Iran Sandera Ekonomi Dunia, Bola Panas di Tangan Trump

Sedang Trending 1 minggu yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Kebuntuan negosiasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran dinilai bukan sekadar persoalan diplomasi biasa. Di mata sejumlah pengamat dan mantan diplomat nan pernah terlibat dalam pembebasan sandera Amerika di Iran, pola nan digunakan Teheran saat ini menyerupai strategi negosiasi sandera nan telah lama diterapkan Republik Islam tersebut.

Mantan diplomat AS nan pernah terlibat dalam perundingan pembebasan penduduk Amerika di Penjara Evin menilai Iran selalu memandang negosiasi melalui konsep "kepemilikan". Ia menggambarkan pengalaman berhadapan langsung dengan pejabat keamanan Iran dalam beragam negosiasi sandera.

"Mereka mempunyai sesuatu nan kita inginkan, dan mereka bakal menahannya sampai kita bersedia bayar nilai nan cukup," tulisnya, seperti dikutip dari CNN International, Selasa (9/6/2026).

Menurutnya, pendekatan ini berbeda dengan Washington nan umumnya mengandalkan tekanan ekonomi, sanksi, dan kekuatan politik untuk memaksa musuh memenuhi tuntutan. Sebaliknya, Teheran berupaya meningkatkan nilai tawarnya dengan menguasai aset alias kepentingan nan dibutuhkan pihak lain, lampau menahannya hingga memperoleh konsesi nan diinginkan.

Pola tersebut terlihat jelas dalam kesepakatan pertukaran tahanan pada September 2023. Saat itu, AS dan Iran menyepakati pembebasan lima penduduk Amerika nan ditahan di Iran. Sebagai bagian dari kesepakatan, Washington menyetujui transfer biaya Iran senilai US$6 miliar alias sekitar Rp108,57 triliun dari Korea Selatan ke Qatar melalui sistem unik nan hanya dapat digunakan untuk transaksi kemanusiaan.

Namun, situasi berubah drastis setelah serangan Hamas ke Israel pada 7 Oktober 2023. Washington kemudian kembali membatasi akses Iran terhadap biaya tersebut, sehingga hingga sekarang biaya itu tetap tidak dapat digunakan secara bebas oleh Teheran.

Kini, menurut kajian tersebut, Iran menerapkan logika nan sama dalam skala nan jauh lebih besar. Jika sebelumnya nan dijadikan perangkat tawar adalah penduduk negara AS nan ditahan, kali ini nan dipertaruhkan adalah akses terhadap Selat Hormuz, salah satu jalur daya paling vital di bumi nan menampung sekitar seperlima perdagangan minyak global.

Pandangan itu diperkuat oleh pernyataan penasihat militer Pemimpin Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei. Ia menyatakan Selat Hormuz tidak bakal dibuka kembali sebelum AS melepaskan aset Iran nan dibekukan senilai US$24 miliar alias sekitar Rp434,28 triliun.

"Anda kudu melepaskannya. Jika Trump menganggap negosiasi ini serius, maka US$24 miliar ini adalah ujian kepercayaan. Ini adalah ujian nan kudu dilewati Amerika," kata Rezaei.

Permintaan tersebut mencakup biaya US$6 miliar nan sebelumnya menjadi bagian dari kesepakatan pertukaran tahanan tahun 2023. Bagi Teheran, tuntutan itu menunjukkan bahwa pembicaraan saat ini dipandang sebagai kelanjutan dari model negosiasi nan sama, hanya dengan nilai taruhan nan jauh lebih besar.

Di sisi lain, pemerintahan Presiden Donald Trump berupaya membalikkan posisi tawar Iran melalui tekanan ekonomi nan lebih agresif, termasuk upaya menekan ekspor minyak negara tersebut. Strategi itu bermaksud menciptakan kerugian ekonomi nan lebih besar bagi Iran dibandingkan untung nan bisa diperoleh dari mempertahankan kebuntuan.

Meski demikian, para tokoh garis keras nan sekarang mempunyai pengaruh besar di Teheran diyakini tidak mudah mengubah sikap. Iran menilai AS menghadapi tekanan ekonomi dunia nan meningkat akibat terganggunya perdagangan daya dan jalur pelayaran internasional, sehingga Washington dianggap lebih memerlukan kesepakatan dibandingkan Teheran.

Kondisi tersebut membikin pilihan AS semakin terbatas. Washington dapat terus memperkuat sembari menunggu tekanan ekonomi menghantam Iran, bayar tuntutan nan diajukan Teheran demi memulihkan kondisi sebelum konflik, alias mengambil langkah militer untuk mengamankan jalur pelayaran strategis tersebut. Namun masing-masing opsi membawa akibat politik, ekonomi, maupun keamanan nan besar.

Selama keseimbangan daya tawar belum berubah, Iran diyakini bakal terus mempertahankan aset strategis nan dimilikinya. Akibatnya, negosiasi antara kedua negara berpotensi tetap berada dalam kondisi buntu, tanpa terobosan berfaedah dalam waktu dekat.

(tfa/luc)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News