Jerman Diajak Masuk ke Sektor Hilirisasi Indonesia

Sedang Trending 4 hari yang lalu
Jerman Diajak Masuk ke Sektor Hilirisasi Indonesia Presiden Prabowo Subianto (kiri) dan Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier (kanan)(Antara)

PRESIDEN Prabowo Subianto membujuk Jerman memperluas investasi di sejumlah sektor strategis Indonesia, mulai dari transisi energi, hilirisasi industri, kendaraan listrik, hingga pengembangan industri semikonduktor. Ajakan itu disampaikan saat menerima kunjungan kenegaraan Presiden Republik Federal Jerman Frank-Walter Steinmeier di Istana Merdeka, Senin (15/6).

Prabowo menilai kunjungan Steinmeier mempunyai makna krusial bagi kedua negara, tidak hanya lantaran mencerminkan eratnya hubungan bilateral, tetapi juga berjalan di tengah situasi dunia nan penuh ketidakpastian. "Penguatan dan keberlanjutan kemitraan Indonesia dan Jerman tentunya menjadi prioritas," kata Prabowo dalam konvensi pers bersama.

Menurut Prabowo, pertemuan tersebut membahas beragam agenda strategis, terutama penguatan kerja sama di bagian ekonomi, investasi, transisi energi, ketahanan energi, pendidikan, dan ketenagakerjaan. Kedua negara juga sepakat untuk terus meningkatkan perdagangan dan investasi nan saling menguntungkan.

Dalam kesempatan itu, Prabowo menegaskan pentingnya hubungan Indonesia dengan Eropa. Pemerintah Indonesia berambisi perundingan Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) dapat segera mencapai konklusi substantif dan memberikan faedah nyata bagi pelaku usaha.

Ia juga berambisi Jerman terus memainkan peran aktif dalam proses finalisasi perjanjian tersebut di tingkat Eropa. Menurutnya, support Jerman bakal membantu mempercepat terbukanya kesempatan ekonomi nan lebih luas bagi kedua pihak.

Selain melalui kerja sama perdagangan, hubungan ekonomi Indonesia dan Jerman juga diperkuat lewat program Competitiveness Industrial Modernization and Trade Acceleration (CITA). Pemerintah Indonesia memandang program tersebut dapat menjadi salah satu instrumen untuk mempererat kerjasama industri kedua negara.

Prabowo secara unik mengundang Jerman untuk mengambil bagian dalam pengembangan sektor-sektor strategis nasional. Selain transisi daya dan hilirisasi industri, Indonesia membuka kesempatan kerja sama dalam pengembangan kendaraan listrik dan industri semikonduktor nan tengah menjadi konsentrasi pembangunan. "Indonesia juga mengundang pihak Jerman untuk memperluas investasi di sektor-sektor nan krusial di Indonesia," ujarnya.

Tak hanya itu, pemerintah juga menawarkan keterlibatan Jerman dalam rantai pasok mineral kritis dan tanah jarang serta pembangunan beragam prasarana di Tanah Air. Indonesia juga menyambut baik program Partnering in Business with Germany nan ditujukan untuk mendukung pengembangan upaya mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Prabowo menambahkan, Indonesia bakal menjadi tuan rumah Joint Economic and Investment Committee kedua pada tahun ini sebagai upaya memperkuat kerja sama ekonomi nan lebih konkret.

Di bagian ketenagakerjaan, Indonesia mengapresiasi penandatanganan Letter of Intent mengenai Global Skills Partnership di sektor keperawatan. Pemerintah juga mau memperluas kesempatan kerja bagi tenaga kerja Indonesia di Jerman, termasuk pada sektor teknologi tinggi nan memerlukan tenaga terampil.

Selain rumor ekonomi, kedua pemimpin negara turut membahas situasi global. Prabowo dan Steinmeier sepakat bahwa beragam bentrok internasional kudu diselesaikan melalui jalur perundingan dan diplomasi guna menjaga stabilitas dunia.

Prabowo menilai Jerman mempunyai posisi krusial dalam menjaga perdamaian dunia dan memperkuat kerja sama internasional. Karena itu, dia berambisi Berlin dapat mengambil peran nan lebih besar di tingkat global.

"Saya sangat berkeyakinan bahwa Jerman kudu memainkan peran nan lebih aktif dan lebih krusial lantaran kami butuh kemitraan nan baik dengan Jerman dan dengan Eropa," kata Prabowo.

Kunjungan Steinmeier ke Indonesia juga menjadi momentum awal menuju peringatan 75 tahun hubungan diplomatik Indonesia dan Jerman nan bakal jatuh pada 2027. Kehadiran Steinmeier di Jakarta juga dipandang menjadi sinyal kuat bahwa hubungan kedua negara semakin strategis dan relevan untuk menghadapi tantangan dunia di masa depan. (Mir/P-3)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia