Jembatan Lama Kediri: Dibangun Belanda, Bertahan jadi Saksi Kota

Sedang Trending 20 jam yang lalu
Jembatan Lama Kota Kediri jadi Saksi perjalanan kota nan hingga sekarang tetap berdiri kokoh di atas Sungai Brantas. (Foto. Dukumentasi Pribadi - W.S Nurbaiti)

Kediri tidak hanya meninggalkan sejarah di masa Kerajaan saja. Kalau Anda sedang liburan di momen akhir pekan ini dan kebetulan berada di Kota Kediri, coba sesekali berakhir di sekitar Sungai Brantas tak jauh dari Jembatan Brawijaya. Tidak jauh dari letak itu ada sebuah jembatan tua nan sudah berdiri lebih dari satu abad. Namanya Jembatan Lama.

Jembatan nan berada di Kecamatan Mojoroto ini membentang di atas Sungai Brantas dan menghubungkan wilayah barat dengan timur Kota Kediri. Sekilas mungkin hanya terlihat seperti jembatan tua biasa. Tapi jika tahu ceritanya, rasanya agak sayang jika hanya dilewati begitu saja.

Fyi, berasas sejumlah literatur Jembatan Lama Kota Kediri mulai dibangun pada 1853 dan baru selesai pada 11 Maret 1869. Setelah dilakukan uji coba pada 11-17 Maret, jembatan itu akhirnya diresmikan pada 18 Maret 1869. Artinya, jika dihitung sampai sekarang, usianya sudah lebih dari 157 tahun. Lumayan tua, bukan untuk sebuah jembatan nan tetap kokoh berdiri hingga sekarang?

Memiliki panjang sekitar 160 meter dan lebar 5,8 meter, jembatan ini bukan hanya menjadi penghubung dua sisi Sungai Brantas. Sejak awal berdiri, jembatan ini juga punya peran krusial dalam perjalanan Kota Kediri di era kolonial.

Bermula dari Jalan Raya, Hingga jadi Jalur Niaga

Pada masa kolonial Belanda, Jembatan Lama dikenal dengan nama Brug Over den Brantas te Kediri. Namanya memang panjang. Maklum, era Belanda mungkin belum kenal istilah nama nan singkat dan mudah diingat. Sejak dibangun pada 1869 sampai 1948, jembatan ini digunakan sebagai bagian dari Groote Postweg alias jalan raya. Jalurnya menjadi bagian krusial dari mobilitas masyarakat dan aktivitas kolonial di Kediri.

Palang Jembatan Lama Kota Kediri digunakan untuk menghalau kendaraan agar tidak melintas di gedung nan sekarang jadi cagar budaya. (Foto. Dukumentasi Pribadi - W.S Nurbaiti)

Setelah Indonesia merdeka, fungsinya terus berlanjut. Pada 1948 hingga 2019, Jembatan Lama menjadi salah satu jalur penghubung krusial bagi aktivitas perekonomian penduduk Kota Kediri. Jadi, selama puluhan tahun, orang dan beragam aktivitas ekonomi melewati jembatan nan sama ini.

Uniknya ada kebenaran menarik nan membikin Jembatan Lama tidak bisa dianggap sebagai jembatan tua biasa. Brug Over den Brantas te Kediri disebut sebagai jembatan dengan bangunan besi pertama di Pulau Jawa. Dimana kebenaran itu tercatat dalam kitab Nieuw Nederlandsch Biografisch Woordenboek sebagai jembatan dengan bangunan besi pertama di Jawa. Jembatan itu merupakan buah karya insinyur Sytze Westerbaan Muurling, seorang insinyur kelahiran Belanda nan lahir pada 29 November 1836 dan meninggal di Batavia pada 17 Oktober 1876.

Lebih Tua dari Brooklyn, Bukan Sekadar Jembatan

Bagian nan mungkin bikin saya sebagai orang Kediri sedikit mengangkat alis adalah soal usianya. Jembatan Lama Kota Kediri berdiri pada 1869. Sementara Jembatan Brooklyn di Amerika Serikat baru berdiri pada 1883. Artinya, Jembatan Lama Kota Kediri sudah berdiri lebih dulu. Bahkan, jembatan ini disebut sebagai salah satu jembatan suspensi tertua di dunia.

Matrial Kayu Jembatan Lama Kota Kediri tetap tetap di pertahankan meski beresiko sering terjadi kebakaran nan bermulai dari puntung rokok penduduk nan datang. (Foto. Dukumentasi Pribadi - W.S Nurbaiti)

Bayangkan saja. Ketika Jembatan Brooklyn belum berdiri, Jembatan Lama sudah lebih dulu membentang di atas Sungai Brantas. Sayangnya, kebenaran seperti ini mungkin tidak banyak diketahui akamsi di sini. Kita kadang lebih mudah mengenal gedung berhistoris di luar negeri daripada gedung tua nan setiap hari ada di kota sendiri.

Di sejumlah literatur Jembatan Lama Kota Kediri rupanya juga pernah menjadi bagian dari sebuah peristiwa kerajaan Eropa. Sebut saja pada Januari 1937, jembatan ini ikut menjadi saksi pernikahan Putri Juliana dari Belanda dengan Pangeran Bernhard. Saat itu, Jembatan Lama dihiasi beragam macam lampu hias dari ujung ke ujung sebagai bagian dari sambutan atas pernikahan agung kedua bangsawan tersebut.

Tua Usianya, Besar Jasanya

Setelah puluhan tahun menjadi jalur pendukung mobilitas masyarakat dan aktivitas ekonomi, Jembatan Lama Kota Kediri akhirnya tidak lagi digunakan sebagai jalur utama seperti sebelumnya. Namun berakhir digunakan bukan berfaedah berakhir bercerita. Pada 15 Maret 2019, Jembatan Lama ditetapkan sebagai cagar budaya melalui keputusan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala alias BP3 Trowulan.

Jembatan Lama Kota Kediri bersanding dengan Jembatan Brawijaya sebagi pengganti akses penduduk melintasi Sungai Brantas. (Foto. Dukumentasi Pribadi - W.S Nurbaiti)

Beberapa hari kemudian, tepatnya 18 Maret 2019, Wali Kota Kediri saat itu, juga menetapkan Jembatan Lama sebagai cagar budaya. Penetapan tersebut dilakukan berbarengan dengan peresmian Jembatan Brawijaya. Sejak saat itu, statusnya semakin jelas. Jembatan Lama Kota Kediri bukan lagi sekadar penghubung dua sisi sungai. Ia adalah bagian dari sejarah Kota Kediri.

Kalau memandang perjalanan Jembatan Lama, saya seperti memandang perjalanan Kota Kediri dari masa ke masa. Jembatan ini pernah menjadi bagian dari Groote Postweg. Pernah menjadi jalur krusial bagi aktivitas ekonomi. Pernah dihiasi lampu untuk menyambut pernikahan bangsawan Belanda. Pernah menjadi jalur utama masyarakat selama puluhan tahun. Hingga berhujung jadi gedung cagar budaya saat ini. Besinya mungkin sudah tua. Tapi cerita di baliknya jangan sampai ikut karatan dan pudar bagi warganya. Semoga.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan