Kabut asap menyelimuti area permukiman di Kota Batam, Kepulauan Riau, Selasa (20/10), menyebabkan jarak pandang terbatas.(MI/HENDRI KREMER)
KABUT asap tetap menyelimuti Kota Batam, Kepulauan Riau, hingga Selasa (20/10/2026). Kondisi udara nan kabur ini memicu kewaspadaan masyarakat mengenai akibat kesehatan dan gangguan aktivitas sehari-hari, terutama bagi penduduk nan tinggal di wilayah pesisir.
Berdasarkan rilis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kelas I Hang Nadim Batam, cuaca di wilayah Kepulauan Riau secara umum berawan dengan udara kabur akibat sebaran asap kebakaran rimba dan lahan (karhutla). Meski terdapat potensi hujan dengan intensitas ringan hingga sedang, namun curah hujan nan belum merata membikin partikel asap tetap memperkuat di atmosfer.
Jarak Pandang Terbatas di Pelabuhan dan Bandara
Prakiraan BMKG menunjukkan kondisi udara kabur melanda sejumlah wilayah, termasuk Kecamatan Batu Ampar dan Sekupang. Di area Pelabuhan Batam Center, jarak pandang diprakirakan hanya sekitar empat kilometer. Kondisi serupa terpantau di Bandara Internasional Hang Nadim Batam, di mana jarak pandang mencapai lima kilometer pada siang hari dan diprediksi menurun hingga empat kilometer pada sore hingga malam hari.
Penurunan jarak pandang ini menjadi perhatian serius bagi nelayan tradisional dan pengguna transportasi laut. Masyarakat pesisir nan berjuntai pada aktivitas di perairan diimbau untuk lebih berhati-hati guna mengantisipasi akibat kecelakaan laut akibat terbatasnya visibilitas.
Kekhawatiran Warga terhadap Dampak Kesehatan
Rahman (45), seorang penduduk pesisir Batam, mengungkapkan kekhawatirannya saat kudu bekerja di luar ruangan. "Kalau keluar rumah, kami cemas juga dengan asap seperti ini. Kami berambisi segera turun hujan agar asapnya sigap lenyap lantaran kami perlu bekerja setiap hari," ujarnya.
Senada dengan Rahman, Dwi (38) sekarang lebih membatasi aktivitas anak-anaknya di luar rumah. Ia cemas paparan asap dapat memicu gangguan pernapasan pada buah hatinya. "Kalau asap tetap tebal, anak-anak kami batasi bermain di luar. Kami cemas mereka batuk alias sesak napas," katanya.
Secara medis, asap karhutla mengandung partikel lembut PM2.5 nan rawan lantaran dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan. Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita gangguan pernapasan mempunyai akibat lebih tinggi mengalami iritasi mata, tenggorokan, hingga memperburuk kondisi paru-paru.
Imbauan dan Pemantauan Cuaca
Hujan dan perubahan arah angin menjadi aspek kunci nan diharapkan dapat mengurangi konsentrasi asap di Batam. Namun, efektivitas hujan sangat berjuntai pada intensitas dan cakupan wilayahnya. Selama kondisi belum membaik, masyarakat diimbau untuk:
- Mengurangi aktivitas bentuk berat di luar ruangan.
- Menggunakan masker nan bisa menyaring partikel halus, seperti respirator N95, jika kudu beraktivitas di luar rumah.
- Memantau perkembangan kualitas udara dan cuaca secara berkala melalui kanal resmi BMKG.
Hingga saat ini, otoritas mengenai terus memantau arah angin dan titik api di wilayah sumber asap guna memitigasi akibat lebih lanjut bagi penduduk Batam dan sekitarnya. (H-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·