Jakarta, CNBC Indonesia - Tentara Israel tiba di Nabatieh, salah satu kota terbesar di Lebanon Selatan. Militer Israel telah maju melampaui Sungai Litani di Lebanon untuk pertama kalinya sejak 2006 dan tampaknya siap untuk mengepung kota besar Nabatieh.
Salah satu sumber militer senior Lebanon nan mengatakan pada instansi buletin Turki, Anadolu, menyebut pasukan Israel telah menyeberangi Sungai Litani, nan telah dinyatakan Israel sebagai pemisah area penyangga tidak resminya.
Pasukan Israel sekarang berada di pinggiran Nabatieh, sebuah kota nan menjadi kunci perekonomian Lebanon selatan dan pusat budaya bagi wilayah tersebut. Jika kota nan kebanyakan penduduknya berakidah Syiah ini jatuh, perihal itu menjadi pertanda perkembangan signifikan dalam perang Israel melawan Lebanon dan gencatan senjata resmi bakal menyusul.
Nabatieh dipandang oleh banyak penduduk Lebanon sebagai simbol perlawanan lantaran peran historisnya di garis depan serangan Israel.
Dalam laporannya dari kota Tyre di selatan, Obaida Hitto dari Al Jazeera mengatakan bahwa Israel sedang memperluas serangan udaranya di Lebanon selatan dan mengepung Nabatieh sebagai persiapan nan kemungkinan bakal menyerang kota tersebut.
"Sepertinya Israel sedang berupaya melakukan serangan terakhir untuk mengepung Nabatieh, menembus garis pertahanan kedua dan ketiga Hezbollah, serta memisahkan Lembah Bekaa Barat dari bagian selatan negara itu," kata Hitto mengutip Al Jazeera, Minggu (31/5/2026).
Militer Lebanon memberikan keterangan bahwa dua tentaranya terluka parah lantaran menjadi sasaran serangan drone Israel di dekat Nabatieh.
Tim penyelamat bekerja di letak serangan Israel terhadap sebuah mobil di wilayah Jiyeh, selatan Beirut, Lebanon, Rabu (13/5/2026). (AFP/FADEL ITANI) Foto: Tim penyelamat bekerja di letak serangan Israel terhadap sebuah mobil di wilayah Jiyeh, selatan Beirut, Lebanon, Rabu (13/5/2026). (AFP/FADEL ITANI)
Pada Sabtu malam, Kantor Berita Nasional Lebanon (NNA) melaporkan bahwa setidaknya satu petugas paramedis tewas dan empat lainnya terluka dalam serangan drone Israel di desa Jebchit, Lebanon selatan. Serangan itu juga merusak Rumah Sakit Bantuan Lebanon, tetapi semua staf medis, perawat, dan ambulans dalam keadaan aman.
Di tempat lain, serangan udara dan tembakan artileri Israel menghantam wilayah di sekitar Kastil Beaufort, nan terletak sekitar 15 km (sembilan mil) dari perbatasan Israel dan menghadap ke sebagian besar wilayah selatan Lebanon. Kastil abad ke-12 tersebut dikuasai oleh pasukan Israel selama 18 tahun hingga mereka menarik diri dari Lebanon pada Mei 2000.
Sementara Hizbullah mengatakan bahwa mereka menembakkan roket ke kota Kiryat Shmona di utara Israel. Kelompok tersebut juga menyergap tentara Israel di dekat Ghandouriyeh di Lebanon selatan, dan mengatakan bahwa mereka memaksa tentara Israel untuk mundur.
Dalam pernyataan terpisah pada hari nan sama, Hizbullah mengatakan bahwa mereka menghancurkan sebuah kendaraan militer Israel di dekat desa Yohmor al-Shaqif di Lebanon.
Serangan-serangan lainnya meliputi serangan drone terhadap markas komando militer Israel di desa Naqoura, Lebanon selatan, serta rentetan rudal nan menargetkan prasarana militer Israel di kota Nahariyya, Israel utara.
Sebelumnya Israel telah mengeluarkan perintah pemindahan untuk setidaknya 10 desa di Lebanon selatan, seiring dengan ekspansi invasi mereka, meskipun saat itu sedang terlibat dalam pembicaraan tenteram nan sedang berjalan dengan pejabat Lebanon.
Juru bicara militer Israel untuk bahasa Arab, Avichay Adraee, memerintahkan penduduk di beberapa desa Lebanon untuk segera mengungsi, dengan peringatan bahwa mereka bisa tewas jika tetap tinggal.
Hitto dari Al Jazeera mengatakan orang-orang nan melarikan diri dari rumah mereka mempunyai sedikit pilihan, dengan lebih dari 20 persen populasi alias sekitar 1,2 juta orang terpaksa mengungsi akibat pertempuran.
"Pilihan-pilihan itu pada dasarnya berubah menjadi tinggal berbareng kerabat jika mereka mempunyai pilihan itu, alias tinggal di kamp-kamp darurat di taman umum dan ruang publik. Saya telah memandang banyak family tinggal di dalam kendaraan mereka untuk waktu nan lama," kata Hitto.
"Beberapa family ini telah terus-menerus mengungsi sejak 2023," tambah Hitto.
Perintah pemindahan itu dikeluarkan sehari setelah para pejabat dari Israel dan Lebanon berjumpa di Washington untuk membahas penyelesaian permanen atas perang nan dimulai pada awal Maret, ketika Hizbullah nan didukung Iran mulai menyerang Israel menyusul pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei.
Sedangkan, Perdana Menteri Lebanon Nawaf Salam mengecam apa nan dia gambarkan sebagai eskalasi Israel nan lebih rawan dan belum pernah terjadi sebelumnya di selatan.
Dalam pidato nan disiarkan televisi, Salam juga memihak negosiasi langsung pemerintahnya dengan Israel, dengan mengatakan bahwa pembicaraan tersebut merupakan "jalan nan paling tidak merugikan" bagi Lebanon.
Pada pagi hari tadi waktu setempat, Salam mengadakan pembicaraan dengan Presiden Lebanon Joseph Aoun untuk membahas situasi keamanan dan negosiasi nan sedang berjalan dengan Israel. Menurut NNA, mereka sepakat untuk mengintensifkan upaya guna mengakhiri perang nan telah memicu krisis kemanusiaan.
Aoun juga melakukan pembicaraan via telepon dengan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dan menekankan pentingnya Israel menghormati gencatan senjata nan sedang berlaku.
Seperti diketahui, pembicaraan antara pejabat Lebanon dan Israel untuk mengakhiri perang difasilitasi oleh AS, dan putaran baru diharapkan berjalan di Washington minggu depan.
(rob/wur)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
2 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·