(MI/Seno)
PADA Jumat, 19 Juni 2026, di Jenewa, Swis, sebuah arsip bakal ditandatangani. Amerika Serikat dan Iran, dua negara nan sejak 28 Februari saling menghantam lewat rudal, blokade, dan proxy, sepakat untuk berakhir sejenak. Selat Hormuz bakal dibuka kembali. Blokade laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran bakal dicabut. Dunia bernapas lega.
Namun, jangan terlalu dalam menarik napas itu. nan ditandatangani di Jenewa bukan perdamaian. nan ditandatangani adalah kesepakatan, dan kesepakatan bisa berhujung dengan kegagalan.
TRUMP MUNDUR, IRAN TIDAK MENYERAH
Mari kita baca ini dengan jujur. Kesepakatan itu hanya memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari. Isu-isu paling krusial, program nuklir Iran, pencairan aset beku, masa depan Libanon, semuanya ditunda untuk negosiasi berikutnya. Siapa nan mundur lebih jauh?
Ingat gimana Trump memulai. Ia menuntut Iran tunduk total: hentikan pengayaan uranium, bubarkan proxy, buka selat tanpa syarat. Kini kesepakatan nan muncul membiarkan program rudal Iran tetap utuh, prasarana nuklir tidak disentuh, dan rezim tetap berdiri. Bahkan laporan menyebut AS bakal melepas sekitar US$12 miliar aset kaku Iran sebagai bagian dari paket pembuka.
Iran berkompetisi melawan dua kekuatan bersenjata paling canggih di dunia, Amerika dan Israel, di setiap lini: udara, laut, proxy, siber, opini dunia. Sejak 28 Februari, Iran menutup Selat Hormuz dan menahan sekitar 20% pasokan minyak bumi sebagai kartu tekanan. Itu bukan senjata lemah dan Iran tidak menyerahkannya tanpa imbalan.
60 HARI YANG PALING BERBAHAYA
Namun, justru di sinilah letak bahayanya. Bahkan setelah MoU ditandatangani, Iran dan AS punya pembacaan berbeda tentang apa nan disepakati. Wakil Menlu Iran menyatakan negosiasi nuklir 60 hari baru bakal dimulai setelah AS mencairkan biaya beku. Pihak AS menolak klaim itu. Dua pihak menandatangani arsip nan sama, tapi membacanya dengan langkah berbeda. Itu bukan fondasi perdamaian; itu resep untuk krisis berikutnya.
Enam puluh hari ke depan adalah labirin. Di dalamnya: seberapa jauh Iran bersedia membuka program nuklir mereka, berapa nilai nan AS siap bayar, dan, nan paling penting, apakah Israel bakal membiarkan semuanya berjalan.
ISRAEL, SEKUTU YANG MULAI BERGERAK SENDIRI
Di sinilah variabel paling tidak terduga dalam persamaan ini.
Reaksi resmi pertama Israel datang dari Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir, nan menyatakan kesepakatan Trump 'tidak mengikat kami' dan Israel 'bukan pihak dalam perjanjian ini'. Netanyahu menegaskan bahwa 'dengan perjanjian maupun tanpa perjanjian', dia bakal terus berjuang mencegah Iran memperoleh senjata nuklir.
Ini bukan sekadar drama politik domestik. Israel tetap melanjutkan operasinya di Libanon, tempat Hizbullah, sekutu Iran, bertempur. Iran sendiri mensyaratkan perlindungan atas Hizbullah dalam setiap gencatan senjata nan melibatkan diri mereka. Artinya: satu serangan Israel di Libanon nan salah hitung bisa meruntuhkan seluruh gedung kesepakatan Jenewa sebelum tintanya kering.
Trump apalagi secara terbuka menyebut Netanyahu sebagai 'orang nan sangat sulit' dalam wawancara pers, setelah serangkaian serangan Israel nan terus bersambung meski negosiasi sedang berjalan. Retakan di antara dua sekutu lama itu sekarang terlihat jelas di bawah sinar Jenewa. Pertanyaannya bukan hanya apakah Iran bakal menghormati kesepakatan itu. Pertanyaan nan lebih mendesak: apakah Israel bakal membiarkannya hidup?
INDONESIA DI ANTARA PELUANG DAN KEWASPADAAN
Bagi Indonesia, buletin Jenewa terasa seperti buletin baik. Harga minyak mentah brent langsung merosot lebih dari 4% setelah berita damai. Semasa bentrok berlangsung, rupiah sempat menembus 18 ribu per US$, nan belum pernah terjadi dalam sejarah modern Indonesia. Stabilisasi Selat Hormuz berfaedah stabilisasi rantai pasok energi, tekanan inflasi mereda, dan ruang fiskal APBN kembali bernapas. Namun, Indonesia tidak boleh berakhir di kajian ekonomi semata.
Selama bentrok ini, Indonesia memilih sikap nan konsisten: mendesak gencatan senjata, menolak kekerasan, dan mendukung diplomasi. Sikap itu tetap relevan, tetapi kewaspadaan tidak boleh surut. Keberhasilan alias kegagalan negosiasi 60 hari ke depan bakal menentukan apakah stabilitas nan tercipta hari ini menjadi awal perdamaian alias sekadar jarak sebelum eskalasi berikutnya.
BUKAN AKHIR, MELAINKAN UJIAN
Jenewa bukan titik akhir. Jenewa adalah ujian pertama dari rangkaian ujian nan jauh lebih berat. Iran menegaskan ini baru 'langkah awal' dan perjanjian final belum tercapai. Benar. nan tersisa adalah pertanyaan-pertanyaan nan paling keras: Apakah Iran betul-betul bersedia membatasi program nuklir mereka secara permanen? Apakah Trump, nan menghadapi midterm November, punya cukup waktu dan kemauan politik untuk menyelesaikan perundingan 60 hari? Apakah Israel bakal memilih menjadi bagian dari solusi alias tetap menjadi variabel nan bisa menghancurkan semuanya?
Perdamaian nan rentan bisa runtuh lebih sigap daripada nan kita kira. Selat Hormuz mungkin bakal terbuka Jumat ini. Namun, pintu menuju perang berikutnya belum tertutup.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·