Jakarta, CNBC Indonesia - Ketegangan diplomatik antara Washington dan Teheran kembali memanas setelah pernyataan nan saling bertolak belakang soal nasib uranium Iran mencuat ke publik, memperlihatkan lembah perbedaan nan tetap lebar di tengah upaya mengakhiri perang.
Kementerian Luar Negeri Iran secara tegas membantah klaim Presiden Amerika Serikat Donald Trump nan sebelumnya menyebut Teheran siap menyerahkan persediaan uranium nan diperkaya.
"Uranium nan diperkaya milik Iran tidak bakal dipindahkan ke manapun," ujar ahli bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, kepada televisi pemerintah pada Jumat (17/4/2026) malam.
Ia menegaskan bahwa rumor pemindahan uranium tidak pernah menjadi bagian dari pembicaraan.
"Pemindahan uranium nan diperkaya milik Iran ke Amerika Serikat tidak pernah dibahas dalam negosiasi."
Klaim Trump
Sebelumnya pada hari nan sama, Trump melalui platform Truth Social menulis:
"Amerika Serikat bakal mendapatkan semua 'debu nuklir' nan dihasilkan oleh pengebom B2 kami nan hebat," merujuk pada uranium nan disebutnya terkubur akibat serangan udara AS tahun lalu.
Namun Baqaei menekankan bahwa konsentrasi pembicaraan terbaru bukan lagi semata soal nuklir, melainkan upaya mengakhiri bentrok nan lebih luas.
"Negosiasi sebelumnya berfokus pada rumor nuklir, tetapi sekarang negosiasi berfokus pada mengakhiri perang, dan secara alami cakupan topik nan dibahas menjadi lebih luas dan lebih beragam," katanya.
Ia menambahkan bahwa prioritas utama Iran justru terletak pada pencabutan hukuman dan kompensasi.
"Rencana 10 poin untuk pencabutan hukuman sangat krusial bagi kami. Isu kompensasi atas kerusakan nan terjadi selama perang nan dipaksakan juga sangat penting."
Timbal Balik
Pernyataan tersebut muncul setelah laporan media AS Axios menyebut Washington dan Teheran tengah membahas skema nan mencakup pelepasan biaya Iran nan dibekukan sebesar US$20 miliar, sebagai hadiah atas penyerahan stok uranium nan diperkaya.
Meski demikian, Iran tetap mempunyai persediaan uranium dalam jumlah signifikan, termasuk nan diperkaya hingga 60%, mendekati periode 90% nan diperlukan untuk senjata nuklir, serta stok uranium dengan tingkat pengayaan 20%.
Sebelum serangan AS pada Juni 2025, Badan Energi Atom Internasional (IAEA) memperkirakan Iran mempunyai sekitar 440 kilogram uranium dengan pengayaan 60%, jauh di atas pemisah 3,67% nan ditetapkan dalam kesepakatan nuklir 2015 nan kemudian ditinggalkan oleh AS.
(luc/luc)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
2 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·