Jembatan, Negara, dan Arti Kehadiran yang Nyata

Sedang Trending 1 hari yang lalu
Foto Jembatan Teluk Kendari (dokumen pribadi)

Setelah melangkah kaki sekitar satu separuh jam dari rumah, akhirnya saya sukses menyeberangi jembatan teluk itu. Bagi sebagian orang, menyeberangi sebuah jembatan mungkin hanyalah aktivitas biasa—sekadar beranjak dari satu titik ke titik lain. Namun bagi saya, pagi itu terasa berbeda. Ada semacam kepuasan individual nan susah dijelaskan, seolah saya sedang menuntaskan sebuah rasa penasaran nan sudah lama tersimpan.

Saya akhirnya betul-betul berada di ujung jembatan, di sebuah daratan nan selama ini hanya saya pandangi dari kejauhan saat melangkah pagi di pinggiran teluk. Dari tempat saya biasa berdiri, daratan itu tampak kecil—nyaris seperti garis tipis di cakrawala. Jarak membikin segala sesuatu terlihat sederhana. nan jauh selalu tampak kecil, tenang, dan mudah dipahami. Padahal ketika didekati, dia sering kali jauh lebih besar, lebih kompleks, dan lebih nyata dari gambaran kita.

Pagi itu, saya duduk beristirahat sembari memandangi lingkungan sekitar. Ada rasa kagum nan pelan-pelan tumbuh.

Dari dekat, jembatan itu tampak gagah. Bentangnya panjang, lebarnya lapang, tiang-tiang pancangnya menjulang dengan kesan kokoh dan megah. Sulit membayangkan berapa besar biaya nan dihabiskan negara untuk membangunnya. Mungkin ratusan miliar rupiah. nan berasal dari APBN. Namun justru saat memandang struktur raksasa itu dari dekat, saya menyadari bahwa nilai sebuah prasarana tidak semata diukur dari nomor anggaran, melainkan dari akibat nan dia ciptakan terhadap kehidupan manusia.

Jembatan ini bukan sekadar beton, baja, aspal, dan kabel-kabel penopang. Ia adalah penghubung. Dan penghubung, dalam peradaban manusia, selalu mempunyai makna nan lebih besar daripada corak fisiknya.

Infrastruktur dan Peradaban

Sejarah manusia pada dasarnya adalah sejarah tentang mengatasi keterpisahan. Kita membangun jalan lantaran tidak mau terisolasi. Kita membikin pelabuhan lantaran tidak mau terkurung. Kita mendirikan jembatan lantaran menolak tunduk pada batas-batas geografis.

Sebelum jembatan ini berdiri, teluk adalah pemisah. Laut nan bagus itu, meski memesona secara visual, dalam praktik keseharian juga menjadi penghalang. Masyarakat kudu naik perahu alias memutar jauh untuk mencapai letak nan secara geografis sebenarnya dekat. Waktu terbuang. Biaya bertambah. Energi terkuras.

Dengan hadirnya jembatan, jarak tidak lagi mempunyai kuasa nan sama.

Ekonom pemenang Nobel, Paul Krugman, pernah menjelaskan gimana prasarana transportasi menurunkan apa nan disebut economic friction—hambatan ekonomi nan muncul akibat biaya perpindahan barang, manusia, dan informasi. Dalam bahasa nan lebih sederhana: ketika akses membaik, produktivitas ikut meningkat.

Namun saya kira makna prasarana melampaui ekonomi.

Infrastruktur juga mengubah ilmu jiwa sosial.

Ketika suatu wilayah menjadi lebih mudah diakses, hubungan antarwarga ikut berubah. Mobilitas meningkat. Interaksi bertambah. Kesempatan tumbuh. Ada rasa bahwa bumi menjadi lebih dekat, lebih terbuka, dan lebih mungkin dijangkau.

Jembatan, dalam pengertian ini, adalah simbol perlawanan manusia terhadap keterpisahan.

Ia adalah pernyataan diam-diam bahwa keterbatasan geografis tidak kudu menjadi takdir.

Dari Atas Jembatan, Saya Melihat Kehidupan

Di bawah jembatan terdapat pelabuhan. Dari tempat saya berdiri, tampak kapal dan perahu nan sedang berlabuh. Beberapa perahu mini melintas perlahan, membelah permukaan air nan tenang.

Pemandangan pagi itu terasa begitu utuh.

Langit nan cerah, air teluk nan memantulkan cahaya, perahu-perahu nan bergerak pelan, dan lampau lintas kendaraan di atas jembatan membentuk semacam orkestrasi kehidupan. Semuanya bergerak dengan ritmenya masing-masing.

Ada sesuatu nan menarik ketika berdiri di tengah teluk, di atas jembatan itu.

Saya merasa seperti berada di antara dua dunia.

Di bawah, air mengalir mengikuti norma alam nan telah ada jauh sebelum manusia lahir. Di atas, kendaraan bergerak di atas bangunan hasil kepintaran manusia modern. Alam dan teknologi saling berhadapan, tetapi bukan untuk saling meniadakan. Keduanya justru menunjukkan satu hal: manusia tidak selalu menaklukkan alam dengan menghancurkannya; kadang manusia belajar bermusyawarah dengannya.

Jembatan adalah corak negosiasi itu.

Ia tidak mengeringkan teluk. Ia tidak meniadakan laut. Ia justru mencari langkah agar manusia tetap bisa hidup berdampingan dengan kondisi geografis nan ada.

Barangkali di situlah letak kehebatan rekayasa teknik.

Bukan pada ambisi menaklukkan bumi secara brutal, melainkan pada kepintaran membaca pemisah dan kemungkinan.

Negara nan Terasa, Bukan Sekadar Terdengar

Saat memandangi tiang pancang jembatan nan besar dan tinggi itu, saya tiba pada renungan nan lebih politis.

Belakangan ini, kata “negara” sering datang dalam corak nan abstrak. Ia muncul dalam pidato, debat televisi, semboyan kampanye, statistik pertumbuhan, alias perang narasi di media sosial. Negara menjadi sesuatu nan banyak dibicarakan, tetapi tidak selalu dirasakan.

Padahal bagi masyarakat biasa, ukuran paling konkret dari kehadiran negara sering kali sangat sederhana.

Bukan retorika.

Melainkan pengalaman sehari-hari.

Apakah jalan ke sekolah anak layak dilalui?

Apakah rumah sakit bisa dijangkau?

Apakah petani dapat membawa hasil panen ke pasar dengan biaya nan masuk akal?

Apakah waktu perjalanan masyarakat bisa dipersingkat?

Ilmuwan politik James C. Scott banyak menulis tentang gimana negara sering dipahami dari apa nan terlihat dan dapat diakses warga. Kehadiran negara menjadi berarti ketika kebijakan berubah menjadi pengalaman nyata.

Jembatan ini membikin saya memikirkan perihal itu.

Kadang masyarakat tidak memerlukan negara nan terlalu fasih berbicara.

Mereka memerlukan negara nan bekerja.

Negara nan datang bukan hanya dalam corak regulasi, tetapi dalam akomodasi publik nan bisa disentuh, digunakan, dan dirasakan manfaatnya.

Negara nan mempermudah hidup.

Negara nan mengurangi beban keseharian.

Negara nan membikin waktu penduduk tidak lenyap di jalan.

Dalam konteks itu, prasarana sesungguhnya adalah corak pelayanan publik nan sangat mendasar.

Ia mungkin tidak selalu spektakuler secara politik, tetapi dampaknya sering sangat besar dalam kehidupan warga.

Ikon Kota dan Hasrat Manusia untuk Mengabadikan

Tak mengherankan jika jembatan ini akhirnya menjadi ikon kota.

Banyak orang nan melintas berakhir sejenak untuk berfoto. Ada nan datang berbareng keluarga. Ada pasangan muda nan sibuk mencari perspektif terbaik. Ada pengendara nan berakhir hanya untuk merekam video singkat.

Saya pun melakukan perihal nan sama.

Saya mengambil foto.

Mungkin kelak foto itu berhujung di status media sosial.

Sebagian orang mungkin menganggap itu banal—sekadar kebutuhan eksistensi digital. Namun saya melihatnya sedikit berbeda.

Manusia selalu mau mengabadikan momen nan berarti.

Dulu lewat lukisan.

Lalu fotografi.

Kini lewat unggahan digital.

Intinya tetap sama: manusia mau berkata, aku pernah berada di sini.

Barangkali itu bukan sekadar narsisme.

Itu adalah kebutuhan eksistensial.

Kita mau meninggalkan jejak.

Kita mau memastikan bahwa pengalaman kita tidak lenyap begitu saja ditelan waktu.

Foto di atas jembatan, dalam pengertian sederhana, adalah arsip mini tentang hubungan manusia dengan ruang, waktu, dan ingatan.

Jembatan Sebagai Metafora Sosial

Saat hendak pulang, sebuah pikiran lain muncul.

Mungkin persoalan terbesar masyarakat modern bukan semata kekurangan jalan alias jembatan fisik.

Kadang nan lebih mengkhawatirkan justru hilangnya jembatan sosial.

Kita hidup di era ketika polarisasi makin tajam.

Kelompok sosial saling mencurigai.

Kelas ekonomi makin berjarak.

Pandangan politik sering berubah menjadi permusuhan.

Secara fisik, kita membangun lebih banyak konektivitas.

Namun secara sosial, kita justru kadang semakin terpecah.

Di titik ini, jembatan menjadi metafora nan kuat.

Membangun jembatan jauh lebih susah daripada membangun tembok.

Tembok lahir dari rasa takut.

Jembatan lahir dari keberanian untuk terhubung.

Tembok memisahkan.

Jembatan mempertemukan.

Barangkali pelajaran terbesar dari jembatan teluk nan saya seberangi pagi itu justru bukan tentang teknologi konstruksi, melainkan tentang filosofi keterhubungan.

Peradaban maju bukan hanya ketika manusia bisa mendirikan struktur raksasa dari beton dan baja. Peradaban maju juga ditentukan oleh keahlian manusia membangun hubungan—antara negara dan rakyat, antara pusat dan daerah, antara golongan nan berbeda, apalagi antara manusia dengan sesamanya.

Pada akhirnya, sebuah jembatan nan baik tidak hanya mempersingkat jarak geografis.

Ia juga memperpendek jarak psikologis.

Dan mungkin, di tengah bumi nan semakin bising oleh perpecahan, itulah prasarana nan paling kita butuhkan hari ini: bukan hanya jembatan nan menghubungkan daratan, tetapi jembatan nan menghubungkan kesadaran.

Sebab sebuah negara nan kuat bukan semata negara nan mempunyai gedung besar, melainkan negara nan bisa memastikan bahwa setiap pembangunan betul-betul menjembatani kehidupan warganya menuju masa depan nan lebih layak.

Ketika saya melangkah pulang, jembatan itu tetap berdiri megah di belakang saya.

Ia diam.

Ia tidak berbicara.

Namun justru dalam diamnya, dia mengatakan sesuatu nan penting: peradaban selalu tumbuh ketika manusia memilih untuk menghubungkan, bukan memisahkan.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan