Joki Marak Janjikan SPT Pajak Nihil, Apa Sesulit Itu Gunakan Coretax?

Sedang Trending 2 bulan yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Fenomena penggunaan jasa 'joki' untuk pengisian SPT Tahunan melalui sistem Coretax kian marak di masyarakat. Tak sedikit penyedia jasa apalagi menjanjikan hasil pajak nihil untuk mempercepat pelaporan.

Konsultan Pajak dari Botax Consulting Indonesia, Raden Agus Suparman menilai maraknya kejadian ini dipicu oleh sejumlah hambatan dalam penerapan sistem Coretax itu sendiri.

Menurutnya, salah satu penyebab utama adalah tanggungjawab bagi seluruh wajib pajak untuk membikin akun baru di Coretax, meskipun sebelumnya telah mempunyai akun di DJP Online. Perpindahan ini seringkali tidak melangkah mulus. Bahkan bagi wajib pajak nan mengalami hambatan akses, prosesnya tidak selalu bisa diselesaikan secara daring.

"Namun, banyak sekali perpindahan akun wajib pajak tidak semulus tukar password. Untuk wajib pajak nan tetap ada hambatan masuk, tetap kudu datang ke instansi pajak," ujar Raden kepada CNBC Indonesia dikutip Kamis (9/4/2026).

Selain itu, kompleksitas blangko juga menjadi aspek nan mendorong wajib pajak mencari support pihak lain. Agus menjelaskan, sekarang hanya tersedia satu jenis blangko SPT Tahunan untuk wajib pajak orang pribadi di Coretax.

Padahal sebelumnya, terdapat beberapa jenis blangko dengan tingkat kompleksitas berbeda, seperti blangko 1770SS nan sangat sederhana, 1770S untuk tenaga kerja dengan bukti potong, serta 1770 untuk pelaporan nan lebih lengkap.

"Walaupun sudah terbiasa dengan 1770 polos, blangko SPT Tahunan di Coretax lebih rumit. Apalagi jika terbiasa dengan blangko 1770S nan lebih sederhana. Ada loncatan kerumitan nan kudu dipelajari oleh wajib pajak. Dan pengguna SPT 1770S sebenarnya nan paling banyak lapor dibandingkan dengan blangko lainnya," ujarnya.

Di sisi lain, Pengamat Pajak Center for Indonesia Taxation Analysis (CITA), Fajry Akbar menilai, kejadian penggunaan jasa joki tak lepas dari tingginya minat masyarakat untuk alim pajak nan belum diimbangi dengan kemudahan teknis pelaporan.

Menurutnya, persoalan teknis ini sudah menjadi halangan utama apalagi sebelum era Coretax. Berdasarkan survei nan pernah dilakukan, kebanyakan wajib pajak sebenarnya telah memahami pentingnya pajak dan tanggungjawab untuk melapor.

"Apalagi, sekarang dengan aplikasi nan baru, meski bagi praktisi semestinya pelaporan SPT OP harusnya lebih mudah, namun bagi orang awam itu menjadi sesuatu nan baru, mereka belum familiar dengan interface nan ada," ujar Fajry kepada CNBC Indonesia dikutip Kamis (9/4/2026).

Fajry pun menyoroti integrasi info pihak ketiga dalam sistem nan kerap memunculkan status kurang bayar, namun tidak selalu diiringi pemahaman wajib pajak untuk menindaklanjuti hall tersebut.

Tal hanya itu, tanggungjawab pelaporan nan semakin perincian khususnya mengenai kekayaan turut menambah kompleksitas.

"Bagi golongan masyarakat tertentu, pelaporan SPT OP menjadi lebih susah lantaran info mengenai kekayaan nan kudu dilaporkan secara perincian dibandingkan sebelumnya. Saya sendiri mengalami perihal itu. Harus cari waktu lebih untuk mengisi info itu," ujarnya.

Fajry menjelaskan bahwa kejadian penggunaan jasa joki sebenarnya bukan perihal baru dan juga terjadi di negara lain. Dirinya mencontohkan praktik di Amerika Serikat nan mengenal pekerjaan tax preparer.

Profesi ini bukan konsultan pajak, namun membantu wajib pajak untuk melakukan pengisian SPT.

"Syarat untuk menjadi "tax preparer" jauh lebih mudah dibandingkan seorang konsultan pajak, biayanya juga jauh lebih murah," ujarnya.

Meski demikian, pekerjaan ini perlu ada sertifikasi namun bukan sertifikasi konsultan pajak. Sertifikasinya jauh lebih mudah dibandingkan sertifikasi konsultan pajak.

(haa/haa) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News