Iran memperingatkan negara-negara nan ikut menerapkan hukuman ekonomi Amerika Serikat (AS) terhadap Teheran bakal dianggap sebagai musuh.
Peringatan itu disampaikan Mohsen Rezai, Kepala Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, melalui televisi pemerintah pada Sabtu (22/8).
"Kami menyatakan kepada semua negara, jangan berasosiasi dalam perang ekonomi nan dilancarkan Amerika Serikat," ujarnya, dikutip AFP.
Ia menegaskan, negara nan ikut memberlakukan pembatasan ekonomi terhadap Iran bakal dianggap sebagai pihak nan bermusuhan.
"Setiap negara nan berperan-serta dalam penerapan pembatasan ekonomi terhadap kami dianggap sebagai musuh," tegasnya.
Ia apalagi menakut-nakuti Iran bakal mengambil tindakan terhadap kepentingan negara-negara tersebut jika mereka tidak menjauh dari Amerika Serikat.
Rezai juga mengatakan Iran tetap mempunyai sejumlah "kartu" dalam perang dengan AS.
Ia menyatakan Iran sejauh ini baru menyerang pangkalan militer Amerika.
"Kami belum menyerang kepentingan ekonomi Amerika mana pun," ujar Rezai.
Namun, jika hukuman ekonomi diterapkan, Rezai menakut-nakuti perusahaan minyak dan ekonomi AS di sekitar Iran maupun di wilayah lain bakal menjadi sasaran.
"Jika mereka mau menjatuhkan hukuman ekonomi kepada kami, kami bakal menyerang mereka" ancamnya.
Rezai juga memperingatkan Presiden AS Donald Trump bahwa konfrontasi bakal semakin besar jika Washington mengambil tindakan lebih lanjut.
"Jika Trump mengambil tindakan, konfrontasi kami bakal seperti gempa bumi," tambahnya.
AS sebelumnya mendorong negara-negara sekutunya, termasuk China, untuk ikut mengisolasi ekonomi Iran.
China menolak inisiatif tersebut dan menilai hukuman AS tidak bakal menyelesaikan bentrok di Timur Tengah.
Sementara itu, Uni Emirat Arab, salah satu mitra jual beli utama Iran, pada Selasa (18/8) mengumumkan penghentian sementara seluruh transaksi perdagangan dan finansial dengan Teheran hingga pemberitahuan lebih lanjut
17 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·