Johan Rosihan Soroti Stok Beras Berlebih tapi Harga Naik

Sedang Trending 5 hari yang lalu

Jakarta -

Anggota Komisi IV DPR RI Fraksi PKS Johan Rosihan menyoroti kejadian kenaikan nilai beras di tengah tingginya produksi dan persediaan nasional. Persoalan pangan ini dinilai kudu ditelusuri secara jeli hingga struktur pasokan, penggilingan, dan distribusinya ke konsumen.

Johan menilai klaim stok beras tinggi tidak otomatis membikin pasokan di pasar menjadi lenggang dan nilai terjangkau.

"Kalau stok beras kita disebut sangat tinggi dan produksi nasional mencukupi, tetapi nilai nan dibayar masyarakat justru terus naik, berfaedah ada mata rantai pasar nan kudu kita bongkar," kata Johan pada keterangan tertulisnya, Rabu (9/9/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia menilai perkembangan nilai beras nan menunjukkan tekanan sudah terjadi sejak dari tingkat penggilingan. Kondisi ini krusial dicermati mengingat kenaikan nilai di hulu pasti bakal tertransmisi sepanjang rantai perdagangan. Beban kenaikan tersebut pada akhirnya bakal sepenuhnya ditanggung oleh konsumen.

Menurutnya, pemerintah perlu membedakan secara jelas antara produksi, stok fisik, dan pasokan nan betul-betul tersedia di pasar. Ketiga perihal tersebut tidak dapat begitu saja diperlakukan sebagai parameter nan sama.

"Standing crop misalnya, jangan serta-merta dipersepsikan sama dengan beras nan sudah berada di penyimpanan dan siap didistribusikan. Begitu pula stok nan berada di Bulog, rumah tangga maupun pelaku usaha. nan dibutuhkan rakyat adalah beras nan tersedia di tempat dan waktu nan tepat dengan nilai nan terjangkau," ujarnya.

Lebih lanjut, Politikus PKS ini menyoroti ketatnya persaingan memperoleh gabah setelah berakhirnya periode puncak panen. Ketika pasokan mulai berkurang, penggilingan swasta kudu bersaing mendapatkan bahan baku dengan Bulog nan tetap melakukan penyerapan. Kondisi persaingan tersebut berpotensi besar mendorong kenaikan nilai gabah dan biaya produksi beras.

Meski biaya produksi berpotensi naik, Johan menolak keras solusi pelemahan nilai gabah di tingkat petani. Kebijakan nilai pembelian pemerintah tetap absolut diperlukan guna memastikan petani memperoleh penghasilan layak.

"Jangan kemudian petani nan dikorbankan untuk mendapatkan beras murah. Negara kudu bisa menjaga dua kepentingan sekaligus, gabah petani dihargai layak tetapi beras juga sampai kepada konsumen dengan nilai terjangkau," tegasnya.

Oleh lantaran itu, pemerintah berbareng Bulog didesak membuka neraca beras secara lebih rinci alih-alih sekadar menyampaikan nomor agregat stok nasional. Data tersebut perlu memuat kejelasan letak stok, pihak penguasa, kualitas, volume rilis pasar, hingga pola pengedaran antarwilayah.

Johan juga meminta pemerintah memetakan pembentukan nilai secara utuh mulai dari petani, pengumpul, penggilingan, distributor, grosir, hingga pengecer. Pemetaan komprehensif ini bakal mengungkap titik mata rantai penyumbang lonjakan nilai dan margin terbesar.

"Jangan sampai kita merasa kondusif lantaran penyimpanan penuh, sementara rakyat membeli beras semakin mahal. Ukuran keberhasilan kebijakan pangan bukan sekadar berapa juta ton nan kita miliki, tetapi apakah beras itu berada di tempat nan tepat, pada waktu nan tepat, dan sampai kepada rakyat dengan nilai nan tepat," pungkas Johan.

Simak juga Video 'Zulkifli Hasan Sebut Impor Beras Bisa Bikin Petani Miskin':

(akd/ega)

Selengkapnya
Sumber Detik News
Detik News