Pendaftaran Perlindungan Sosial (Perlinsos) Digital di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, mengalami pelonjakan nyaris 19 kali lipat dalam satu bulan setelah pemerintah melakukan pendekatan jemput bola kepada masyarakat. Hasil uji coba tersebut bakal menjadi bahan pertimbangan sebelum nantinya diperluas ke seluruh Indonesia.
Direktur Jenderal Teknologi Pemerintah Digital Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Mira Tayyiba, mengatakan jumlah family nan mendaftar meningkat dari sekitar 3.000 KK pada Juli menjadi lebih dari 61.000 KK pada awal Agustus 2026.
"Dalam satu bulan terakhir, pendaftaran itu naik 19 kali. Di awal bulan lalu, bulan Juli itu ada 3.183 ya. Dan di awal Agustus ini, tanggal 7 Agustus kemarin sudah 61.000," kata Mira dalam sambutannya pada aktivitas Kunjungan Jurnalistik Pelaksanaan Uji Coba Program Perlindungan Sosial Digital di Kantor Kalurahan Donoharjo, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Kamis (13/8).
Menurutnya, peningkatan tersebut tidak lepas dari strategi jemput bola nan dilakukan pemerintah wilayah berbareng para pemasok di lapangan.
"Jadi rupanya resepnya adalah jemput bola. Ini nan kami catat sebagai salah satu kunci keberhasilan untuk mempercepat pendaftaran," ujarnya.
Mira mengatakan pendekatan tersebut dilakukan melalui kerja pemerintah wilayah dan jejeran di lapangan. Menurutnya, penyelenggaraan di Sleman menjadi bagian dari pemantauan Komdigi terhadap uji coba Perlinsos Digital.
"Kami di sini, Pak Bupati, Komdigi ditunjuk sebagai koordinator wilayah 3. Jadi kami ada 21 wilayah, Pak, nan kami koordinasikan. Termasuk di Yogyakarta ada 5, termasuk Sleman. Sleman ini batch pertama, Pak," kata Mira.
Dia menjelaskan tim Komdigi ditugaskan memantau penyelenggaraan program, bukan hanya dari sisi teknologi, tetapi juga kondisi nan ditemukan ketika masyarakat menggunakan sistem tersebut.
"Jadi kami tugaskan tim di sini untuk memantau. nan kami pantau, Bu Menteri, bukan saja teknologinya, kesiapan sistem, tapi tadi kami berkesempatan mendapatkan insight nan berbobot dari Bapak-Bapak Kadis, nan kelak izin kami kiranya perlu, Bu, kita sampaikan ke Kementerian Sosial," ujarnya.
Sementara itu, Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid mengatakan uji coba Perlinsos Digital di Sleman tetap dalam proses penyempurnaan sistem sebelum nantinya diterapkan secara luas.
"Apakah ini sudah 100% sempurna? Pasti belum. Artinya ini piloting Bapak Ibu, terutama teman-teman media, dari sini kita dapat masukan lagi untuk menyempurnakan sampai 100% kemudian kita longgarkan alias luaskan sampai se-Indonesia," kata Meutya.
Ia menambahkan masukan dari penyelenggaraan piloting di Sleman bakal digunakan untuk menyempurnakan program sebelum diperluas ke wilayah lainnya.
"Jadi enggak hanya di Sleman kelak tapi di beragam daerah," ujarnya.
Dalam penyelenggaraan piloting tersebut, pemerintah tidak hanya menguji sistem digital, tetapi juga memandang apakah jasa tersebut betul-betul memberikan faedah kepada masyarakat.
"Yang paling utama adalah bukan masyarakat mengenali teknologinya seperti apa bekerjanya tapi layanannya terasa alias tidak di masyarakat," katanya.
Bupati Sleman, Harda Kiswaya mengatakan saat ini terdapat 76.315 Kepala Keluarga nan mendaftar Perlinsos Digital. Serta mengerahkan 2.862 pemasok ke seluruh wilayah Sleman untuk membantu masyarakat melakukan pendataan sekaligus mengikuti proses Perlinsos Digital.
"Alhamdulillah dalam penyelenggaraan uji coba Perlinsos digital di Kabupaten Sleman, sampai dengan saat ini tercatat 76.315 kepala family nan terdaftar, dengan support 2.862 pemasok nan tersebar di wilayah Kabupaten Sleman," kata Harda.
Ia menambahkan para pemasok tersebut melakukan pendampingan hingga tingkat kalurahan dan padukuhan untuk memastikan masyarakat dapat mengikuti proses digitalisasi perlindungan sosial.
"Para pemasok di Kabupaten Sleman secara aktif melakukan jemput bola di kalurahan dan padukuhan setiap hari melakukan pendataan sekaligus membantu masyarakat memahami dan mengikuti proses Perlinsos digital," ujarnya.
53 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·