Iran Sesungguhnya Menang Perang Lawan AS, Ini Buktinya

Sedang Trending 5 bulan yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran memasuki babak baru setelah kesepakatan gencatan senjata selama dua minggu resmi diumumkan. Namun, di kembali narasi deeskalasi nan digaungkan Washington, situasi di lapangan menunjukkan realitas nan jauh berbeda, di mana Negeri Paman Sam dianggap kandas memaksakan kehendaknya lewat kekuatan militer.

Langkah mendadak Donald Trump ini dinilai bukan sebagai tanda kemenangan. Melainkan manuver darurat untuk menghindari kerugian politik dan ekonomi nan lebih besar bagi AS sendiri.

Pandangan tajam ini disampaikan oleh Presiden Pusat Studi Timur Tengah dan Dosen Tamu di Universitas HSE Moskow, Rusia, Murad Sadygzade. Menurutnya, apa nan terjadi saat ini bukanlah akhir dari konflik, melainkan sekadar "ruang bernapas" di tengah perang nan belum usai.

"Apa nan sebenarnya terjadi adalah interupsi paksa, nan dicapai di bawah tekanan dan dikelilingi oleh interpretasi nan tidak kompatibel antara Washington dan Teheran," ujar Sadygzade dalam analisisnya, dimuat RT, Kamis (9/4/2026).

Bagi banyak pengamat internasional, Iran justru muncul sebagai pemenang dalam pertempuran fase ini. Teheran dinilai bisa meredam gempuran, membalas dengan kekuatan dan martabat, serta menolak untuk menyerah.

"AS dan Israel berambisi dapat menentukan patokan bentrok dan kemudian menyajikan kemunduran Iran nan dipaksakan sebagai bukti kemenangan mereka sendiri. Apa nan terjadi dalam praktiknya justru sebaliknya," jelas Sadygzade.

Washington Mundur Teratur

Strategi AS nan mengandalkan tekanan maksimal dan retorika intimidasi disebut menemui jalan buntu. Sadygzade menilai Iran membuktikan bahwa sebuah negara besar dengan sistem politik nan handal tidak bisa dipatahkan hanya dengan satu siklus serangan, meski menimbulkan kerusakan besar.

"Donald Trump melakukan pembalikan mendadak pada jam-jam terakhir sebelum berakhirnya ultimatumnya sendiri. Hal ini tidak boleh dibaca sebagai aktivitas percaya diri dari seorang pemenang, tetapi sebagai manuver terpaksa dari seorang pemimpin nan mendesak mencari jalan keluar dari konfigurasi nan semakin berbahaya," papar Sadygzade.

Sadygzade menambahkan bahwa sebelum gencatan senjata diumumkan, retorika AS telah meningkat menjadi ancaman terhadap prasarana sipil Iran. Pergeseran mendadak ke arah negosiasi menunjukkan bahwa tekanan militer mulai berbalik merugikan pihak Amerika sendiri.

"Melanjutkan perang menakut-nakuti Washington dengan beragam lapisan biaya. Ketidakpastian militer tetap tinggi, sekutu merasa tidak nyaman, pasar bereaksi gugup, dan prospek bentrok berkepanjangan tanpa hasil nan meyakinkan menjadi semakin nyata," tuturnya.

Kerugian Iran Malah Menguatkan 

Secara militer, AS dan Israel memang sukses menghantam prasarana Iran secara signifikan. Namun, Sadygzade menegaskan bahwa perang tidak bisa diukur hanya dari jumlah sasaran nan hancur, melainkan dari hasil politiknya.

"Tekanan eksternal pada skala ini nyaris selalu menghasilkan pengaruh ganda. Ini meningkatkan rasa takut, kelelahan, dan kemarahan, namun juga dapat memperkuat rasa organisasi sejarah secara tajam, terutama ketika masyarakat memandang peristiwa tersebut sebagai serangan terhadap negara itu sendiri," ungkap Sadygzade.

Menurut Sadygzade, serangan AS dan Israel justru menyatukan rakyat Iran di bawah logika kelangsungan hidup nasional. Ketidakpuasan internal terhadap pemerintah surut demi menghadapi agresi luar.

"Dalam perihal itu, AS dan Israel mencapai kebalikan dari apa nan mereka maksudkan. Alih-alih melonggarkan ikatan internal masyarakat Iran, mereka berkontribusi untuk memperketatnya," tegas Sadygzade.

Ia juga menyoroti gimana Iran sukses merebut inisiatif politik. Jika satu sisi memulai perang dengan angan memaksa kapitulasi namun berhujung dengan mediasi, maka kreasi aslinya telah gagal.

Guncangan ke Seluruh Dunia

Konflik ini juga merusak gambaran AS sebagai pelindung keamanan di Timur Tengah. Negara-negara monarki Arab sekarang mulai meragukan "payung militer" Amerika lantaran setiap konfrontasi besar dengan Iran otomatis mengubah prasarana daya dan jalur pelayaran mereka menjadi area akibat tinggi.

"Itulah sebabnya reaksi pasar Teluk terhadap gencatan senjata tampak nyaris euforia dalam kelegaan mereka-relief besar bahwa area tersebut, setidaknya untuk sementara, telah mundur dari tepi malapetaka," kata Sadygzade.

Bahkan sekutu Eropa pun tampak menjaga jarak. Sadygzade menilai AS kandas "menjual" proyek perang Iran ini kepada sekutu-sekutunya, nan lebih memilih diplomasi daripada mengikuti kampanye militer Washington.

"Selama beberapa dekade, AS berupaya mempresentasikan dirinya bukan hanya sebagai sumber ketertiban global. Namun dengan perang Iran dan konsekuensinya, kekuatan Amerika semakin dipandang sebagai produsen kekacauan," tambahnya.

Peluang Damai nan Tipis

Gencatan senjata saat ini dianggap hanya sebagai penghentian taktis, bukan penyelesaian strategis. Sadygzade mengungkapkan bahwa Iran telah mengusulkan 10 poin rencana perdamaian melalui perantara Pakistan nan berisi syarat-syarat nan sebelumnya pernah ditolak AS.

"Washington mau jarak ini dilihat sebagai buah dari kekuatan. Teheran mau itu dilihat sebagai buah dari ketahanan dan perlawanan nan sukses. Inilah perjuangan utama dalam proses negosiasi," jelas Sadygzade.

Faktor Israel 

Sementara perhatian bumi tertuju pada perang melawan Iran, Israel dinilai sukses memanipulasi ruang info untuk melanjutkan agenda militernya di Lebanon Selatan tanpa pengawasan ketat.

"Netanyahu sebagian besar sukses menarik diri dari pusat perhatian kritis pada saat nan paling menguntungkan baginya. Jika jarak ini tidak meluas ke Lebanon, maka itu berfaedah perang belum betul-betul berakhir-itu hanya dikonfigurasi ulang secara parsial," kata Sadygzade.

Sebagai penutup, Sadygzade menekankan bahwa bumi sekarang memandang batas-batas kekuatan Amerika. Washington mungkin tetap bisa memicu musibah regional, tetapi tidak lagi bisa mengubah eskalasi militer menjadi tatanan politik nan stabil dengan cepat.

"Dunia memandang bahwa Iran dapat terluka parah, namun susah untuk dipatahkan. Itulah sebabnya jarak saat ini dirasakan bukan sebagai kemenangan kekuatan Amerika, tetapi sebagai bukti dari keterbatasannya," pungkas Sadygzade.

(tps/sef) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News