Jakarta, CNBC Indonesia - Otoritas tertinggi Iran membantah keras klaim sepihak Amerika Serikat mengenai tercapainya kesepakatan tenteram untuk mengakhiri perang total di Timur Tengah pada Kamis, (11/06/2026). Melalui media resmi pemerintah, Fars, pihak Teheran menegaskan lewat saluran Telegram bahwa mereka sama sekali belum menyetujui draf teks apa pun mengenai nota kesepahaman (MOU) awal nan disodorkan oleh pihak Washington.
Sebaliknya, Fars menilai pengumuman mendadak dari Washington merupakan sebuah strategi mundur alias retret taktis dari ancaman militer lantaran kandas memaksakan klausul baru ke dalam draf perjanjian nan sebelumnya diajukan oleh Iran. Pihak Teheran menyatakan bahwa alih-alih memberikan respons kesepakatan akhir, situasi di meja perundingan justru menunjukkan bahwa pihak Amerika Serikat lah nan melunak dan terpaksa kembali ke tuntutan awal mereka.
"Realitas nan terjadi hingga saat ini adalah, tidak hanya Iran belum memberikan respons akhir, tetapi pihak Amerika Serikat lah nan sebenarnya telah kembali ke tuntutan mereka nan sebelumnya," tulis media Fars dalam laporan terjemahan resmi mengenai situasi konfrontasi diplomatik kedua negara.
Meski demikian, pihak Fars mengindikasikan bahwa proses diplomasi belum sepenuhnya meninggal total. Otoritas Teheran memandang adanya kesempatan untuk memeriksa kembali draf tersebut lantaran pada akhirnya pihak Gedung Putih bersedia melunak dan menerima teks usulan nan dirancang oleh pihak Iran.
"Tentu saja, tampaknya mengingat bahwa AS telah menerima teks nan diusulkan oleh Iran, ada kemungkinan untuk memeriksa kembali teks ini," tambah Fars memberikan lampu hijau tipis bagi prospek perdamaian di area Teluk.
Reaksi keras dan sanggahan dari Teheran ini mencuat sesaat setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeklaim secara sepihak di Ruang Oval bahwa kedua negara telah mencapai kesepakatan besar nan tinggal menunggu finalisasi arsip resmi. Trump menyatakan optimistis prosesi penandatanganan sejarah baru tersebut bakal terlaksana dalam beberapa hari ke depan dan berjanji bakal langsung membuka kembali Selat Hormuz bagi jalur pasokan daya dunia.
"Berdasarkan kebenaran bahwa obrolan dengan Republik Islam Iran telah dibawa ke tingkat tertinggi kepemimpinan Iran dan disetujui, saya, sebagai Presiden Amerika Serikat, telah membatalkan agenda serangan dan pemboman terhadap Iran malam ini," tegas Presiden AS Donald Trump dalam pernyataan resminya di media sosial Truth Social mengenai argumen pembatalan operasi militer tersebut.
Padahal, beberapa jam sebelum mengeklaim perdamaian, Trump sempat menebar ancaman mengerikan di media sosial miliknya bahwa militer Amerika Serikat bakal menghantam Iran "sangat keras malam ini" serta bersiap mencaplok Pulau Kharg guna menguasai total pasar minyak dan gas milik Negeri Persia tersebut.
Sebagai corak unjuk kekuatan, Trump juga menegaskan bahwa operasi blokade angkatan laut terhadap pelabuhan-pelabuhan logistik Iran di Teluk Oman bakal tetap diberlakukan secara penuh hingga transaksi norma perdamaian ini difinalisasi secara resmi oleh kedua belah pihak.
(tps/tps)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·