Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memberikan kepastian izin dan investasi bagi para pelaku upaya hulu minyak dan gas bumi (migas) di Tanah Air.
Pemerintah berkomitmen untuk tidak mengubah patokan di tengah jalan nan dapat mengganggu suasana upaya migas.
Ia meminta para pengusaha untuk segera mengeksekusi rencana pengembangan lapangan nan sudah disetujui guna mengejar sasaran produksi minyak 1 juta barel per hari.
Hal itu disampaikannya di depan para pengusaha besar sektor minyak dan gas bumi (migas), baik nasional maupun global, dalam perhelatan The 50th Indonesian Petroleum Association Convention and Exhibition (IPA Convex) di ICE BSD, Kabupaten Tangerang, Rabu (21/5/2026). Acara itu juga termasuk arena terbesar sektor hulu migas di Asia Tenggara.
Acara nan mempertemukan para pemangku kepentingan, penanammodal global, Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS), hingga penyedia teknologi daya untuk membahas strategi ketahanan daya nasional tersebut dihadiri oleh Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi sekaligus Dewan Pengawas IPA Hashim Djojohadikusumo.
Selain itu, aktivitas tersebut juga dihadiri oleh Penasihat Khusus Presiden Bidang Energi Purnomo Yusgiantoro, Dirjen Migas Laode Sulaeman, Kepala SKK Migas Djoko Siswanto, Presiden IPA Kathy Wu serta Direktur Utama beragam perusahaan migas nasional, hingga bos-bos sektor migas kelas kakap dunia.
Bahlil menjelaskan bahwa kontribusi sektor daya terhadap penerimaan negara tetap menunjukkan performa nan kuat meskipun kondisi pasar bumi sedang bergejolak. Hingga kuartal pertama 2026, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dari sektor daya dilaporkan telah mencapai 40% dari sasaran APBN tahun ini.
"Indonesia kudu saya sampaikan bahwa dari kondisi geopolitik, geoekonomi nan tidak menentu pertumbuhan ekonomi pada kuartal pertama tumbuh sekitar 5,61% dengan inflasi di bawah 3%. Dan ini terjadi lantaran kontribusi dari semua pihak lebih khususnya kepada teman-teman pengusaha nan main di hulu migas," kata Bahlil dalam aktivitas pembukaan The 50th IPA Convention & Exhibition (Convex) di ICE BSD, Kabupaten Tangerang, Rabu (20/5/2026).
Pemerintah saat ini tengah mengakselerasi pengembangan daya pengganti melalui program mandatori biodiesel B50 nan dijadwalkan mulai bertindak pada 1 Juli mendatang. Strategi ini diproyeksikan bisa mensubstitusikan impor minyak mentah hingga ratusan ribu barel per hari guna menutupi celah produksi domestik nan tetap terbatas.
"Atas pengarahan Bapak Presiden kudu segera mencari alternatif-alternatif daya lain nan tidak hanya mengedepankan BBM nan berasal dari fosil. Dari 1 juta baril per day nan kita kudu impor, terkonversi alias tersubstitusi dengan kita memakai B40 dan sekarang kita bakal sorong 1 Juli B50," tuturnya.
Terkait kekhawatiran pelaku upaya mengenai kebijakan ekspor, kementerian memastikan bahwa sektor migas dikecualikan dari rencana patokan penjualan satu pintu melalui BUMN khusus. Selain itu, pemerintah juga memberikan relaksasi terhadap patokan Devisa Hasil Ekspor (DHE) bagi Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) mengingat tingginya biaya eksplorasi.
"Atas dasar pengetahuan, pendalaman, dan info nan objektif kepada Bapak Presiden, maka Bapak Presiden memutuskan untuk sektor hulu migas, PP (BUMN Khusus) itu tidak berlaku. DHE-nya juga silakan kalian pakai, tidak perlu pakai seperti Perpres nan ada sekarang," tegas Bahlil.
Di sisi lain, Bahlil meminta KKKS untuk meningkatkan kerjasama dengan pemerintah daerah, termasuk tanggungjawab penyerahan kewenangan partisipasi sebesar 10 persen. Ia juga mendorong keterlibatan pengusaha lokal nan ahli dalam setiap rantai pasok industri hulu migas agar faedah ekonomi dapat dirasakan secara merata.
"Bagi K3S-K3S nan sudah menjalankan usahanya dengan baik nan disesuaikan dengan patokan nan belum menyerahkan PI-nya kepala daerah, tolong segera. Pengusaha-pengusaha wilayah itu kudu dikolaborasikan, jangan semua kontraktor orang Jakarta semua," pungkasnya.
Isi Pidato Lengkap Bahlil
"Kebetulan ini aktivitas ke-2 bagi saya dan saya ucapkan selamat ulang tahun nan ke-50. Semoga di 50 nan usia produktif ini IPA bisa memberikan kontribusi terbaiknya bagi pengembangan upaya daya di Indonesia.
Bapak-Ibu semua perlu saya sampaikan bahwa dalam kondisi geopolitik nan tidak menentu peperangan terus terjadi. Baik sekarang tetap terjadi antara Israel, Palestine, dan Lebanon. Kemudian nan terjadi sebelumnya juga adalah sekarang mungkin lagi rehat sejenak mudah-mudahan tidak terjadi lagi antara Israel, Amerika, dan Iran, Rusia, dan Ukraine, dan ketegangan-ketegangan politik dunia ini melahirkan ketidakpastian semuanya. Geopolitik, geoekonomi, pandangan nyaris semua negara semakin tidak jelas arahnya bakal kemana. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh negara-negara nan sedang bertikai tapi nyaris semua negara apalagi nyaris semua rakyat bumi termasuk di Indonesia.
Tetapi Indonesia kudu saya sampaikan bahwa dari kondisi geopolitik, geoekonomi nan tidak menentu pertumbuhan ekonomi pada kuasa pertama tumbuh sekitar 5,61% dengan inflasi di bawah 3%, 2,41%. Dan ini adalah pertumbuhan ekonomi tertinggi di antara negara-negara G20. Dan ini terjadi lantaran kontribusi dari semua pihak lebih khususnya kepada teman-teman pengusaha nan main di hulu migas maupun di sektor daya secara keseluruhan.
Kenapa saya sampaikan ini? Karena 2025 dan di kuartal pertama 2026, PNBP kita di sektor daya sudah mencapai kurang lebih saya dapat laporan dari Pak Joko (Kepala SKK Migas Djoko Siswanto) 40% dari sasaran APBN. Sekalipun memang nilai komoditas lagi naik, tapi saya memandang ini adalah sebuah kontribusi nan cukup signifikan bagi pengembangan. Mampu menciptakan lapangan pekerjaan dan bisa menciptakan multiplier effect.
Dalam kaitannya dengan itu, tetap dalam kondisi geopolitik, Bapak-Ibu semua, nyaris semua negara sekarang berpikir untuk memproteksi negaranya masing-masing. Dalam beragam kesempatan saya mendampingi Bapak Presiden untuk berjumpa dengan kepala-kepala negara baik negara nan mempunyai sumber minyak, maupun nan tidak mempunyai sumber minyak, itu mempunyai pendangan nan nyaris sama, bahwa tidak ada untung nan utuh dari sebuah pertikaian nan berakibat pada kondisi dunia nan tidak menentu.
Indonesia sendiri, kita tahu bahwa konsumsi BBM kita itu kurang lebih sekitar 1,6 juta barel per day dan lifting kita di 2025 adalah 600 ribu barel per day. Target APBN di 2026 adalah 610 ribu barel per day, dan sekarang tetap rata-rata tetap di bawah 600 ribu barel per day. Ini artinya secara kalkulasi kita bisa menghitung kita memerlukan impor 1 juta barel per day.
Namun kami berterima kasih bahwa dalam kondisi seperti ini atas pengarahan Bapak Presiden kudu segera mencari alternatif-alternatif daya lain nan tidak hanya mengedepankan BBM nan berasal dari fosil, ketika lifting kita tidak tercapai, maka kudu ada langkah lain nan kita kudu lakukan. Dari 1 juta barel per day nan kita kudu impor terkonversi alias tersubstitusi dengan kita memakai B40 dan sekarang kita bakal sorong 1 Juli B50 dan itu kita bisa mengkonversi ke CPO-nya itu kurang lebih sekitar 200-300 ribu barel per day. Jadi kita impor kurang lebih sekitar 600-700 ribu barel per day, sisanya kita ambil dari CPO, dan Alhamdulillah di tahun 2026 kita tidak lagi melakukan impor Solar terkecuali Solar nan mempunyai kualitas tinggi seperti C51. C48 sudah bisa kita lakukan semuanya.
Bapak-Ibu semua kami pemerintah meminta tolong agar semua teman-teman nan telah mendapatkan ijin konsesi nan sudah lama dipegang dan sudah selesai POD tolong segera dieksekusi. Ada masalah apa tolong dikabari.
Di samping kita menunggu peningkatan lifting, maka pemerintah juga ke depan bakal memberikan mandatori terhadap E10 sampai dalam E20 lantaran sekarang kebutuhan bensin kita itu kurang lebih sekitar 39-40 juta kiloliter dan produksi dalam negeri kurang lebih sekitar 19-20 juta, kita tetap impor 20 juta kiloliter, dan ini kita bakal sebagian kita bakal konversi ke etanol.
Nah pertanyaan berikut adalah gimana kemudian dengan fosil nan ada? Bapak-Ibu semua negara kami tetap sangat memerlukan banyak sekali, LPG kita impor tahun ini 8,6 juta metric ton, tahun 2027 untuk memenuhi industri Lotte Chemical dan Chandra Asri itu memerlukan kurang lebih bertambah 3 juta ton. Nafta kita kekurangan, kemarin kita bawa dari Amerika. Bahan baku-bahan baku industri ini nan kita butuh dan itu ada terletak di tangan Bapak-Ibu nan melakukan upaya di sektor hulu migas. Ini nan kita tetap sangat memerlukan sekali, dan sasaran Bapak Presiden di 2029-2030 lifting kita kudu mencapai 900-1 juta barel per day.
Dalam kaitannya dengan itu apa nan kudu kita lakukan? Saya terima kasih Ibu Kathy Wu tadi punya pandangan bahwa tidak bakal mungkin lifting itu bisa melangkah dengan baik tanpa ada kerjasama nan baik antara KKKS dengan pemerintah. Pemerintah dalam perihal ini tidak hanya pemerintah pusat tapi juga pemerintah daerah, kabupaten, kota, Bapak-Ibu juga kudu bersama-sama kita berdampingan dengan tangan untuk menyelesaikan ini.
Saya minta kepada teman-teman SKK Migas sudah beragam upaya nan kami lakukan untuk melakukan reform, beragam izin untuk melakukan percepatan. Tapi jika tetap ada nan lambat-lambat tolong disampaikan, dan saya sudah minta kepada Kepala SKK Migas jika ada nan tetap lambat di bawah, tukar orangnya, jangan bikin pusing. Ini kata Bapak Presiden Prabowo itu deep state. Tetapi jika pengusahanya nan agak nakal, tertibkan mereka, lantaran kita butuh nan baik semuanya. Hanya dengan langkah ini bisa kita melakukan percepatan Bapak-Ibu semua.
Yang kedua adalah teknologi. Memang tidak bakal mungkin kita bisa meningkatkan lifting lantaran sumur-sumur kita ini sumur-sumur nan sudah lama sebagian. Maka teknologi adalah salah satu langkah nan paling tepat dan untuk penerapan lapangannya saya minta kepada teman-teman K3S juga untuk melakukan koordinasi dengan kepala-kepala wilayah nan ada di daerah. Contoh kemarin saya memberikan apresiasi kepada ENI nan baru mengumumkan untuk mendapatkan blok baru di Kalimantan Timur dengan 5 TCF gas dan bisa menghasilkan 200 ribu kondensat, equivalent dengan 200 ribu barel jika tidak salah Pak Joko ya dan itu bakal mulai produksi di 2028-2029.
Ini jika tidak salah kemarin saya tanda tangan persetujuan kerja sama-sama Petronas jika tidak salah ya. Nah ini, ini Gubernurnya nih, ada Gubernurnya. Pak Rudi, berdiri Pak Rudi. Ini Gubernur Kalimantan Timur nan lagi viral, nan lagi viral. Pak Rudi, jika kita jadi pejabat nggak viral itu nggak top. Karena kita viral, maka kita top, plus minus itu biasa. Tinggal gimana langkah kita memitigasi. Dengan kata lain, kudu kita olah-olah sedikit kira-kira begitu. Nggak apa-apalah, Anda Ketua Golkar kok, nggak apa-apa. Jadi nggak ada itu kita mundur-mundur. Tolong saya titipkan untuk teman-teman dari ENI dan dari Petronas nan baru menemukan, jadi total mereka menemukan itu 7 TCF dan 200 barel ekuivalen minyak. Itu dibantu agar 2028-2029 mereka sudah bisa berproduksi.
Saya juga minta tolong agar pengusaha-pengusaha wilayah itu kudu dikolaborasikan, Pak Joko. Jangan semua kontraktor, semua orang Jakarta semua, jadi lantaran orang wilayah itu menjadi tuan di negerinya sendiri. Selama profesional, jangan orang wilayah juga pengusahanya pengusaha-pengusaha proposal.
Saya ini kan mantan pengusaha daerah. Ini upaya di sektor hulu migas kudu profesional, ini bukan perusahaan APBN alias APBD nan asal kerja. Ini salah las pipa aja, pipa bocor meninggal orang, jadi saya minta kudu betul-betul nan punya spesifikasi, dan agar kepala-kepala wilayah tidak menanyakan kepada saya tentang kesungguhan saya dalam mendukung pemerintah daerah, saya temukan di forum nan terhormat ini atas perintah Bapak Presiden bagi K3S-K3S nan sudah menjalankan usahanya dengan baik nan disesuaikan dengan patokan nan belum menyerahkan PI-nya kepala daerah, tolong segera, tapi kudu sesuai dengan aturan. Tidak boleh tidak sesuai dengan aturan. Karena pasti semua kelak kita diperiksa jika tidak sesuai dengan aturan. Gubernur, saya sudah ngomong ini, Sulsel ini juga, saya sudah ngomong ini. Kau lihat-lihat dari sana juga. Partai koalisi itu kau lihat baik-baik semua ya.
Jadi kira-kira itu Bapak Ibu semua. Nah, apa nan kudu dilakukan ke depan? Saya minta maaf nggak bisa lama lantaran dipanggil oleh Bos. Ini tadi saya kasih tau soal Ibu Kathy, Ibu Kathy sebenarnya saya nggak bisa lama ke sini, saya kudu langsung ke Hambalang. Tapi lantaran sebagai bentuk pertanggungjawab moralitas dan kecintaan sesama kita saling mencintai antara K3S dan ESDM, maka kita pun izin sama Presiden, saya datang dulu Pak ke sini Pak.
Nah, apa nan kudu dilakukan ke depan? Bapak Ibu semua, dari lubuk hati nan paling dalam, saya ngerti betul KKKS di 2025 dalam menyelesaikan perjanjian dengan ekspor gas di tahun 2025 dengan market nan sudah ada, saya tau kemarin ada sedikit dinamika.
Tapi saya janji kepada Bapak Ibu semua, di 2025 itu kejadian, pengalaman nan bahwa satu tahun pemerintahan bawa Presiden Prabowo, tapi 2026 tidak bakal ada lagi pemotongan kuota ekspor untuk market ataupun nan sudah dikontrakkan ke luar negeri. Jadi nggak perlu ada kekhawatiran lagi, semuanya sudah saya setuju untuk ekspornya semua. Jadi semuanya sudah saya tanda tangan, nggak ada lagi. Biarlah kebutuhan dalam negeri kita putar otak.
Nah, dalam perspektif itu, untuk nan baru, ada Inpex, ada beberapa K3S nan muncul untuk gas, jika sudah dipasarkan di luar negeri, dan kemudian mereka tetap lambat, saya sudah minta untuk Danantara dalam perihal ini PLN, PGN, maupun beberapa perusahaan lain nan untuk offtakernya dalam negeri, kita beli, agar bisa ada kepastian offtaker, agar semuanya bisa berjalan.
Ini nan mungkin bisa saya sampaikan kepada Bapak Ibu semua, pasti ada kegelisahan hari ini, dan pasti ada pertanyaan, lantaran hari ini bahwa Presiden mengumumkan pembuatan Peraturan Pemerintah dalam penjualan hasil sumber daya alam satu pintu lewat BUMN. Saya datang ke sini untuk membawa pesan unik Bapak Presiden. Atas dasar pengetahuan, pendalaman, dan info nan objektif dan terukur kepada Bapak Presiden, maka Bapak Presiden memutuskan untuk sektor hulu migas, PP itu tidak bertindak untuk sektor hulu migas. Jadi tidak perlu ada keraguan, jadi bisnisnya seperti biasa.
Pasti ada nan tanya lagi, gimana DHE-nya, biaya hasil ekspornya, bahwa Presiden juga menyampaikan bahwa pengusaha-pengusaha K3S ini mereka orang baik-baik semua, tidak perlu dicurigai, lantaran itu DHE-nya juga silakan kalian pakai, tidak perlu pakai seperti Perpres nan ada sekarang. Jadi itu jalan saja, jadi tidak perlu ada khawatiran. Ini dalam rangka menjawab beberapa masukan-masukan daripada perusahaan-perusahaan K3S kepada saya, dan sekaligus untuk menjamin kepastian patokan nan ada di negara kami, khususnya di sektor migas. Jadi Ibu Kathy sudah jelas ini, saya jawab ini.
Nah, nan dimaksudkan oleh Ibu Kathy ini mungkin adalah permintaan insentif tambahan. Bapak-Ibu semua semestinya jujur, agar tidak satu-satu, saya biasanya orang open saja, saya kan orang jual beli juga. Memang ada akomodasi tax nan negara kami berikan, tetapi itu diberikan kepada KKKS nan memang dianggap layak dan layak secara FS. Kalau IRR-nya kecil, kita memberikan insentif. Tapi jika IRR bagus, mbok jangan dong minta insentif lagi. Tapi jika untungnya tetap belum bagus, kita kasih insentif. Tapi jika nan sudah bagus, ya masa sih minta insentif lagi. Jadi, ya ada beberapa memang arsip di atas meja saya, saya tanyakan kepada Pak Joko, mana nan IRR-nya bagus. Kalau tidak bagus, kita bantu. Tapi jika sudah bagus, ya tahan-tahan sedikitlah, kira-kira begitu. Tetap kita bakal memperhatikan dengan baik.
Nah, saya pikir ini beberapa perihal nan perlu saya sampaikan menyangkut dengan izin-izin, kita bakal berusaha, saya tahu tetap banyak kendaraan juga di lapangan, dan kami juga melakukan terus-menerus untuk membantu Bapak-Ibu semua dalam rangka menjalankan apa nan menjadi kerjasama kita bersama. Dalam kaitannya dengan pemerataan, untuk di sektor hulu migas ini tidak hanya kita memikirkan perusahaan-perusahaan besar, saya meminta kepada teman-teman K3S nan telah ditunjuk untuk menerima hasil crude daripada golongan koperasi maupun UMKM nan di belakang rumahnya ada sumur minyak nan sudah terjadi selama puluhan tahun nan selama ini dikejar-kejar oleh oknum petugas lantaran memang, petugas pun tidak salah lantaran memang tidak ada izinnya gimana tidak dikejar. Sekarang kita sudah kasih legalisasinya, jadi masyarakat juga sekarang sudah bisa mengambil hasil bumi, minyak dengan baik. Tolong nan sudah dikasih tunjuk itu tolong diambil minyak cepat.
Ada Pertamina? Saya dengar katanya laporan Pertamina tetap lambat-lambat, tolong dipercepat Pertamina, jangan kalian pikir kalian bawa UMKM terus bisa buat lambat-lambat. Ya, ini saya kasih tau baik-baik duluan ini. Saya bakal sampaikan Equal Treatment. Bagi negara, berpihak kepada BUMN itu penting. Tapi, jauh lebih krusial adalah memikirkan semua kepentingan negara. K3S nan lain juga mempunyai kontribusi nan sama terhadap pembangunan bangsa dan negara di negara kita tercipta.
Bapak-Ibu semua terakhir dari kami. Ada slide ya. Saya mau mengumumkan untuk kita bakal membuka tender ada sekitar 118 blok baru untuk nan melakukan eksplorasi, dan dari 118 blok baru itu sudah sekitar 20 sudah selesai. Mana Dirjen Migas ya? 20 nan sudah selesai Pak Dirjen ya? Berarti tinggal 98? Dari 98 blok baru ini sudah ada. Bapak-Ibu semua silakan nan melakukan joint study, silakan, alias tidak ada juga nan mau lakukan, silakan. Ini saya buka secara umum. Siapa saja boleh. Tidak perlu nego-nego di belakang meja, nan krusial kalian punya teknologi, kalian punya duit. Kalian punya keseriusan. Silakan, monggo, Kelola ini hasil nan ada untuk kebaikan rakyat, bangsa, dan negara. Ini, saya buka ini. Jadi silakan, silakan. Tidak apa-apa. Nanti saya minta kepada Pak Dirjen lewat SKK dengan SKK bikin saja, jangan lobby-lobby dulu ya. Lobby dulu, aneh-aneh lagi, kongkalikong baru main. nan biasa bikin lama seperti itu.
Jangan kita Presiden sudah A, Menteri A, di bawah mulai A minus. Ya, Direktur A minus. Nanti Direktur sudah mulai B. Nanti apa lagi? Direktur itu apa namanya? Koordinator. Koordinator sudah B minus. nan biasa bikin kacau ini kor-kor ini. Koordinator, subkoordinator, verifikator gitu. Terakhir tor-tor-tor-tor gitu. Nah ini biasanya nan mutar itu di situ. Biasanya. Saya minta jangan lagi diperlambat. Investor ini pemain di K3S, di hulu migas ini risikonya besar. Jangan dipersulit, dipermudah.
Tapi jika pengusahanya nan sudah kita bantu, sudah sesuai aturan, tapi dia dalam implementasinya tetap aneh-aneh, nah itu perlu diluruskan itu. Berarti kita tidak mau melakukan kerja sama itu.
Kita butuh kerja sama nan baik, kita butuh kerjasama nan baik untuk saling mendukung agar apa nan menjadi mimpi cita-cita dan program kita bisa kita wujudkan bersama."
(wia)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·