Ironi Superpremium Labuan Bajo: Rapuhnya Keselamatan & Urgensi Transportasi Umum

Sedang Trending 59 menit yang lalu
Labuan Bajo. Foto: Rinjani Meisa/kumparan

Kualitas lokasi wisata bumi bukan sekadar soal keelokan alam alias kemegahan akomodasi, melainkan agunan keselamatan manusia. Saat Labuan Bajo diberi label 'superprioritas' dan 'superpremium', ekspektasi publik terhadap layanannya pun melambung. Sayangnya, realitas di lapangan belum sepenuhnya siap.

Tragedi menyantap korban jiwa kembali terjadi di Labuan Bajo. Dua visitor Austria tewas setelah jatuh di sekitar air terjun Cunca Wulang, Minggu (24/5/2026). Kejadian ini menambah daftar panjang kecelakaan wisata di lokasi wisata superprioritas, mulai dari jembatan ambruk hingga kapal tenggelam (Kompas, 26/05/2026).

Sebagai destinasi superprioritas, keselamatan wajib menjadi prioritas utama. Pemerintah dan pengelola tidak boleh berdiskusi dengan nyawa manusia. Sungguh ironis jika wisata bercap 'superpremium' ini justru abai terhadap keselamatan, hingga membikin visitor merasa sedang bertaruh nyawa.

Jika terus dibiarkan dan pemerintah tetap abai, bukan tidak mungkin Labuan Bajo bakal ditinggalkan oleh pelancong mancanegara. Bagaimanapun, visitor datang untuk bersenang-senang, bukan untuk mempertaruhkan nyawa akibat buruknya jasa dan prasarana pendukung. Tanpa adanya agunan keselamatan, reputasi Labuan Bajo taruhannya.

Pemerintah perlu menyiapkan anggaran unik demi keselamatan di Labuan Bajo. Dana ini kudu dikucurkan secara sinergis oleh kementerian dan lembaga mengenai demi menjamin keamanan serta kenyamanan para wisatawan.

Urgensi Pembenahan Transportasi Umum

Bandara Internasional Komodo. Foto: Shutterstock

Pada masa pemerintahan Presiden Joko Widodo, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) gencar membangun prasarana berupa jaringan jalan dan trotoar nan dilengkapi akomodasi halte. Namun sayangnya, rute pikulan nan tersedia saat ini tetap terbatas pada Angkutan Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) dari Bandara Komodo menuju area wisata Labuan Bajo. Belum ada integrasi pikulan umum nan dapat mengakomodasi kebutuhan visitor sekaligus aktivitas harian penduduk lokal, seperti untuk keperluan sekolah dan bekerja.

Transportasi umum di wilayah lokasi wisata hendaknya juga dibenahi, agar pelancong nyaman bermobilitas. Terlebih tahun 2028, Provinsi Nusa Tenggara Timur terpilih sebagai penyelenggara Pekan Olahraga Nasional (PON). Ini adalah momentum untuk sekaligus membenahi transportasi umum modern seperti kota-kota lain nan sudah mendapat support skema pembelian jasa (buy the service).

Urgensi pembenahan transportasi umum di destinasi superprioritas ini mencakup empat aspek. Pertama, menjamin keselamatan dan menekan akibat fatalitas. Berbagai kejadian kecelakaan visitor di Labuan Bajo, baik di darat maupun laut menunjukkan lemahnya standardisasi keamanan. Transportasi publik nan dikelola resmi umumnya mempunyai kepantasan kendaraan, sertifikasi pengemudi, dan rute nan lebih terukur. Pembenahan moda darat ini bakal meminimalkan ketergantungan visitor pada transportasi informal nan susah diawasi.

Kedua, mengatasi ketimpangan aksesibilitas antara visitor dan penduduk lokal. Saat ini, jasa modern seperti Angkutan KSPN baru menyentuh rute linier dari Bandara Komodo ke pusat wisata. Akibatnya, visitor kesulitan mengeksplorasi destinasi pendukung di luar jalur utama lantaran minimnya moda nan terintegrasi. Di sisi lain, penduduk lokal belum merasakan akibat langsung prasarana jalan dan halte dari Kementerian PUPR untuk mobilitas harian mereka. Transportasi umum nan inklusif bakal memecahkan masalah dua arah ini.

Ketiga, momentum menyambut PON 2028. Sebagai salah satu etalase utama di NTT, Labuan Bajo bakal menghadapi lonjakan besar pergerakan manusia, mulai dari atlet, ofisial, suporter, hingga jurnalis. Tanpa sistem transportasi publik nan modern dan terintegrasi, mobilitas selama arena olahraga terbesar nasional ini berpotensi lumpuh.

Keempat, mengangkat standar kota modern melalui skema Buy the Service (BTS). Banyak kota di Indonesia sukses mentransformasi transportasinya lewat skema pembelian jasa ini, pemerintah membeli jasa operator untuk menjamin pikulan nan aman, tepat waktu, dan nyaman. Sebagai destinasi 'superpremium', Labuan Bajo sudah sepatutnya menerapkan sistem serupa demi menghapus kesan bahwa wilayah ini hanya mahal di akomodasi, tetapi tertinggal dalam jasa publik dasar.

Menolak Jadi Potret Kelam Pariwisata Nasional

Pink Beach di Labuan Bajo. Foto: Adie Ichsan/kumparan

Kemewahan lokasi wisata tidak diukur dari megahnya hotel berbintang alias mahalnya tiket masuk, melainkan dari rasa kondusif nan dirasakan setiap orang di dalamnya. Membenahi sistem keselamatan dan mengintegrasikan transportasi publik bukan lagi pilihan, melainkan syarat absolut agar Labuan Bajo tidak kehilangan pesonanya dan berubah menjadi potret kelam pariwisata nasional.

Momentum PON 2028 kudu menjadi titik kembali bagi Provinsi Nusa Tenggara Timur, khususnya Labuan Bajo, untuk membuktikan bahwa pembangunan bentuk bisa melangkah selaras dengan peningkatan jasa publik.

Pembenahan transportasi umum di Labuan Bajo bukan lagi sekadar pelengkap estetika kota, melainkan investasi jangka panjang demi reputasi pariwisata nasional, keselamatan jiwa, dan kesiapan menyambut agenda besar masa depan. Hanya dengan langkah inilah, predikat 'superprioritas' betul-betul berarti bagi keselamatan visitor sekaligus kesejahteraan penduduk lokal.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan