Kondisi jalan Wringinputih, Kecamatan Bergas, nan memicu tindakan protes penduduk dengan menumpuk batu besar dan menanam pohon pisang.(MI/Akhmad Safuan)
PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Semarang meminta maaf kepada masyarakat atas kondisi rusak Jalan Wringinputih, Kecamatan Bergas, nan memicu tindakan protes penduduk dengan menumpuk batu besar dan menanam pohon pisang di tengah jalan. Pemkab mengakui keterbatasan anggaran menjadi hambatan utama dalam penanganan kerusakan jalan tersebut.
Pantauan pada Minggu (14/6) menunjukkan tumpukan batu dan pohon pisang tetap berada di ruas Jalan Wringinputih nan mengalami kerusakan parah akibat tingginya intensitas kendaraan pengangkut material tambang galian C nan melintas setiap hari.
Aksi tersebut dilakukan penduduk sebagai corak kekecewaan lantaran jalan nan rusak belum juga diperbaiki secara menyeluruh. Kondisi jalan nan berlumpur saat musim hujan dan berdebu ketika tandus dinilai mengganggu aktivitas masyarakat sekaligus meningkatkan akibat kecelakaan.
Kepala Desa Wringinputih Untung Pambudi mengatakan kerusakan jalan tidak hanya menghalang mobilitas warga, tetapi juga berakibat pada kesehatan masyarakat.
"Tidak hanya mengganggu kenyamanan dan keselamatan warga, jalan rusak ini juga mengganggu kesehatan lantaran debu nan beterbangan saat kendaraan besar melintas mengakibatkan sesak napas dan mata perih," ujar Untung.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kabupaten Semarang Danang Eko Wahyuono mengakui kondisi Jalan Wringinputih memang belum sesuai angan masyarakat. Menurutnya, tetap terdapat sekitar 500 meter ruas jalan nan mengalami kerusakan dan memerlukan penanganan lebih lanjut.
"Kami minta maaf kepada masyarakat semua bahwa kondisi saat ini belum bisa sesuai ekspektasi," kata Danang.
Ia menjelaskan, keterbatasan anggaran menjadi salah satu hambatan dalam pemeliharaan seluruh jalan kabupaten nan mempunyai panjang mencapai 1.227 kilometer. Meski demikian, pemerintah wilayah tetap memberikan perhatian unik terhadap ruas Jalan Wringinputih nan merupakan bagian dari jalur Karangjati–Ngombo.
Danang menyebutkan, pada 2025 Pemkab Semarang telah mengalokasikan anggaran sekitar Rp600 juta untuk perbaikan jalan tersebut. Selain itu, perbaikan juga mendapat support biaya tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) dari PT Mahidara Artha Sangkara sebesar sekitar Rp1 miliar.
Melalui pendanaan tersebut, pemerintah sukses memperbaiki sekitar 500 meter jalan. Namun, tetap terdapat sekitar 500 meter ruas nan belum tersentuh perbaikan.
"Tahun ini kami masuk pemeliharaan rutin. Meskipun belum sempurna, setidaknya tingkat kenyamanan pengguna jalan bisa sedikit meningkat. Ini menjadi pekerjaan rumah kami," ujar Danang.
Sebagai langkah lanjutan, Pemkab Semarang telah merencanakan pengalokasian anggaran sekitar Rp900 juta pada 2027 untuk melanjutkan perbaikan ruas Jalan Wringinputih. Pemerintah berambisi anggaran tersebut dapat memenuhi kebutuhan perbaikan secara menyeluruh sehingga akses masyarakat kembali kondusif dan nyaman.
Sebelumnya, penduduk melakukan tindakan protes dengan menumpuk batu besar dan menanam pohon pisang di tengah jalan sebagai simbol kekecewaan atas lambatnya penanganan kerusakan nan telah berjalan cukup lama dan diperparah oleh lampau lintas kendaraan bertonase besar dari aktivitas tambang galian C. (E-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·