ilustrasi(AFP)
Wospac Indonesia menilai kesempatan Indonesia tampil di Piala Dunia kudu dibangun melalui pembinaan usia muda nan berkelanjutan, dengan menciptakan kesempatan sekaligus memanfaatkan momentum bagi pemain berbakat. Keberhasilan Timnas Curacao, Haiti, dan Tanjung Verde (Cape Verde) menembus Piala Dunia 2026 menjadi gambaran bahwa negara dengan skala mini tetap bisa bersaing di panggung sepak bola tertinggi bumi melalui proses pembinaan nan konsisten.
CEO Wospac Indonesia Benhard Sitorus meyakini Indonesia mempunyai kesempatan untuk mewujudkan capaian serupa. Karena itu, WOSPAC berkomitmen membantu menyiapkan generasi pemain muda Indonesia agar bisa bersaing di level internasional. Melalui programnya, Wospac Indonesia membawa pemain usia 13-14 tahun ke Spanyol untuk tampil di liga resmi agar terbiasa menghadapi tekanan dan intensitas pertandingan, bukan sekadar mengikuti training jangka pendek. Program tersebut juga diarahkan untuk membuka akses ke jaringan pencari bakat, agen, dan klub Eropa sebagai jalur pengembangan karier.
Dengan mengusung tema Jembatan Mengantar Mereka Jadi Hebat, Wospac menempatkan pembinaan jangka panjang sebagai fondasi pembentukan tim nan kuat serta pengembangan potensi pemain muda Indonesia.
"Kesempatan itu kudu berjumpa momentum agar berhasil. Kami menciptakan dan menjaga talenta agar tidak hilang. Wospac memberikan kesempatan untuk tetap bersekolah, meningkatkan keahlian di akademi dan membentuk kepribadian anak. Sekolah dipastikan tidak terputus lantaran ada keselarasan dengan program latihan dan kompetisi," kata Benhard dalam obrolan di Pekan Raya Jersey Coupe du Monde Edition di Senayan Park (Spark), Jakarta, Sabtu (27/6).
Sebelumnya, Benhard juga menyampaikan pandangannya dalam Webinar Nasional Piala Dunia dan Masa Depan Sepak Bola Indonesia nan digagas Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat melalui Forum Diskusi Denpasar 12 pada Rabu (24/6).
Diskusi nan dimoderatori Tantri Moerdopo itu turut menghadirkan Direktur Operasional I.League Asep Saputra, pengamat sepak bola Suryopratomo, Benhard Sitorus, serta Koordinator Save Our Soccer Akmal Marhali sebagai penanggap.
Para narasumber menyoroti sejumlah aspek krusial dalam pembangunan sepak bola nasional, mulai dari transformasi sistem, peningkatan kualitas sumber daya manusia, perbaikan kompetisi, standardisasi infrastruktur, tata kelola pembinaan, pengembangan golongan umur, hingga peningkatan kualitas pembimbing bersertifikat.
"Momentum kudu berjumpa kesempatan. Generasi muncul setiap saat dan kudu dijembatani. WOSPAC tidak hanya menunggu, tapi menciptakan kesempatan demi anak Indonesia," ujar Benhard.
Ia menambahkan pemain nan telah berkompetisi dan terdaftar selama tiga tahun dapat memperoleh status homegrown. Aturan tersebut disebut memberi perlindungan terhadap pengembangan talenta lokal sekaligus menjaga kuota pemain asing di skuad utama.
Menurut Benhard, pembinaan usia muda bakal menjadi penentu masa depan sepak bola nasional. Karena itu, Wospac menegaskan kehadirannya bukan untuk mengubah metodologi lokal, melainkan membawa talenta Indonesia ke pusat ekosistem sepak bola bumi melalui kombinasi training performa tinggi, pendidikan umum internasional nan tetap terintegrasi dengan pendidikan Indonesia, serta pembentukan karakter.
"Pada Mei (2026) ada satu anak usia 14 tahun nan kita titipkan di klub lokal, ialah Martorell. Penampilannya dipuji CEO Wospac, Alex Bosacoma Sesma, dan disarankan main di usia 17. Kami percaya lebih banyak lagi anak Indonesia nan mempunyai talenta tapi mereka butuh penyaluran, untuk tumbuh dan berkembang," ungkapnya.
Benhard menegaskan WOSPAC Indonesia diposisikan sebagai pelengkap program PSSI melalui kerjasama dengan beragam pihak untuk membuka jalur pembinaan talenta lokal di akademi elite dunia.
"WOSPAC Indonesia menjadi solusi jangka panjang dan melengkapi program PSSI, berkolaborasi dengan PSSI, menggandeng pihak swasta dan semua pihak mengenai untuk mengirim dan menempa talenta lokal di akademi elit bumi demi kemandirian sepak bola Indonesia. Diperlukan kerjasama strategis dalam membangun roadmap pembinaan usia awal berbasis model akademi dunia," tuturnya.
Menurut Wospac, potensi sepak bola Indonesia dapat berkembang lebih jauh andaikan didukung pembinaan usia muda nan lebih kuat dan kerjasama lintas pihak untuk menciptakan ekosistem pembinaan berkepanjangan menuju level internasional. (E-3)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·