Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menunjukkan sikap nan makin tidak sabar terhadap proses negosiasi dengan Iran. Di tengah ketidakpastian nasib perundingan tenteram dan ancaman Teheran untuk menutup total Selat Hormuz, Trump apalagi secara terbuka menyatakan dirinya tidak peduli jika pembicaraan tersebut berhujung tanpa kesepakatan.
Pernyataan itu muncul saat ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat akibat operasi militer Israel di Lebanon terhadap Hizbullah, golongan nan didukung Iran. Situasi tersebut memicu laporan bahwa Iran mempertimbangkan menghentikan perbincangan dengan Washington sekaligus memperketat blokade di Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis nan menjadi salah satu urat nadi perdagangan daya dunia.
Dalam wawancara melalui telepon dengan CNBC pada Senin (1/6/2026) waktu setempat, Trump meremehkan kemungkinan runtuhnya proses diplomasi nan selama beberapa pekan terakhir menjadi konsentrasi upaya penghentian perang.
"Saya tidak peduli jika pembicaraan itu berakhir, sejujurnya," kata Trump.
Presiden AS itu apalagi menegaskan kembali sikapnya dengan kalimat nan lebih keras. "Saya betul-betul tidak peduli. Saya sama sekali tidak peduli," ujarnya kepada CNBC.
Trump mengatakan pembicaraan nan berjalan berkepanjangan tersebut mulai kehilangan daya tarik baginya. Ia menyebut obrolan nan berkepanjangan dengan Iran "mulai menjadi sangat membosankan".
Iran Dikabarkan Hentikan Negosiasi
Komentar Trump muncul setelah laporan nan beredar pada Senin menyebut para negosiator Iran bakal menghentikan pembicaraan dengan AS..
Langkah itu disebut sebagai respons terhadap operasi militer Israel di Lebanon nan terus diperluas, khususnya terhadap Hezbollah nan selama ini menjadi sekutu utama Teheran di kawasan.
Selain menghentikan perundingan, laporan tersebut juga menyebut Iran berencana "menutup sepenuhnya" Selat Hormuz.
Ketika ditanya apakah pihak Iran telah secara langsung memberitahukan keputusan tersebut kepadanya, Trump menjawab singkat.
"Tidak, mereka belum melakukannya," katanya.
Trump juga mengaku bakal meminta penjelasan langsung dari Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengenai perkembangan situasi di Lebanon.
"Saya bakal bertanya" kepada Netanyahu "apa nan sedang terjadi di Lebanon," ujar Trump.
Ketegangan Israel-Hizbullah
Beberapa jam setelah wawancara tersebut, Trump mengunggah pernyataan melalui Truth Social nan mengindikasikan adanya perkembangan positif mengenai bentrok Israel dan Hizbullah.
Trump mengatakan dirinya telah melakukan pembicaraan nan sangat produktif dengan Netanyahu. "Saya melakukan percakapan nan sangat produktif," tulis Trump.
Ia mengeklaim bahwa tidak bakal ada pengerahan pasukan menuju Beirut.
"Tidak bakal ada pasukan nan menuju Beirut, dan setiap pasukan nan sedang dalam perjalanan telah diperintahkan untuk kembali," tulisnya.
Dalam unggahan nan sama, Trump juga menyatakan telah berkomunikasi dengan Hizbullah melalui pihak-pihak nan mempunyai posisi penting. Menurut Trump, golongan tersebut menyetujui penghentian tindakan saling serang dengan Israel.
"Mereka sepakat bahwa semua tindakan tembak-menembak bakal dihentikan. Israel tidak bakal menyerang mereka, dan mereka tidak bakal menyerang Israel," tulis Trump.
Sementara itu, dalam unggahan terpisah, Trump tetap menunjukkan optimisme terhadap jalur diplomasi dengan Iran. "Pembicaraan terus berlanjut, dengan sangat cepat, dengan Republik Islam Iran," tulisnya.
Ancaman ke Beirut
Namun pernyataan Trump tidak sepenuhnya sejalan dengan sikap pemerintah Israel.
Dalam unggahan di platform X pada Senin malam, Netanyahu menegaskan dirinya telah menyampaikan langsung kepada Trump bahwa Israel tetap siap meningkatkan operasi militernya andaikan serangan Hezbollah berlanjut.
"Jika Hizbullah tidak menghentikan serangan terhadap kota-kota dan penduduk kami, Israel bakal menyerang target-target teror di Beirut," tulis Netanyahu.
Ia menambahkan bahwa posisi Israel tidak berubah. "Posisi kami tetap tidak berubah. Pada saat nan sama, Pasukan Pertahanan Israel bakal terus beraksi sesuai rencana di Lebanon selatan," lanjutnya.
Trump Tak Khawatir Harga Minyak Naik
Ketika ditanya mengenai lonjakan nilai minyak akibat ancaman Iran terhadap Selat Hormuz, Trump menunjukkan sikap nan relatif santai.
Harga minyak sebelumnya sempat melonjak setelah instansi buletin Iran Tasnim melaporkan Teheran menghentikan negosiasi dan memperketat pengawasan di selat tersebut. Meski demikian, Trump percaya tekanan nilai daya hanya berkarakter sementara.
"Saya pikir nilai minyak bakal jatuh seperti batu dalam waktu nan sangat dekat, sangat dekat," katanya.
Trump juga menilai masyarakat Amerika bakal memahami jika perang menyebabkan nilai bahan bakar naik sementara waktu. Menurutnya, publik bakal menerima akibat ekonomi tersebut andaikan memahami bahwa tujuan utama bentrok adalah mencegah Iran memperoleh senjata nuklir.
"Begitu Anda menjelaskan bahwa semua ini berangkaian dengan Iran nan mempunyai senjata nuklir, orang-orang bersedia bayar sedikit lebih mahal," ujarnya.
Ia kemudian kembali menegaskan keyakinannya bahwa nilai bahan bakar bakal segera turun.
Nasib Perundingan
Meski pemerintahannya terus menyatakan pembicaraan dengan Iran tetap berlangsung, Trump secara berbarengan menunjukkan bahwa dirinya tidak mempunyai urgensi besar untuk segera menghidupkan kembali negosiasi nan macet.
Menurutnya, jika pembicaraan berhujung maka perihal itu bukan masalah besar. Trump kembali mengulangi kritiknya terhadap proses diplomasi nan menurutnya melangkah terlalu lambat.
"Sejujurnya, saya pikir pembicaraan itu mulai menjadi sangat membosankan," ujarnya.
Ketika ditanya apakah sudah saatnya secara resmi mengakhiri gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran nan secara nominal tetap berlaku, Trump memilih tidak memberikan jawaban tegas.
"Anggap saja saya tahu persis apa nan Anda tanyakan ... dan saya memang agak tahu. Mengapa saya kudu memberi tahu Anda?" katanya.
Trump Sindir NATO
Dalam wawancara nan sama, Trump juga menyinggung peran sekutu-sekutu AS di NATO. Dia menilai negara-negara NATO semestinya ikut membantu lantaran mereka jauh lebih berjuntai pada pasokan minyak nan melewati Selat Hormuz dibandingkan Amerika Serikat.
Menurutnya, AS tidak mempunyai ketergantungan nan sama terhadap jalur tersebut. "Kami tidak membutuhkannya, kami mempunyai banyak minyak," ujarnya.
Namun saat ditanya apakah dirinya telah meminta NATO ikut serta dalam upaya membuka kembali Selat Hormuz, Trump memberikan jawaban nan menunjukkan keraguan.
"Mereka bakal melakukannya jika saya menginginkannya, tetapi saya tidak percaya saya menginginkannya," katanya.
Trump apalagi menilai Amerika Serikat tidak memerlukan keterlibatan NATO dalam situasi tersebut. "Kami tidak memerlukan mereka. Kami tidak memerlukan NATO," ujarnya.
Presiden AS itu juga melontarkan kritik keras terhadap sikap aliansi militer Barat tersebut. "Mereka sangat, sangat lemah dan sangat menyedihkan dalam apa nan mereka katakan," kata Trump.
Menurut Trump, respons nan diterimanya dari NATO hanya berupa janji support setelah perang berakhir.
"Mereka berkata, 'Kami bakal membantu Anda segera setelah perang berakhir'," ujarnya.
(luc/luc)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
1 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·