Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Donald Trump mengungkapkan bahwa pemerintahannya tengah menelaah proposal terbaru dari Iran untuk mengakhiri bentrok nan sedang berlangsung, di tengah upaya diplomatik nan terus melangkah meski diwarnai keraguan dari Washington.
Berbicara kepada wartawan pada Sabtu (2/5/2026) sebelum menaiki pesawat kepresidenan Air Force One, Trump mengatakan bahwa dia belum bakal mengungkap perincian usulan tersebut.
"Nanti bakal saya beri tahu," ujarnya. "Mereka bakal segera memberikan kepada saya redaksi nan persisnya sekarang," mengindikasikan bahwa rincian resmi proposal tetap dalam proses finalisasi.
Menurut dua media Iran, Tasnim News Agency dan Fars News Agency, nan diketahui mempunyai kedekatan dengan Garda Revolusi Iran, Teheran telah mengirimkan proposal berisi 14 poin. Proposal tersebut disampaikan melalui Pakistan sebagai respons terhadap tawaran sembilan poin nan sebelumnya diajukan oleh Amerika Serikat.
Pakistan sendiri disebut telah beberapa kali menjadi tuan rumah perundingan antara kedua negara.
Namun, tak lama setelah pernyataan awalnya, Trump menunjukkan sikap lebih skeptis terhadap proposal tersebut melalui unggahan di media sosial. Ia menulis bahwa dirinya "tidak bisa membayangkan bahwa itu bakal dapat diterima lantaran mereka belum bayar nilai nan cukup besar atas apa nan telah mereka lakukan terhadap kemanusiaan dan bumi selama 47 tahun terakhir."
Sikap tersebut sejalan dengan keputusan sebelumnya, di mana Trump menolak proposal Iran nan diajukan awal pekan ini. Meski demikian, jalur komunikasi antara kedua pihak tetap terbuka.
Pembicaraan dilaporkan terus berlanjut, sementara gencatan senjata selama tiga minggu nan telah disepakati tetap memperkuat hingga saat ini.
Di sisi lain, Trump juga mengemukakan pendapat baru mengenai situasi di area Teluk. Ia menyebut rencana untuk membuka kembali akses di Selat Hormuz, jalur laut strategis di mulut Teluk Persia nan selama ini menjadi salah satu titik paling vital bagi perdagangan daya global.
(luc/luc)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·