saat ini.

Menanggapi pertanyaan Bursa Efek Indonesia, First Resources pada akhir pekan lampau menyatakan bahwa kejadian kebakaran rimba dan lahan tidak memberikan akibat signifikan terhadap sasaran produksinya.

Di tengah sorotan tersebut, nilai saham First Resources di bursa Singapura telah turun lebih dari 10 persen sejak perusahaan itu disebut dalam laporan Greenpeace. Pada perdagangan Selasa (20/10), saham First Resources ditutup pada level S$3,74 per saham, setara dengan US$2,93. (CNA/Fer/P-3)
 

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia
↑