Gelombang besar pasokan minyak nan sebelumnya tertahan di Selat Hormuz sekarang siap membanjiri pasar Asia. Berdasarkan info Signal Group nan dikutip dari Bloomberg pada Kamis (18/6), jumlah minyak mentah siap kirim mencapai 62 juta barel nan diangkut 31 kapal tanker raksasa (supertanker).
Sebelumnya kapal-kapal tersebut tertahan di Teluk Persia sejak perang Iran dan AS-Israel pada akhir Februari lalu. Kapal-kapal tersebut sekarang siap berlayar setelah jalur pelayaran internasional dibuka kembali.
Pembukaan jalur ini terjadi setelah adanya kesepakatan tenteram antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Secara logistik, pengiriman minyak mentah ini memerlukan waktu sekitar 1 pekan untuk mencapai India, alias sekitar 3 minggu untuk sampai ke area Asia Timur.
Namun, banjir minyak mentah ini dinilai datang di waktu nan kurang tepat bagi para pelaku industri. Sejumlah pelaku industri beranggapan kilang-kilang di Asia saat ini sebenarnya sudah mempunyai pasokan nan cukup hingga bulan depan.
Kondisi ini berbeda drastis dibandingkan fase awal perang ketika nilai melonjak dan pasar cemas terjadi kelangkaan besar-besaran. Saat itu, kilang-kilang minyak terpaksa mengunci pembelian dari wilayah nan jauh seperti dilakukan AS. Sedangkan Jepang saat itu mulai menggunakan persediaan daruratnya dan China condong menahan diri di pasar.
Di saat nan sama, produsen besar di Teluk Persia seperti Abu Dhabi National Oil Co. (ADNOC) dan Kuwait Petroleum Corp. tetap aktif memasarkan pasokan mereka dan sukses mengeluarkan sebagian stok melalui Selat Hormuz.
Saking besarnya volume minyak nan bakal datang, para pengelola kilang sekarang mulai mempertimbangkan untuk memasukkan minyak tersebut ke tangki penyimpanan alias terpaksa meningkatkan kembali pengolahan minyak mereka.
"Kami berasumsi ekspor dari Teluk Persia bakal kembali normal ke level sebelum perang pada akhir Juli," tulis analis dari Goldman Sachs Group Inc dalam catatannya.
Merespons situasi ini, para pelaku industri tampaknya mencoba menjual stok mereka secepat mungkin sebelum Selat Hormuz dibuka sepenuhnya, nan diprediksi bakal membikin nilai minyak jatuh lebih dalam lagi.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·