Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memetakan sejumlah sumber gas bumi baru di Jawa Timur untuk mengatasi defisit pasokan gas di wilayah Jawa Tengah-Jawa Timur. Hal itu juga untuk menjamin kesiapan pasokan gas bumi untuk Pipa Transmisi Gas Bumi Cirebon-Semarang (Cisem) Tahap I dan II nan sudah rampung dibangun.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman menjelaskan bahwa terdapat beberapa lapangan migas baru nan bisa berpotensi menambah produksi gas bumi untuk wilayah Jawa Tengah-Jawa Timur.
Dia menjabarkan, beberapa sumber pasokan gas baru tersebut antara lain berasal dari Lapangan Lengo nan dikelola Kris Energy, Bukit Panjang nan dikelola PCK2L, Lapangan ENC nan dikelola PT Energi Mineral Langgeng, lampau dari TIS Blora Fasę 2, Pertamina EP Asset 4, Lapangan Paus Biru nan dikelola Medco Sampang, West Sidayu oleh SIPL, Lapangan MBF dan MDK oleh Husky-CNOOC Madura Ltd (HCML), dan lainnya.
"Kalau tadi ada semacam gap kekurangannya, maka kekurangan tersebut sudah ada juga kita dapatkan info nan memadai, khususnya dari SKK Migas, ini gimana menutupi kekurangan gas nan ada di ruas pipa tersebut," katanya dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi XII DPR RI, Jakarta, dikutip Kamis (27/8/2026).
Dalam rencana jangka panjang periode 2027 hingga 2035, potensi tambahan pasokan gas bumi di wilayah Jawa Timur dan Jawa Tengah diproyeksikan bakal meningkat secara bertahap. Peningkatan produksi gas bumi tertinggi diproyeksikan bakal terjadi pada tahun 2030 hingga 2031.
Pemerintah memetakan sejumlah lapangan potensial nan siap dikembangkan di wilayah Jawa Timur dan Jawa Tengah.
Kontributor utama nan menjadi tulang punggung tambahan pasokan tersebut adalah lapangan Lengo nan dikelola Kris Energy nan diproyeksikan menyumbang volume 84,49 MMSCFD mulai tahun 2030, serta lapangan Bukit Panjang nan dikelola PCK2L nan memberikan kontribusi stabil hingga 50 MMSCFD pada periode 2032-2033.
Pihaknya terus berkoordinasi dengan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) untuk mengoptimalkan persediaan gas nan ada. Penemuan sumber gas baru ini sangat krusial agar jaringan pipa nan sudah tersambung dapat berfaedah secara maksimal.
"Namun memang ini tetap dalam corak potensi gimana kelak mengutilisasinya Ditjen Migas berbareng SKK Migas kelak bakal melakukan pengaturan-pengaturannya," imbuhnya.
Jawa Defisit Gas
Berdasarkan catatan Ditjen Migas Kementerian ESDM per Juli 2026, defisit gas Jawa Tengah dan Jawa Timur rata-rata di kisaran 100-125 MMSCFD.
Tercatat, pada Januari 2026 pasokan gas "hanya" sebanyak 563,01 MMSCFD, lebih rendah dibanding kebutuhannya sebanyak 674,19 MMSCFD. Akibatnya, terdapat defisit gas sekitar 111,18 MMSCFD.
Defisit pasokan gas terbesar tercatat terjadi pada Februari 2026 dengan kekurangan mencapai 276,79 MMSCFD, di mana pasokan nan tersedia hanya sebesar 473,64 MMSCFD untuk memenuhi permintaan nan mencapai 750,43 MMSCFD.
Pada Juli 2026, defisit gas mencapai 104,16 MMSCFD, lantaran dari kebutuhan 753,89 MMSCFD, pasokan gas nan tersedia "hanya" 649,73 MMSCFD.
Kondisi kekurangan pasokan gas itu juga diproyeksikan bakal terus bersambung hingga akhir tahun 2026. Pada Desember 2026, pasokan gas diperkirakan "hanya" sebesar 634,02 MMSCFD, lebih rendah dibanding kebutuhannya sebanyak 760,63 MMSCFD. Akibatnya, defisit gas pada Desember 2026 diperkirakan mencapai 126,61 MMSCFD.
Secara keseluruhan, produksi gas bumi nasional hingga 31 Juli 2026 rata-rata mencapai 6.544 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD). Angka ini tetap lebih rendah dari sasaran dalam APBN 2026 nan ditetapkan sebesar 6.837 MMSCFD.
Begitu juga dengan realisasi salur gas. Hingga Juli 2026 baru tercatat rata-rata sebesar 5.208 MMSCFD, lebih rendah dari sasaran APBN 2026 sebesar 5.508 MMSCFD.
Bila dibandingkan dengan realisasi pada 2025, produksi dan salur gas sepanjang 2026 ini juga terlihat mengalami penurunan. Pada 2025, produksi gas tercatat mencapai 6.753 MMSCFD dan salur gas tercatat sebesar 5.425 MMSCFD.
(wia)
[Gambas:Video CNBC]
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·