Jakarta, CNBC Indonesia - Iran meningkatkan nilai bensin nan digunakan rakyatnya, Selasa (8/9/2026). Ini menjadi tekanan ekonomi terbaru akibat perang nan berjalan sdengan Amerika Serikat (AS).
Dalam pengumumannya, pemerintah tidak menyebut secara spesifik perang dengan Washington. Tapi pemerintah mengatakan kenaikan lantaran "situasi saat ini".
Pemerintah pun menambahkan bahwa biaya tambahan dari kenaikan bakal disalurkan kepada rumah tangga. Kenaikan tersebut merupakan nan kedua setelah Desember 2025.
Berdasarkan sistem baru ini, penduduk nan membeli bensin melampaui kuota bulanan sebesar 110 liter sekarang kudu bayar 100.000 rial (Rp 1.282) per liter. Angka ini dua kali lipat dari nilai nan bertindak sejak Desember.
Sebenarnya, Iran tetap mempunyai salah satu nilai bensin terendah di dunia. Namun kenaikan nilai ini menambah tekanan sehari-hari bagi banyak dari lebih dari 90 juta penduduknya.
Nilai mata duit negara itu sebelumnya telah merosot ke rekor terendah dan daya beli masyarakat pun melemah. Pada hari Senin, nilai tukar dolar AS tercatat sebesar 2,22 juta rial.
Mengutip Arab News nan melansir IRNA, CEO perusahaan pengedaran minyak milik negara, National Iranian Oil Products Distribution Company (NIOPDC), Keramat Veis Karami, mengatakan bahwa tarif bensin baru bakal berakibat pada 15% konsumen. Ia menyatakan bahwa konsumsi mencapai rekor tertinggi sebesar 145 juta liter per hari pada bulan Agustus sementara kapabilitas produksi dalam negeri hanya 122 juta liter per hari.
Sementara itu, para mahir juga beranggapan bahwa kenaikan nilai bensin bakal memicu inflasi nan lebih tinggi. Saat ini, tingkat inflasi tahunan Iran tercatat sekitar 67%.
"Ini baru langkah awal. Dalam beberapa bulan mendatang, mereka pasti perlu meningkatkan nilai lagi," kata penduduk berjulukan Rahimi.
"Kami cemas kenaikan nilai bensin bakal berakibat pada nilai barang-barang lain, termasuk roti dan daging," ujar penduduk lainnya, Ali Salari.
"Hidup menjadi susah bagi kita semua. Bahkan bahan pangan pokok pun sekarang susah terjangkau. Jika nilai bensin juga ikut naik, keadaan bakal menjadi jauh lebih buruk," tambah Hamid Mirzei.
Selama beberapa generasi, bensin murah telah dianggap sebagai kewenangan dasar masyarakat Iran. Hal ini apalagi pernah memicu demonstrasi massal sejak tahun 1964, ketika kenaikan nilai memaksa Shah Iran mengerahkan kendaraan militer ke jalanan untuk menggantikan peran pengemudi taksi nan sedang mogok kerja.
(sef/sef)
[Gambas:Video CNBC]
6 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·