Pidato Presiden Prabowo Subianto di Paris pada akhir Mei 2026 memantik perdebatan luas. Di hadapan Presiden Prancis Emmanuel Macron, Prabowo menyatakan telah menginstruksikan agar seluruh jenjang sekolah di Indonesia mempelajari bahasa Prancis sebagai bagian dari penguatan kerja sama pendidikan dan persiapan menghadapi perkembangan bumi di masa depan.
Pernyataan tersebut segera mendapat respons beragam. Sebagian menyambutnya sebagai langkah progresif untuk meningkatkan daya saing generasi muda Indonesia di era global. Namun sebagian lainnya mempertanyakan urgensinya di tengah beragam persoalan mendasar pendidikan nasional nan belum terselesaikan.
Perdebatan ini sesungguhnya bukan sekadar soal bahasa Prancis. Pertanyaan nan lebih mendasar adalah: gimana posisi bahasa Indonesia di tengah derasnya dorongan penguasaan bahasa asing?
Di sinilah obrolan menjadi menarik sekaligus penting.
Bahasa Asing Memang Penting, Tapi..
Tidak ada nan dapat membantah bahwa penguasaan bahasa asing merupakan kebutuhan abad ke-21. Bahasa Inggris telah menjadi lingua franca global. Bahasa Mandarin berkembang seiring meningkatnya pengaruh ekonomi China. Bahasa Arab krusial dalam konteks keagamaan dan hubungan Timur Tengah. Kini bahasa Prancis juga dipandang strategis lantaran digunakan di puluhan negara dan menjadi salah satu bahasa resmi beragam organisasi internasional.
Dalam konteks diplomasi, perdagangan, pendidikan tinggi, dan mobilitas global, keahlian berkata asing jelas memberikan untung kompetitif.
Karena itu, pendapat memperluas pembelajaran bahasa asing sebenarnya bukan sesuatu nan keliru.
Masalah muncul ketika penguatan bahasa asing dilakukan tanpa strategi nan jelas terhadap bahasa nasional dan bahasa wilayah nan justru sedang menghadapi tantangan serius.
Ironi Bahasa Indonesia di Negeri Sendiri
Indonesia adalah salah satu sedikit negara di bumi nan sukses membangun identitas kebangsaan melalui bahasa.
Melalui momentum Sumpah Pemuda, bahasa Indonesia menjadi perekat lebih dari 1.300 golongan etnis nan mempunyai ratusan bahasa daerah. Bahasa Indonesia bukan sekadar perangkat komunikasi, tetapi fondasi integrasi nasional.
Namun dalam dua dasawarsa terakhir, posisi bahasa Indonesia menghadapi kejadian nan paradoks.
Di kota-kota besar, penggunaan bahasa campuran Indonesia-Inggris semakin dominan dalam ruang publik. Nama perumahan, pusat perbelanjaan, sekolah, hingga semboyan pemerintah banyak menggunakan istilah asing. Di media sosial, penggunaan bahasa Indonesia nan baik dan betul sering dianggap kurang modern dibandingkan penggunaan istilah asing.
Pada saat nan sama, banyak generasi muda nan lebih bangga menunjukkan keahlian bahasa asing dibandingkan keahlian berkata Indonesia secara akademik dan profesional.
Fenomena ini bukan berfaedah bahasa Indonesia terancam punah. Namun ada indikasi nan perlu diwaspadai: bahasa Indonesia mulai kehilangan prestige di sebagian kalangan masyarakat perkotaan.
Jika bahasa asing terus diposisikan sebagai simbol kemajuan, sementara bahasa Indonesia dianggap sekadar bahasa sehari-hari, maka dalam jangka panjang bakal muncul kesenjangan identitas kebahasaan.
Ancaman nan Lebih Nyata: Hilangnya Bahasa Ibu
Yang lebih mengkhawatirkan justru bukan bahasa Indonesia, melainkan bahasa wilayah sebagai bahasa ibu.
Menurut beragam kajian linguistik, Indonesia mempunyai lebih dari 700 bahasa wilayah dan sebagian di antaranya berada dalam kondisi terancam punah. Ketika anak-anak tidak lagi menggunakan bahasa ibu dalam keluarga, proses pewarisan bahasa terputus.
Di banyak wilayah perkotaan, generasi muda sekarang tumbuh dengan tiga lapis bahasa: bahasa indonesia sebagai bahasa utama, bahasa inggris sebagai bahasa prestige, bahasa wilayah nan semakin jarang digunakan.
Apabila bahasa Prancis nantinya masuk sebagai mata pelajaran wajib nasional, pemerintah perlu memastikan bahwa penambahan bahasa asing tidak semakin mempersempit ruang bagi pelestarian bahasa daerah.
Sebab setiap bahasa nan lenyap sesungguhnya membawa hilangnya pengetahuan lokal, tradisi, dan langkah pandang suatu organisasi terhadap dunia.
Apakah Bahasa Prancis Layak Menjadi Prioritas Nasional?
Pertanyaan berikutnya adalah soal prioritas.
Secara realistis, Indonesia tetap menghadapi beragam persoalan pendidikan dasar. Hasil asesmen literasi nasional menunjukkan keahlian membaca dan memahami teks siswa Indonesia tetap perlu ditingkatkan. Banyak sekolah tetap kekurangan guru, prasarana digital, dan akses pembelajaran nan merata.
Dalam kondisi seperti itu, publik wajar bertanya: apakah bahasa Prancis merupakan kebutuhan nan paling mendesak?
Bahkan jika kebijakan ini diterapkan, tantangan implementasinya sangat besar.
Indonesia memerlukan ribuan pembimbing bahasa Prancis baru. Kurikulum kudu disesuaikan. Buku ajar perlu disiapkan. Anggaran kudu tersedia. Belum lagi kesenjangan kapabilitas antara sekolah perkotaan dan wilayah terpencil.
Karena itu, pendapat menjadikan bahasa Prancis sebagai pelajaran nasional perlu dikaji secara matang agar tidak berakhir sebagai simbol diplomasi semata. Pandangan serupa juga muncul dari kalangan legislatif nan meminta pemerintah menjelaskan peta jalan dan kesiapan implementasinya.
Jalan Tengah nan Lebih Rasional
Daripada menjadikan bahasa Prancis sebagai tanggungjawab universal, pendekatan nan lebih realistis adalah menjadikannya sebagai bahasa pilihan strategis. Sekolah dapat menawarkan bahasa Prancis, Mandarin, Jepang, Jerman, Arab, alias bahasa asing lainnya sesuai kebutuhan dan minat siswa.
Model ini memberikan elastisitas sekaligus menghindari beban kurikulum nan berlebihan.
Yang lebih penting, pemerintah perlu memastikan tiga lapisan kebahasaan berkembang secara seimbang: bahasa wilayah sebagai akar identitas budaya, bahasa Indonesia sebagai perekat nasional, bahasa asing sebagai perangkat kejuaraan global.
Ketiganya tidak perlu dipertentangkan.
Jangan Sampai Kita Kehilangan Rumah Bahasa
Pidato Presiden Prabowo sesungguhnya dapat menjadi momentum positif untuk membahas masa depan kebijakan bahasa Indonesia.
Kita tentu mau generasi muda bisa berbincang dalam bahasa Inggris, Mandarin, Arab, alias apalagi Prancis. Dunia nan semakin terhubung memang menuntut keahlian lintas bahasa.
Namun di tengah semangat globalisasi itu, ada satu perihal nan tidak boleh dilupakan: bangsa nan kuat bukan hanya bangsa nan bisa berbincang dengan dunia, tetapi juga bangsa nan tetap percaya diri menggunakan bahasanya sendiri.
Menguasai bahasa Prancis mungkin membuka pintu menuju Eropa. Menguasai bahasa Inggris membuka akses ke ekonomi global. Tetapi bahasa Indonesia adalah rumah nan menyatukan lebih dari 280 juta masyarakat dari Sabang sampai Merauke.
Rumah itu tidak boleh menjadi semakin sempit hanya lantaran kita terlalu sibuk membangun jendela ke luar.
Karena pada akhirnya, sebuah bangsa bisa belajar banyak bahasa asing. Namun identitasnya tetap ditentukan oleh bahasa nan dia pilih untuk berpikir, bermimpi, dan membayangkan masa depannya.
58 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·