Jakarta, CNBC Indonesia - Blokade laut nan diberlakukan Amerika Serikat (AS) terhadap Iran telah mencekik jalur-jalur ekonomi utama Republik Islam tersebut - sehingga Teheran sekarang dihadapkan pada krisis penyimpanan minyak nan semakin mendekat. Sementara warganya kudu berjuang menghadapi kenaikan nilai pangan dan melonjaknya nomor pengangguran.
Namun, sejatinya, jika blokade laut terus diperpanjang AS, tetap bakal susah untuk sepenuhnya menghancurkan ekonomi Iran nan telah bertahun-tahun beradaptasi dengan tekanan AS dan hukuman nan melumpuhkan.
Dan meskipun Iran sedang menderita, para pemimpinnya menyadari bahwa Trump juga berada di bawah tekanan, dengan Presiden AS menghadapi reaksi keras nan semakin meningkat mengenai perang di dalam negeri dan pemilu tengah periode nan krusial semakin dekat. Teheran mungkin telah menghitung bahwa Trump bakal menyerah lebih dulu.
Hanya tiga bulan nan lalu, pemerintah Iran berada di periode kehancuran setelah rakyat turun ke jalan di seluruh negeri untuk memprotes penanganan ekonomi nan buruk. Pemerintah nan sama itu diberi kesempatan kedua ketika AS dan Israel melancarkan serangannya, dan sekarang menggunakan dalih perang untuk membenarkan kondisi ekonomi nan parah kepada 92 juta penduduknya.
"Iran telah menghadapi kampanye tekanan maksimum pada masa kedudukan pertama Trump, dan terpaksa memangkas produksi minyaknya hingga setengahnya," kata Esfandyar Batmanghelidj, CEO lembaga think-tank Borse and Bazaar, kepada CNN, dikutip Minggu (26/4/2026).
"Jika blokade ini berjalan selama berbulan-bulan, perihal itu pasti bakal berakibat pada prospek ekonomi Iran, tetapi pihak Iran memperkirakan bahwa AS sendiri tidak bakal bisa menahan tekanan tersebut dalam jangka waktu nan begitu lama."
Aksi blokade pelabuhan-pelabuhan Iran nan dimulai lebih dari sepuluh hari lampau sekarang telah meluas ke seluruh dunia, dengan setiap kapal nan mengenai dengan Iran diawasi secara ketat oleh angkatan laut AS sepanjang perjalanannya.
Salah satu akibat utama dari blokade ini adalah membikin Iran tidak bisa mengekspor komoditas utamanya. Jika negara tersebut tidak dapat mengalirkan jutaan barel minyak nan diproduksinya setiap hari, Iran mungkin terpaksa mengurangi produksinya. Ekspor minyak mentah dan produk minyak bumi merupakan sumber utama mata duit asing bagi Iran.
"Iran kemungkinan tetap dapat mempertahankan produksi minyak saat ini selama dua hingga tiga bulan lagi sebelum masalah penyimpanan menjadi pertimbangan nan signifikan," kata Batmanghelidj.
"Iran juga tetap mempunyai ruang penyimpanan minyak darat nan cukup," kata firma kajian pengiriman Kpler. Tercatat bahwa negara tersebut mempunyai ruang kosong nyaris 30 juta barel, nan berfaedah tetap beberapa minggu lagi sebelum mencapai batasnya.
Hal itu apalagi bisa memperpanjang kapabilitas penyimpanan lebih lama lagi jika Iran menemukan langkah lain untuk memindahkan minyak nan disimpan.
Salah satu opsi nan sedang dipertimbangkan Iran adalah menggunakan kapal tanker minyak mentahnya nan sudah tidak beraksi lagi. Sebuah kapal tanker besar berumur 30 tahun berjulukan NASHA terlihat berlayar menuju terminal penyimpanan minyak di Pulau Kharg, kemungkinan untuk memindahkan minyak dan berfaedah sebagai tempat penyimpanan terapung, demikian menurut Tankertrackers.com, sebuah perusahaan intelijen maritim nan memantau pengiriman minyak mentah.
(pgr/pgr)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·