Jerman Sebut Indonesia Pilar Stabilitas ASEAN

Sedang Trending 4 hari yang lalu
Jerman Sebut Indonesia Pilar Stabilitas ASEAN Presiden Prabowo Subianto(Biro Pers Sekretariat Presiden)

PRESIDEN Republik Federal Jerman Frank-Walter Steinmeier menegaskan pentingnya Indonesia bagi Jerman di tengah meningkatnya ketidakpastian dan bentrok di beragam area dunia. Dalam kunjungan kenegaraannya ke Istana Merdeka, Senin (15/6), Steinmeier menyebut Indonesia sebagai aspek stabilitas nan semakin krusial di area Asia Tenggara.

Kunjungan kali ini merupakan nan keempat bagi Steinmeier ke Indonesia. Menurutnya, gelombang kunjungan tersebut mencerminkan sungguh strategisnya hubungan kedua negara nan telah terjalin selama puluhan tahun. "Jumlah kunjungan ini menunjukkan sungguh pentingnya hubungan dengan Indonesia bagi kami di Jerman," kata Steinmeier.

Ia menggambarkan bumi saat ini tengah menghadapi situasi nan sulit. Perang di Eropa, bentrok nan tetap berjalan di beragam kawasan, serta meningkatnya kekerasan dunia menjadi tantangan nan memerlukan kerja sama antarnegara nan semakin erat.

Dalam kondisi tersebut, Steinmeier menilai kemitraan Indonesia dan Jerman mempunyai makna nan lebih besar dari sekadar hubungan bilateral. Kedua negara, kata dia, sama-sama berkomitmen menjaga tatanan bumi nan berdasarkan patokan dan prinsip-prinsip internasional.

"Di dalam situasi dimana bumi terguncang oleh kekerasan di banyak area bumi nan makin meningkat, kemitraan seperti antara Jerman dengan Indonesia sangat berarti," ujarnya.

Menurut Steinmeier, fondasi hubungan kedua negara telah diperkuat sejak Deklarasi Jakarta pada 2012. Namun, potensi kerja sama tetap sangat luas untuk terus dikembangkan, mulai dari bagian iklim, pendidikan, penelitian, hingga kebudayaan.

Ia juga menyoroti semakin pentingnya keterkaitan antara area Eropa dan Indo-Pasifik. Bagi Jerman, perkembangan di Asia Pasifik tidak lagi bisa dipisahkan dari dinamika dunia nan memengaruhi Eropa.

Dalam konteks itu, Steinmeier memuji peran ASEAN sebagai pilar arsitektur keamanan kawasan. Indonesia, menurutnya, memegang posisi sentral dalam menjaga stabilitas regional.

"Indonesia merupakan aspek stabilitas krusial di dalam area ASEAN. Dan kami memandang bahwa Indonesia tidak hanya percaya bakal peran itu, tapi makin mengembangkan peran pentingnya ini," katanya.

Selain rumor geopolitik, pembahasan kedua pemimpin negara juga menyentuh kerja sama ekonomi. Steinmeier berambisi perundingan Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) nan telah berjalan lama dapat segera dituntaskan dan ditandatangani.

Menurut dia, perjanjian tersebut berpotensi menghapus hingga 90% halangan tarif perdagangan dan membuka kesempatan investasi baru antara Indonesia dan negara-negara Eropa.

Jerman, lanjutnya, merasa mempunyai tanggung jawab untuk mendukung proses ratifikasi agar faedah ekonomi dari perjanjian tersebut dapat segera dirasakan. Ia meyakini kesepakatan itu bakal mempererat kerja sama inovasi, memperluas investasi, serta membuka jalan bagi perusahaan mini dan menengah Jerman untuk masuk ke Indonesia.

Steinmeier menilai Indonesia bukan hanya pasar nan menarik, tetapi juga tujuan investasi nan menjanjikan. Hal itu tercermin dari kehadiran sejumlah perusahaan Jerman nan telah lama beraksi di Indonesia serta partisipasi delegasi upaya nan turut mendampinginya dalam kunjungan kali ini.

Ia menyebut sejumlah perusahaan Jerman telah menjadikan Indonesia sebagai bagian krusial dari pengembangan upaya mereka. Menurutnya, tren tersebut menunjukkan kepercayaan bumi upaya Jerman terhadap prospek ekonomi Indonesia.

Kerja sama di bagian daya juga menjadi perhatian utama. Steinmeier memandang transisi menuju daya terbarukan tidak mungkin dilakukan secara terpisah oleh masing-masing negara, terutama ketika bumi tetap menghadapi ketergantungan tinggi terhadap daya fosil.

Karena itu, dia meyakini tetap banyak kesempatan kerjasama nan dapat dibangun antara perusahaan Indonesia dan Jerman untuk mempercepat pengembangan daya bersih sekaligus memperkuat ketahanan energi.

Di luar agenda politik dan ekonomi, Steinmeier juga menyoroti nilai toleransi nan menurutnya menjadi salah satu kekuatan Indonesia. Usai pertemuan di Istana Merdeka, dia dijadwalkan mengunjungi Masjid Istiqlal dan meninjau Terowongan Silaturahmi nan menghubungkan masjid tersebut dengan Gereja Katedral Jakarta.

Berdasarkan pengalamannya pada kunjungan-kunjungan sebelumnya, Steinmeier menilai Indonesia sukses memelihara kerukunan antarumat berakidah dan menjadikannya sebagai nilai krusial dalam kehidupan berbangsa.

Presiden Jerman itu turut menyampaikan apresiasi atas sambutan nan diberikan pemerintah Indonesia serta optimisme bahwa hubungan kedua negara bakal semakin kuat di masa mendatang.

Ia berambisi beragam pembicaraan nan telah dilakukan berbareng Presiden Prabowo Subianto dapat terus bersambung dan menghasilkan kerja sama konkret nan menguntungkan kedua negara. (Mir/P-3)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia