Ironi Anggrek Indonesia: Kaya Spesies, Minim Penelitian

Sedang Trending 1 minggu yang lalu
Anggrek-anggrek Kalimantan (Dokumentasi Pribadi)

Oleh Muhammad Irfan Makruf

Asal: Mahasiswa S3 Biologi UGM

Indonesia dikenal sebagai negara megabiodiversitas dengan kekayaan anggrek Indonesia nan sangat tinggi. Hutan tropis Indonesia menjadi kediaman ribuan jenis anggrek nan tumbuh menempel di batang pohon, menggantung di cabang, hingga hidup di lantai hutan. Kondisi suasana tropis dengan curah hujan tinggi menjadikan Indonesia sebagai salah satu pusat biodiversitas anggrek terbesar di dunia. Namun, di kembali melimpahnya keanekaragaman anggrek Indonesia, penelitian ilmiah dan konservasi anggrek tetap belum memadai. Banyak jenis anggrek Indonesia belum dipelajari secara mendalam, sementara ancaman deforestasi terus membayangi kelestariannya. Padahal, penelitian dan identifikasi jenis merupakan langkah awal nan krusial dalam upaya konservasi keanekaragaman hayati.

Mengapa perhatian terhadap kekayaan anggrek di rimba tropis Indonesia tetap minim, meskipun perubahan suasana dan deforestasi terus menjadi sorotan utama?

Di Pulau Kalimantan (termasuk wilayah Malaysia dan Brunei) nan diperkirakan mempunyai sekitar 2.500-3.000 jenis anggrek, dengan sekitar 40% di antaranya merupakan endemik. Luas rimba tropisnya jauh melampaui Pulau Jawa, tetapi kajian taksonomi anggrek di wilayah ini belum berkembang secara masif. Aktivitas penelitian tetap terkonsentrasi di wilayah nan lebih mudah dijangkau.

Kondisi serupa juga terjadi di Papua. Wilayah ini tercatat mempunyai 2.857 jenis anggrek, dengan sekitar 86% di antaranya endemik. Angka tersebut menunjukkan sungguh kayanya biodiversitas di Papua. Namun, banyak jenis hidup di area terpencil nan susah dijangkau, sementara jumlah peneliti dan pendanaan tetap terbatas. Akibatnya, banyak anggrek nan keberadaannya belum terdokumentasi dengan baik.

Penelitian taksonomi merupakan fondasi krusial dalam memahami keanekaragaman hayati. Melalui kajian ini, identitas jenis dapat dipastikan dengan kajian genetika untuk menelusuri hubungan evolusi, serta morfologi dan anatomi untuk memahami struktur dan penyesuaian tumbuhan. Seluruh proses tersebut bermaksud mendukung upaya konservasi nan tepat sasaran.

Spesies anggrek Kalimantan apa saja nan mempunyai nilai komersial tetapi tetap minim penelitian dalam mendukung upaya konservasi?

Beberapa genus anggrek Kalimantan seperti Coelogyne, Dendrobium, Phalaenopsis, dan Paraphalaenopsis mempunyai nilai tinggi dalam industri hortikultura lantaran karakter corak dan warna bunganya. Bahkan jenis Phalaenopsis amabilis diberi julukan oleh pemerintah sebagai puspa pesona Nasional dan menjadi gambar pada duit Rp. 100.000 berbareng Coelogyne pandurata pada duit RP. 20.000. Genus-genus anggrek ini diketahui terdiri atas beragam spesies, apalagi beberapa diantaranya endemik dan telah dilindungi. Namun, kajian taksonomi dan konservasi terhadap genus-genus tersebut tetap terbatas. Hal ini menunjukkan bahwa tetap banyak aspek biodiversitas anggrek Kalimantan nan belum tersentuh penelitian nasional.

Keterbatasan info juga terlihat pada status konservasi. Banyak jenis anggrek nan belum tercatat dalam daftar IUCN, bukan semata lantaran spesiesnya aman, melainkan lantaran penelitian nan tersedia tetap minim, terutama di wilayah terpencil. Dengan kata lain, ada kemungkinan sejumlah jenis terancam punah sebelum sempat teridentifikasi secara ilmiah.

Persoalan ini menjadi semakin serius ketika dihadapkan pada laju kerusakan habitat. Deforestasi akibat pembukaan lahan pertanian, perkebunan kelapa sawit, dan pertambangan terus mengikis rimba tropis. Di sisi lain, perdagangan anggrek liar secara berlebihan juga tetap berlangsung. Padahal, anggrek mempunyai siklus hidup nan kompleks. Biji anggrek berukuran sangat mini dan hanya sebagian mini nan bisa tumbuh menjadi perseorangan baru di alam.

Di kembali ancaman tersebut, anggrek jenis sebenarnya menyimpan potensi besar, baik secara ekologis maupun ekonomi. Dalam industri hortikultura, anggrek jenis sering dimanfaatkan sebagai indukan persilangan untuk menghasilkan varietas baru berbobot jual tinggi. Keragaman corak dan warna bunganya menjadikan anggrek sebagai sumber daya genetik nan sangat berharga.

Dalam beragam tradisi pengobatan di Asia, khususnya Tiongkok, sekitar 130 jenis anggrek telah lama digunakan sebagai bahan obat tradisional. Beberapa jenis anggrek tanah diketahui mengandung senyawa fitokimia nan mempunyai potensi dikembangkan sebagai pengobatan beragam penyakit, seperti glukosuria dan peradangan.

Sementara itu, di Indonesia anggrek mempunyai peran dalam kehidupan budaya Masyarakat sebagai bahan sandang berbobot seni. Di Sulawesi Tenggara, masyarakat Tolaki memanfaatkan akar anggrek serat (Dendrobium utile) sebagai bahan kerajinan tradisional. Sementara di Papua, beberapa jenis Dendrobium dan Bulbophyllum digunakan sebagai pelapis tas noken nan meningkatkan nilai jual secara signifikan. Praktik ini menunjukkan bahwa anggrek tidak hanya berbobot ekologis, tetapi juga sosial dan ekonomi.

Melihat besarnya potensi tersebut, peningkatan riset mengenai keanekaragaman anggrek bukan lagi sekadar kebutuhan, melainkan sebuah keharusan nan mendesak. Pemerintah perlu memberikan perhatian unik melalui pendanaan penelitian keanekaragaman hayati, termasuk anggrek. Kolaborasi antara akademisi, kebun raya, dan lembaga penelitian perlu ditingkatkan, terutama untuk aktivitas eksplorasi di wilayah terpencil seperti Kalimantan dan Papua.

Keterlibatan masyarakat juga menjadi langkah penting. Masyarakat budaya telah lama hidup berdampingan dengan rimba dan mempunyai pengetahuan mengenai keberadaan serta pemanfaatan anggrek. Dengan pendekatan nan tepat, Masyarakat dapat berkedudukan dalam pencatatan, pemantauan, hingga konservasi anggrek di kediaman alaminya. Sosialisasi mengenai pentingnya menjaga anggrek juga perlu dilakukan agar pemanfaatan tidak berujung pada pemanfaatan berlebihan.

Pada akhirnya, keanekaragaman anggrek Indonesia adalah aset ilmiah dan ekologis nan tak ternilai. Kekayaan ini dapat menarik perhatian dunia, tetapi tanpa riset nan memadai, potensi tersebut bakal lenyap begitu saja. Tanpa riset nan memadai, anggrek Indonesia bisa punah sebelum sempat dikenali. Kehilangan itu bukan hanya kehilangan spesies, tetapi juga hilangnya warisan alam bangsa.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan