Jakarta -
Isu kebocoran info nan menyeret nama sejumlah lembaga perbankan belakangan ini memunculkan kekhawatiran di tengah masyarakat. Namun, Praktisi Dunia Digital, Syahraki Syahrir (Raki) menegaskan secara umum sistem keamanan di sektor perbankan Indonesia termasuk nan paling kuat, terlebih di perbankan besar.
Raki nan juga CEO Veda Praxis, salah satu perusahaan konsultasi nan bergerak di bagian digital dan cybersecurity, menjelaskan bahwa sektor perbankan justru menjadi industri nan paling matang (mature) dalam mengelola keamanan teknologi info (TI). Sejak lama, kata dia, regulator di Indonesia telah menerapkan patokan ketat mengenai pengamanan sistem info perbankan.
"Selama ini pengawasan terhadap industri finansial dilakukan secara berlapis oleh beragam lembaga seperti Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bank Indonesia, Badan Siber dan Sandi Negara, hingga Kementerian Komunikasi dan Digital. Seluruh regulator tersebut terus meningkatkan standar keamanan ke perbankan, serta melakukan edukasi kepada masyarakat dan pelaku industri," ujar Raki dalam keterangannya, Senin (25/5/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Terkait beredarnya info kebocoran info di dark web, alumnus Universitas Padjajaran (Unpad) ini mengatakan masyarakat tidak perlu panik berlebihan. Menurut Raki, dark web itu hanyalah bagian dari internet nan tidak terindeks secara umum sehingga sering digunakan untuk aktivitas nan lebih bebas, termasuk penyebaran info terlarangan dan belum terverifikasi kebenarannya.
Raki juga menjelaskan bahwa dalam ekosistem digital modern, sebuah sistem tidak pernah berdiri sendiri. Sistem perbankan saat ini, kata Raki, sudah terhubung dengan banyak pihak. Mulai dari penyedia jasa teknologi, infrastruktur, hingga mitra lainnya. Menurut dia, info nan beredar di ekosistem tersebut belum tentu bocor dari sistem inti perbankan.
"Kalaupun info di dark web itu benar, kita kudu meneliti sumber info tersebut berasal. Bisa jadi info berasal dari pihak ketiga nan terhubung dengan jasa bank. Jadi jangan langsung menyimpulkan banknya nan lemah. Hanya saja, memang, jika bank nan terdengar bocor, masyarakat langsung gempar lantaran ada duit mereka di sana," kata Raki.
OJK Minta Masyarakat Jaga Kerahasiaan Data Pribadi
Dalam kesempatan lain, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Friderica Widyasari Dewi menilai, meski sistem keamanan info di perbankan sudah dilakukan secara berlapis, namun dia mengingatkan masyarakat untuk selalu waspada menjaga info pribadi agar tidak dimanfaatkan sebagai celah melakukan kejahatan perbankan.
"Meskipun bank telah menerapkan sistem keamanan berlapis dan memastikan kepatuhan terhadap izin perlindungan info pribadi, kejahatan tetap dapat terjadi jika pengguna tidak waspada alias lalai menjaga kerahasiaan info pribadinya," kata Friderica Widyasari Dewi seperti dikutip dari Antara.
Perempuan nan berkawan disapa Kiki itu menambahkan, akibat terjadinya kejahatan siber termasuk di industri jasa finansial sekarang semakin tinggi lantaran pelaku kejahatan digital semakin canggih, sementara banyak masyarakat nan tetap belum mempunyai literasi digital serta literasi finansial nan memadai.
Terkait perihal itu, Raki menambahkan, bahwa meningkatnya kejahatan siber merupakan akibat dari semakin kompleksnya penggunaan teknologi digital dalam kehidupan sehari-hari. Ia mengimbau masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan dalam berinteraksi di ruang digital.
Contohnya, kata dia, masyarakat agar tidak mudah memberikan info pribadi melalui sambungan telepon, pesan instan, maupun media digital lainnya, termasuk kepada pihak nan mengaku berasal dari bank.
"Password, PIN, dan OTP tidak boleh diberikan kepada siapa pun. Kalau ada pihak nan meminta info sensitif lewat telepon alias pesan digital, masyarakat kudu langsung waspada," ujar penulis kitab Digital Governance ini.
Menurut Raki, nan terpenting saat ini membangun budaya kehati-hatian dalam aktivitas digital sehari-hari. Ia menyarankan masyarakat untuk selalu melakukan verifikasi sebelum memercayai info alias permintaan tertentu melalui kanal digital.
"Di era sekarang, kita kudu extra careful. Jangan mudah percaya pada telepon, pesan, alias tautan nan mengatasnamakan pihak tertentu, termasuk bank. Kalau perlu, lakukan transaksi dan komunikasi langsung melalui aplikasi resmi alias datang ke instansi cabang," kata Raki.
(akn/ega)
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·