Naik Turun Harga Minyak Mentah Imbas Konflik Timur Tengah

Sedang Trending 38 menit yang lalu
Burung-burung terbang di dekat perahu di Selat Hormuz di tengah bentrok AS-Israel dengan Iran seperti terlihat dari Musandam, Oman, Senin (2/3/2026). Foto: Amr Alfiky/REUTERS

Konflik di Timur Tengah telah membikin nilai minyak mentah fluktuatif. Pekan ini, nilai minyak mentah bumi ditutup melemah 4 persen tapi menguat secara mingguan.

Angka tersebut merupakan info pada penutupan Jumat (24/7). Berdasarkan info Reuters, perjanjian berjangka Brent ditutup di level USD 96,78 per barel, turun USD 3,91 alias 3,88 persen setelah pada sesi sebelumnya ditutup di atas USD 100 per barel untuk pertama kalinya sejak Mei. Sementara itu, perjanjian berjangka West Texas Intermediate (WTI) ditutup pada USD 89,31 per barel, turun USD 2,88 alias 3,12 persen.

Meski turun, Brent tetap berada di jalur kenaikan nyaris 10 persen sepanjang pekan ini dan WTI tetap mencatat potensi kenaikan mingguan sebesar 8,27 persen.

Sepanjang pekan ini kedua nilai referensi tersebut memang menguat setelah AS dan Iran saling melancarkan serangan rudal, dan golongan Houthi di Yaman menyerang kapal-kapal nan melintas di Laut Merah. Di samping itu, lampau lintas kapal di Selat Hormuz juga menurun drastis.

Di tengah situasi tersebut, importir minyak China juga mempercepat pembelian minyak mentah ESPO dari Rusia. Berdasarkan laporan Bloomberg, sejumlah pelaku pasar, seluruh kargo minyak ESPO untuk pengiriman Agustus dari Terminal Kozmino di pesisir Pasifik Rusia telah lenyap terjual.

Bahkan, beberapa kargo untuk pengiriman September juga sudah beranjak tangan. Para pedagang menyebut laju transaksi jauh lebih sigap dibandingkan pola perdagangan normal. Hal itu juga membikin nilai minyak ESPO menguat.

Walau kualitas ESPO tak sepenuhnya sama dengan minyak mentah asal Timur Tengah, jenis minyak ringan dengan kadar sulfur rendah itu tetap diminati kilang-kilang di China lantaran harganya nan lebih murah dan bisa menghasilkan lebih banyak solar (diesel). Adapun sepanjang Juli, China telah mengimpor minyak mentah dari Rusia sekitar 1,4 juta barel per hari.

instagram embed

Tak Bahayakan APBN Meski Tembus USD 100 per Barel

Dengan perubahan nan ada di mana nilai minyak bumi berasas perjanjian Brent dan WTI nan kembali menembus level USD 100 per barel, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa memastikan perihal itu tetap dalam jangkauan dugaan APBN.

“Artinya sekarang, jika kembali lagi ke (harga di atas USD 100), ruangnya semakin terbatas aja, tapi nggak membahayakan APBN sendiri, kan sudah lantaran ini bukan keadaan baru, kan,” kata Purbaya.

Ia juga memastikan bahwa kenaikan nilai minyak tidak memengaruhi anggaran program stimulus nan telah disiapkan untuk semester II lantaran penyusunannya juga menggunakan dugaan nilai minyak sebesar USD 100 per barel.

“Cuma nan yang mau saya tambahin ke beberapa ke kementerian/lembaga maupun ke daerah, mungkin enggak seluas nan sebelumnya itu aja,” ujarnya.

Kondisi nilai minyak USD 100 per barel, menurut Purbaya, bukanlah situasi baru sehingga pemerintah bisa kembali menyesuaikan anggaran.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan