Kementerian Haji dan Umrah menyampaikan perkembangan jelang ibadah haji 2026. Kemenhaj menuturkan, persiapan haji nyaris rampung.
Seluruh arsip utama jemaah mulai dari visa dan kartu Nusuk, telah tersedia.
Menteri Haji dan Umrah, Mochamad Irfan Yusuf, mengatakan kesiapan teknis penyelenggaraan haji saat ini sudah mendekati sempurna.
“Persiapan alhamdulillah jika tidak bisa dikatakan 100 persen, ya saya katakan nyaris 100 persen. Semua sudah kita siapkan,” ujar Gus Irfan dalam bertemu pers di Kantor Kemenhaj, Jakarta Pusat, Rabu (15/4).
Ia menjelaskan, seluruh visa jemaah haji Indonesia telah terbit. Selain itu, kartu Nusuk nan menjadi identitas sekaligus akses jasa jemaah selama di Arab Saudi sudah berada di Indonesia.
“Visa sudah keluar semua, kartu Nusuk sudah di Indonesia semua,” kata Gus Irfan.
Meski demikian, dia mengungkapkan tetap ada hambatan teknis pada pengedaran kartu Nusuk milik salah satu penyedia jasa (syarikah) nan tertahan di Bea Cukai.
Pemerintah, katanya, berupaya membantu penyelesaiannya agar tidak mengganggu proses keberangkatan jemaah.
“Ada satu syarikah nan tetap terkendala kartu Nusuknya tertahan di Bea Cukai, tapi sudah di Indonesia. Kita bakal coba bantu lantaran jika itu tidak keluar, bakal berpengaruh,” jelasnya.
Keberangkatan jemaah haji Indonesia dijadwalkan mulai 22 April hingga 21 Mei 2026. Proses pemulangan bakal dimulai 1 Juni hingga 1 Juli 2026.
Kemenhaj Bentuk Satgas Haji, Cegah Jemaah Berangkat Tanpa Visa
Kementerian Haji dan Umrah menyusun Satuan Tugas (Satgas) Haji berbareng Polri untuk mengantisipasi beragam persoalan dalam penyelenggaraan ibadah haji 2026. Termasuk praktik keberangkatan jemaah tanpa visa haji.
Menteri Haji dan Umrah, Mochamad Irfan Yusuf, menjelaskan pembentukan Satgas Haji ini bakal melibatkan sejumlah pihak, termasuk Kepolisian dan jejeran imigrasi.
Langkah ini diambil sebagai respons atas temuan tahun sebelumnya, di mana tetap ada penduduk negara Indonesia nan berangkat ke Arab Saudi tanpa menggunakan visa haji resmi.
“Karena itu kita bakal mengupayakan gimana pertama mengedukasi mereka agar tidak berangkat tanpa menggunakan visa haji. nan kedua, juga bakal diletakkan upaya-upaya nan bisa membantu mereka di bandara,” kata Gus Irfan dalam bertemu pers usai pertemuan dengan Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, Agus Andrianto, di Kantor Kemenhaj, Jakarta Pusat, Rabu (15/4).
Menurutnya, pendekatan edukasi menjadi kunci utama untuk mencegah kejadian serupa terulang.
Pemerintah berambisi kesadaran masyarakat meningkat agar tidak nekat berangkat tanpa arsip resmi, nan berpotensi membikin mereka telantar di Arab Saudi.
Politikus Gerindra ini menegaskan, kebijakan Pemerintah Arab Saudi saat ini hanya mengizinkan masuk bagi pemegang visa haji.
Oleh lantaran itu, penduduk nan tidak mempunyai visa resmi diminta untuk tidak memaksakan diri berangkat.
“Kita mengharapkan jangan sampai penduduk negara kita kelak telantar di sana lantaran kebijakan Arab Saudi ini memang tidak mengizinkan selain pemegang visa haji,” kata Gus Irfan.
Kemenimipas Dukung Penyelenggaraan Haji 2026
Sementara Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, Agus Andrianto, memastikan pihaknya siap mendukung penyelenggaraan ibadah haji tahun ini, termasuk dalam Satgas Haji nan bakal dibentuk.
“Untuk memberikan kelancaran termasuk kesiapan kami dalam mendukung gugus tugas tadi nan bakal beliau bentuk, sekaligus kami bakal kirimkan tambahan petugas untuk mendukung pelayanan selama proses aktivitas haji nan dilaksanakan tahun ini,” kata Agus.
Ia mengungkapkan, Direktorat Jenderal Imigrasi telah membantu percepatan publikasi paspor bagi jemaah haji, termasuk dengan membuka jasa tambahan pada akhir pekan.
“Beberapa saat nan lampau memang ada deadline nan dipercepat, kami juga mendukung sehingga proses publikasi paspor kepada jemaah haji kita melangkah dengan lancar,” kata Agus.
Jemaah Haji Tertua di DIY 102 Tahun, Termuda 14 Tahun
Sebanyak 3.830 jemaah calon haji di Yogyakarta bakal berangkat tahun ini, Rabu (15/4). Jemaah tertua berumur 102 tahun 3 bulan dan jemaah termuda berumur 14 tahun 2 bulan.
"Jemaah termuda atas nama Vania Ulayya umurnya 14 tahun 2 bulan. Pekerjaan pelajar, kloter 09 YIA. Keterangan penggantian alias pelimpahan porsi haji orang tua nan meninggal," kata Plt Kepala Kanwil Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) DIY, Jauhar Mustofa, saat Pamitan Jemaah Haji DIY di Kompleks Kepatihan Pemda DIY, Rabu (15/4).
Sementara jemaah tertua atas nama Mardijiyono Karto Sentono nan juga berasal dari Kabupaten Bantul.
"Umur 102 tahun lebih 3 bulan," katanya.
Pada tahun ini, Jauhar mengatakan terdapat lima jemaah nan usianya di atas 91 tahun.
"Usia 91 sampai 105 tahun ada lima jemaah," katanya.
Berdasarkan jenis kelamin, jemaah laki-laki berjumlah 1.757 orang, sementara jemaah wanita berjumlah 2.090 orang.
Jemaah haji di DIY terbagi dalam 11 kloter. Sebanyak 10 kloter masuk gelombang 1 nan bakal langsung mendarat di airport di Madinah. Kloter pertama bakal terbang pada 21 April pukul 23.40 WIB.
Sementara satu kloter campuran dengan Jawa Tengah masuk dalam gelombang 2 nan bakal mendarat di Jeddah.
Semua jemaah haji dari DIY bakal diberangkatkan dari embarkasi baru, ialah Embarkasi Yogyakarta International Airport (YIA), satu-satunya embarkasi nan berbasis hotel di Indonesia.
"Jadi jika hotel kan memang tidak didesain untuk pondok haji, untuk embarkasi. Maka kemudian kita mengadakan simulasi sampai dua kali kemarin dan juga hal-hal teknis nan lain kita menyusun SOP, alur, flow agar hotel nan kita tunjuk sebagai embarkasi bisa kita gunakan untuk jasa embarkasi," katanya.
Satu hotel, ialah Hotel Ibis YIA, disterilkan untuk jemaah haji. Kemudian Hotel Novotel digunakan untuk pendukung instansi Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH).
"Ibis kita sterilkan dari bumi luar. Hanya untuk jemaah haji maupun satgas," katanya.
Kisah Pasutri Pedagang Gorengan di Kudus Pergi Haji dari Menabung 13 Tahun
Perjuangan suami istri (pasutri) pedagang gorengan di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, Suriyah (55) dan Yanto (60), untuk berangkat haji begitu panjang. Keduanya menabung selama 13 tahun hingga mendapatkan panggilan ke Tanah Suci tahun ini.
Suriyah dan suaminya, Yanto, sehari-hari berbisnis gorengan. Mereka berbagi tugas. Suriyah bekerja membikin gorengan di warung, sedangkan Yanto bekerja ke pasar untuk membeli sayuran dan kebutuhan warung.
Keduanya merupakan penduduk Desa Kesambi, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Pasangan suami istri itu tergabung dalam Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) Arwaniyyah.
Keduanya mendaftar haji pada 2013. Mereka tergabung dalam embarkasi Solo kloter 41.
Rencananya, mereka diberangkatkan dari Pendapa Kabupaten Kudus pada Senin (4/5) pukul 10.00 WIB. Selanjutnya, kloter 41 dijadwalkan tiba di Asrama Haji Donohudan pukul 10.00 WIB.
"Kami berdua menabung selama 13 tahun sejak 2013. Keinginan untuk berangkat haji sudah lama, kemudian kami antusias untuk menabung sampai akhirnya alhamdulillah terwujud," kata Suriyah saat ditemui kumparan, Rabu (15/4).
Suriyah menjelaskan, setiap hari dia menabung di sebuah kaleng. Nominalnya bervariasi, mulai dari Rp 5 ribu, Rp 10 ribu, hingga Rp 20 ribu.
"Kalau tabungan di kaleng sudah penuh, uangnya saya pindah ke bank. Kemudian, saya menabung lagi di kaleng, begitu seterusnya sampai terkumpul dan lunas," terangnya.
Selembar demi selembar duit nan ditabung keduanya merupakan hasil dari berdagang gorengan. Setiap hari, Suriyah menjual gorengan seperti bakwan, mendoan, pisang goreng, getuk, telo goreng, tahu sayur, dan tahu bakso. Satu gorengan dijual seharga Rp 1 ribu. Warungnya buka setiap hari pukul 06.00 WIB hingga 13.00 WIB.
"Sebagian hasil jualan saya tabung di kaleng dan tabungan itu unik untuk bayar biaya haji," ujarnya.
Ia mengaku tidak pernah tidakhadir menabung setiap hari. Semuanya demi satu tujuan, ialah dapat beragama ke Tanah Suci.
Suriyah dan suaminya, Yanto, mengaku tetap tidak percaya kemauan mereka berhaji betul-betul terwujud. Bahkan, saat pelunasan biaya haji, keduanya masing-masing hanya menambah Rp 2.250.000. Sisanya sudah terbayar lewat tabungan di kaleng.
"Teman-teman haji nan lain itu menambah lumayan banyak saat pelunasan. Sampai petugas nan mengurus manajemen pelunasan bilang kepada kami jika sisa pelunasan hanya Rp 4,5 juta untuk dua orang, tergolong sedikit," ujarnya sembari menahan haru.
Cerita Para Calon Haji Muda dari Yogya: Daftar Sejak SD-Gantikan Ayah Meninggal
Raut wajah senang terpancar dari wajah Ashila Metta (23 tahun) saat aktivitas Pamitan Jemaah Haji DIY di Kompleks Kepatihan Pemda DIY, Rabu (15/4). Metta berangkat haji di usia nan tetap muda.
"Kalau daftar, alhamdulillah didaftarin orang tua di waktu SD sekitar umur 12 tahun. Waktu kelas 6," kata wanita asal Kota Yogyakarta, Rabu (15/4).
Sekitar 15 tahun berselang sejak pertama kali mendaftar, akhirnya tahun ini dia berangkat haji berbareng sang ibu nan berumur 53 tahun.
"Dari awal daftarnya sama ibu. Kalau ayah rencananya insyaallah tetap nunggu agenda sama adik," katanya.
Sejumlah persiapan sudah dilakukan Metta, mulai dari busana nan diperlukan hingga persiapan bentuk dan mental.
Berhaji di usia muda merupakan suatu kebahagiaan bagi Metta.
"Sedikit pressure lantaran mendampingi orang tua juga. Jadi penginnya bisa konsentrasi ibadah buat diri sendiri tetapi juga bisa membersamai senior-senior nan lebih tua dari kami semoga bisa saling membantu dan bekerja sama dengan baik," katanya.
Gantikan Ayah nan Meninggal Dunia
Kisah lain datang dari Septia Qoiriah (23 tahun), asal Kabupaten Sleman. Dia berangkat haji menggantikan ayahnya nan meninggal bumi lima tahun lalu.
"Pertama kaget nggak nyangka di umur segini kita bisa menjalankan ibadah haji. Alhamdulillah itu semua panggilan dari Allah. Jadi sebisa mungkin memaksimalkan," kata Septia.
"Kalau saya bapak sudah meninggal terus menggantikan bapak," katanya.
Pada ibadah haji tahun ini, Septia juga mendampingi ibunya nan berhaji. "Persiapan jaga kesehatan nan pasti," katanya.
Soal kondisi Timur Tengah nan tengah memanas, Septia mengaku sempat kaget. "Namun lantaran ini panggilan nan dijalani saja," pungkasnya.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·