IPO Saham Masih Sepi hingga Tengah Tahun, Ada Apa?

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Jakarta -

PT Niramas Utama Tbk (JELI) bakal melakukan penawaran perdana saham alias initial public offering (IPO). Itu berarti, produsen jeli nan dikenal luas dengan nama Inaco bakal menjadi emiten kedua pada tahun ini.

Lantas, apa penyebab IPO pada tahun ini sepi?

Analis Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana mengatakan sepinya aktivitas IPO pada tahun 2026 merupakan gambaran bahwa pasar modal Indonesia sedang menghadapi tantangan nan tidak ringan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kondisi saat ini, kata Hendra berbanding terbalik dengan beberapa tahun sebelumnya ketika pasar modal Indonesia menjadi salah satu nan paling aktif di area Asia Tenggara.

"Kondisi ini menunjukkan bahwa banyak perusahaan memilih menunda rencana melantai di bursa lantaran menilai momentum pasar saat ini belum ideal untuk memperoleh valuasi nan optimal," ujarnya saat dihubungi detikcom, Minggu (14/6/2026).

Hendra menjelaskan aspek utama nan menyebabkan minimnya IPO tahun ini adalah tekanan nan terjadi di pasar saham Indonesia. Di mana IHSG mengalami koreksi nan sangat dalam sejak awal tahun, sehingga menyebabkan valuasi kebanyakan emiten turun signifikan.

"Dalam kondisi seperti ini, perusahaan nan berencana IPO tentu tidak mau melepas sahamnya pada nilai nan dianggap terlalu murah. Bagi pemilik perusahaan, keputusan menunda IPO menjadi pilihan nan lebih logis dibandingkan kudu menerima valuasi nan rendah akibat sentimen pasar nan sedang negatif," ujarnya.

Di sisi lain, Hendra mengatakan penanammodal juga condong lebih berhati-hati dan selektif dalam menempatkan biaya lantaran konsentrasi utama saat ini menjaga likuiditas dan mengurangi akibat investasi.

Selain aspek pasar modal, kondisi ekonomi Indonesia juga menjadi pertimbangan penting. Di mana pertumbuhan ekonomi nan belum sesuai harapan, tekanan terhadap daya beli masyarakat, perlambatan konsumsi, serta tingginya biaya dana akibat suku kembang nan tetap berada pada level tinggi membikin pelaku upaya lebih berhati-hati dalam mengambil langkah ekspansi.

"Investor pun mulai mempertanyakan prospek pertumbuhan untung perusahaan ke depan. Ketika ekspektasi pertumbuhan ekonomi menurun, minat penanammodal terhadap saham-saham baru otomatis ikut berkurang sehingga membikin perusahaan memilih menunggu kondisi nan lebih mendukung sebelum masuk ke pasar modal," ujarnya.

Lebih lanjut, Hendra menjelaskan, pemulihan aktivitas IPO sangat berjuntai pada kembalinya kepercayaan investor, stabilisasi IHSG, membaiknya kondisi ekonomi domestik, serta masuknya kembali aliran biaya asing ke pasar finansial Indonesia.

"Jika faktor-faktor tersebut mulai membaik, maka perusahaan-perusahaan nan saat ini menunda IPO berpotensi kembali aktif melantai di bursa dan menghidupkan kembali pasar perdana Indonesia," ujarnya.

Sementara itu, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai minimnya aktivitas IPO tahun ini juga dipengaruhi oleh perubahan preferensi penanammodal nan sekarang condong lebih konservatif dalam mengambil keputusan investasi.

"Fokus mereka saat ini lebih tertuju pada emiten nan sudah established, mempunyai track record profitabilitas nan jelas, serta memberikan dividen nan menarik. Perusahaan nan baru bakal IPO, terutama nan tetap dalam fase growth tinggi namun belum stabil secara laba, menjadi kurang menarik dibandingkan aset-aset safe haven alias saham blue chip nan sudah ada," ujarnya saat dihubungi detikcom.

(acd/acd)

Selengkapnya
Sumber detik finance
detik finance