Jangan cuma Kurangi Nasi, Begini Cara Tepat Tangani Obesitas Menurut Dokter Gizi

Sedang Trending 1 hari yang lalu
Jangan hanya Kurangi Nasi, Begini Cara Tepat Tangani Obesitas Menurut Dokter Gizi Ilustrasi(Dok Magnific)

PENANGANAN obesitas tidak bisa dilakukan hanya dengan mengurangi konsumsi nasi. Menurut master ahli gizi klinik, strategi mengatasi obesitas perlu disesuaikan dengan pola makan, style hidup, serta aspek nan menyebabkan seseorang makan berlebihan.

Ketua Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Gizi Klinik Indonesia (PDGKI) dr. Erwin Christianto, M.Gizi, Sp.GK, menegaskan bahwa setiap orang dengan obesitas mempunyai kebiasaan dan aspek pemicu nan berbeda.

“Obesitas itu tidak bisa ditangani hanya dengan, ‘oh kurangin deh nasinya, jangan makan malam, makan sekali sehari, jangan makan nasi’. Itu enggak bisa,” kata Erwin dalam peluncuran Kampanye Edukasi mengenai Obesitas #BeraniBicaraBerat di Jakarta, Jumat (14/8).

Pola Makan Setiap Orang Berbeda

Erwin menjelaskan, kebiasaan makan pada orang dengan obesitas tidak selalu sama. Ada nan terbiasa mengonsumsi makanan dalam jumlah besar saat waktu makan utama, tetapi ada pula nan makan dalam porsi relatif sedikit namun sering mengonsumsi camilan.

“Ada orang nan makannya enggak banyak. Ada nan makannya hanya dua kali sehari, satu kali sehari, tapi nyomotnya banyak. Ada orang nan makannya ‘Portugal’, porsinya gede,” ujarnya.

Atas dasar itu, penanganan obesitas perlu dilakukan secara individual. Pola konsumsi makanan, aktivitas sehari-hari, hingga argumen seseorang makan perlu menjadi pertimbangan dalam menentukan strategi penanganan.

Obesitas Tak Selalu Berkaitan dengan Rasa Lapar

Erwin mengatakan seseorang tidak selalu mengonsumsi makanan lantaran tubuh sedang memerlukan asupan. Pengalaman masa lampau dan kondisi emosional, termasuk stres, juga dapat memengaruhi kemauan untuk makan.

Ia memberikan contoh seseorang nan sejak mini terbiasa menerima makanan manis sebagai corak hiburan. Ketika dewasa dan menghadapi tekanan alias stres, orang tersebut dapat kembali mencari makanan manis lantaran makanan itu mempunyai keterkaitan dengan pengalaman menyenangkan di masa lalu.

“Begitu Anda stres, ‘ih deadline kelak siang nih’, nah agar mengimbangi stres itu, Anda makan sesuatu nan manis. Karena itu membawa memori nan menyenangkan,” katanya.

Menurut Erwin, beragam aspek tersebut membikin obesitas menjadi kondisi nan kompleks. Oleh lantaran itu, pendekatan untuk mengatasinya tidak dapat diseragamkan kepada semua orang.

Perubahan Gaya Hidup Harus Berkelanjutan

Selain mengatur pola makan, perubahan style hidup juga menjadi bagian krusial dalam penanganan obesitas. Erwin menekankan bahwa perubahan tersebut perlu dilakukan secara konsisten dan mempertimbangkan kebiasaan nan telah terbentuk dalam kehidupan sehari-hari.

Ia juga mendorong masyarakat untuk mengubah pola rekreasi dengan memperbanyak aktivitas fisik. Pengenalan aktivitas di alam terbuka serta olahraga kepada anak-anak sejak usia awal dinilai dapat membantu membentuk kebiasaan hidup nan lebih aktif.

“Dari persepsi kami sebenarnya, obesitas itu tidak bisa ditangani hanya dengan pembatasan satu jenis makanan,” kata Erwin.

Jangan Sembarangan Mengikuti Diet

Erwin mengingatkan masyarakat agar tidak mengikuti pola diet secara sembarangan hanya lantaran sedang populer. Program penurunan berat badan sebaiknya mempertimbangkan kondisi dan kebutuhan masing-masing individu.

Konsultasi dengan tenaga kesehatan dapat membantu menentukan strategi penanganan obesitas nan lebih sesuai, termasuk dalam mengatur pola makan, aktivitas fisik, serta kebiasaan nan berangkaian dengan perilaku makan.

Dengan demikian, langkah mengatasi obesitas tidak sebatas mengurangi nasi alias menghindari makan malam. Penanganan nan tepat memerlukan pendekatan menyeluruh terhadap pola makan, style hidup, aktivitas fisik, dan aspek emosional nan dapat memengaruhi perilaku makan. (Ant/E-4)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia