Ilustrasi.(Magnific)
PEMERINTAH Iran menegaskan sikap kerasnya untuk tetap mempertahankan kewenangan pengayaan uranium dan kendali penuh atas Selat Hormuz dalam setiap kesepakatan tenteram dengan Amerika Serikat (AS). Pernyataan ini muncul pada Jumat (12/6/2026), tak lama setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa draf kesepakatan telah siap untuk ditandatangani.
Meski Trump menunjukkan optimisme tinggi, instansi buletin resmi Iran, IRNA, melaporkan bahwa penghapusan material nuklir yang diperkaya--sebagaimana nan dituntut oleh Israel--bahkan tidak masuk dalam agenda pembahasan. Teheran menegaskan bahwa kedaulatan atas program nuklir dan jalur maritim strategis adalah nilai mati.
Negosiasi di Tengah Sisa Konflik
Iran dan Amerika Serikat terlibat dalam negosiasi tidak langsung selama beberapa pekan terakhir. Upaya diplomasi ini bermaksud mengakhiri perang nan dipicu oleh serangan AS-Israel ke Republik Islam tersebut pada 28 Februari lalu. Walaupun gencatan senjata bertindak sejak April, kekerasan sporadis tetap terus terjadi, memicu kekhawatiran bakal kembalinya perang skala penuh.
Berdasarkan nota kesepahaman awal, IRNA menyebut bahwa kedua negara bakal mengadakan pembicaraan selama 60 hari ke depan. "Hak Iran untuk memperkaya uranium dan retensi material nan diperkaya bakal ditekankan untuk dimasukkan ke dalam perjanjian final," tulis laporan tersebut.
Selain rumor nuklir, Iran bersikeras untuk tetap mengelola lampau lintas di Selat Hormuz, rute perdagangan maritim utama untuk minyak dan gas global. Teheran memblokade jalur internasional tersebut sejak pecahnya perang dan hanya mengizinkan segelintir kapal melintas dengan izin unik dari angkatan bersenjata mereka.
Poin Utama Draf Kesepakatan (Versi Kantor Berita Mehr):
- Pengakhiran perang di semua lini, termasuk Libanon.
- Pencairan aset Iran nan dibekukan senilai US$24 miliar.
- Penangguhan hukuman penjualan minyak dan produk petrokimia Iran.
- Pencabutan blokade angkatan laut AS di pelabuhan-pelabuhan Iran.
- Tuntutan reparasi perang dan rencana rekonstruksi senilai US$300 miliar dari AS dan sekutunya.
Optimisme Trump vs Skeptisisme Israel
Presiden Donald Trump mengeklaim bahwa draf kesepakatan disetujui oleh tingkat kepemimpinan tertinggi Iran, termasuk Pemimpin Agung Ayatollah Mojtaba Khamenei. Trump apalagi membatalkan rencana gelombang pengeboman terhadap target-target di Iran pada Kamis lalu, sembari menyatakan bahwa waktu dan tempat penandatanganan bakal segera diumumkan.
Namun, klaim Trump ini berbenturan dengan posisi Israel. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa Trump berjanji kepadanya bahwa setiap perjanjian kudu mencakup penghapusan material nuklir Iran dan pembongkaran prasarana rudal mereka. "Selama saya menjadi Perdana Menteri Israel, Iran tidak bakal mempunyai senjata nuklir," tegas Netanyahu.
Di Teheran, reaksi penduduk sipil condong terbelah. Beberapa penduduk cemas bahwa kesepakatan dengan AS justru bakal memperkuat posisi otoritas nan berkuasa saat ini. "Tujuan utama perang ini bagi AS adalah mengubah sistem, tetapi itu tidak terjadi. Jadi, apa gunanya kesepakatan ini bagi kami?" ujar seorang pekerja kafe di Teheran kepada AFP.
Hingga saat ini, pasar saham dunia mulai merespons positif optimisme Trump dengan reli nilai saham dan penurunan tajam nilai minyak dunia. Namun, tuntutan keras Iran mengenai Selat Hormuz dan pengayaan nuklir diprediksi tetap bisa menunda penandatanganan akhir kesepakatan tersebut. (I-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·