Jakarta, CNBC Indonesia - Iran mengusulkan proposal baru untuk meredakan ketegangan di Selat Hormuz dengan menawarkan untuk mengakhiri kontrol ketatnya atas jalur pelayaran strategis tersebut. Sebagai imbalannya, Teheran meminta Amerika Serikat (AS) mencabut blokade terhadap negaranya.
Namun, proposal ini tidak mencakup pembahasan soal program nuklir Iran, rumor utama nan selama ini menjadi tuntutan Washington. Langkah itu dinilai berpotensi menyulitkan tercapainya kesepakatan komprehensif antara kedua negara, menurut dua pejabat regional nan mengetahui langsung negosiasi tersebut.
Proposal Iran tersebut dilaporkan telah diteruskan ke Washington melalui Pakistan, nan belakangan aktif menjadi mediator. Meski demikian, Presiden AS Donald Trump mengisyaratkan pembicaraan tidak kudu dilakukan secara langsung dan bisa melalui komunikasi jarak jauh.
Trump menegaskan posisi negaranya tetap keras. Ia menuntut Iran menghentikan ambisi nuklir sebagai bagian dari kesepakatan menyeluruh.
"Kami mempunyai semua kartu. Jika mereka mau berbicara, mereka dapat datang kepada kami, alias mereka dapat menghubungi kami," ujar Trump kepada Fox News.
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi tengah melakukan safari diplomatik, termasuk ke Rusia. Ia tiba di St. Petersburg untuk berjumpa Presiden Vladimir Putin guna membahas perkembangan bentrok dengan AS dan Israel.
"Ini adalah kesempatan nan baik bagi kami untuk berkonsultasi dengan teman-teman Rusia kami tentang perkembangan nan telah terjadi mengenai perang selama periode ini," kata Araghchi, seperti dikutip Associated Press.
Kebuntuan di Selat Hormuz tetap bersambung meski gencatan senjata telah diperpanjang tanpa pemisah waktu sejak 7 April. Jalur sempit nan menghubungkan Teluk Persia dengan pasar dunia itu biasanya dilalui sekitar 20% perdagangan minyak dan gas dunia.
Dampaknya, nilai minyak melonjak tajam. Kontrak minyak mentah Brent untuk Juni sekarang diperdagangkan sekitar US$107 per barel, naik signifikan dari sekitar US$72 per barel sebelum bentrok pecah.
Lonjakan nilai terjadi seiring terganggunya pengedaran daya global. Sejumlah kapal tanker dilaporkan tertahan di Teluk Persia lantaran kekhawatiran keamanan, sehingga pasokan minyak, gas alam cair, hingga pupuk ikut tersendat.
Sementara itu, Iran juga berupaya melibatkan Oman dalam skema pengelolaan lampau lintas kapal di Selat Hormuz, termasuk kemungkinan pengenaan tol. Namun, respons Muscat terhadap usulan tersebut belum jelas.
(tfa/luc)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·