Jakarta -
Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI, Jusuf Kalla (JK), menyoroti kekuatan pertahanan Iran di tengah memanasnya situasi geopolitik global. JK menilai Iran merupakan negara nan susah dikalahkan lantaran keunggulannya dalam penguasaan teknologi militer.
"Mungkin hari ini Iran diserang, tapi Iran bakal melawan. Karena perang sekarang bukan perang orang, perang teknologi. Siapa nan menguasai teknologi, dia nan menang," kata JK dalam kuliah umum di Universitas Indonesia (UI), Depok, Selasa (7/4/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
JK kemudian membandingkan kondisi Iran dengan Palestina. Menurutnya, aspek utama nan membikin suatu bangsa susah memperkuat dalam perang modern adalah kemandirian teknologi.
"Kenapa Palestina kalah? Karena teknologinya tidak ada. Kenapa Iran bertahan? Karena teknologi dia kuat. Di bawah gunung dia bikin terowongan, dia bikin (senjata). Di mana (asal) ahlinya? Dari universitas," tegasnya.
Lebih lanjut JK membahas akar kekuatan Iran nan berasal dari bangsa Persia. Ia menyebut bangsa Persia mempunyai sejarah panjang sebagai pusat pengetahuan pengetahuan dunia, mulai dari mahir matematika hingga kedokteran.
"Dalam sejarah Islam, ahli-ahli pengetahuan sains dan teknologi jaman abad ke-7 ke-8 itu lebih banyak dari Persia. Ahli matematika Al-Khwarizmi orang Persia, mahir kedokteran Ibnu Sina dari Persia, mahir astronomi juga Persia. Jadi memang Persia mempunyai spirit pengetahuan pengetahuan," tutur JK.
Tak hanya soal pengetahuan pengetahuan, JK menyebut mentalitas bangsa Iran terbentuk lantaran mereka mempunyai catatan sejarah nan berbeda dengan negara-negara Arab lainnya.
"Dia (Iran) tidak pernah dijajah. Negara Arab dijajah oleh Inggris dan Prancis, tapi Iran alias Persia tidak," imbuhnya.
Selain itu, JK turut menyoroti kekuatan militer Amerika Serikat (AS). Ia menilai AS sering kali memulai perang sebagai ancaman terhadap negara-negara lain, khususnya di Timur Tengah, untuk membeli senjata mereka.
"Amerika tidak pernah menang perang setelah Perang Dunia Kedua. Di Korea tidak bisa menang, di Vietnam lari terbirit-birit, di Afghanistan lari juga, di Irak juga begitu," kata JK.
Menurut JK, Iran menyadari bahwa AS lebih banyak menggunakan pengaruh ekonomi dan diplomasi senjata. Hal inilah nan membikin Iran tidak gentar menghadapi tekanan dari negara adikuasa tersebut.
"Seluruh negara Arab baru sadar bahwa Amerika itu hanya bentak saja agar bisa bantu macam-macam, akhirnya beli senjata sekian miliar dolar. Karena itu, jika Anda belajar hubungan internasional, Anda kudu tahu sejarah," pungkasnya.
Tonton juga video "JK Resmi Laporkan Rismon ke Bareskrim Usai Dituduh Danai Kasus Ijazah Jokowi"
(azh/azh)
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·