Investor Kawasan Industri Mulai Jauhi Jakarta Cs, Tapi Malah Terancam

Sedang Trending 42 menit yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Kawasan industri Indonesia terus bergerak menjauh dari Jakarta menuju wilayah dengan biaya investasi nan lebih rendah. Pergerakan tersebut terlihat di sepanjang koridor timur hingga Pantura, termasuk area Kendal dan Batang.

Pergeseran letak industri menjadi kesempatan bagi wilayah untuk mendapatkan investasi dan lapangan kerja baru. Namun, pembangunan tersebut juga membawa tantangan lingkungan, terutama bagi area pesisir nan menghadapi ancaman banjir rob dan abrasi.

"Yang pasti penanammodal area industri itu selalu mencari tempat dengan capex (belanja modal) dan opex (belanja operasional) nan rendah. Sekarang Jakarta udah enggak mungkin lantaran UMK-nya Rp5,1 apa Rp5,2 juta, makanya mulai bergeser ke arah Kendal, Batang, lantaran mungkin biaya SDM-nya tetap bisa dikendalikan oleh para investor," kata Ketua Umum Ikatan Ahli Perencanaan Wilayah dan Kota Indonesia (IAP) Adriadi Dimastanto kepada CNBC Indonesia Jumat (21/8/26).

Pertumbuhan area industri di Pantura perlu diikuti perubahan langkah pembangunan kawasan. Infrastruktur industri tidak bisa hanya mengejar kapabilitas produksi tanpa memperhitungkan kondisi lingkungan di sekitarnya.

Ancaman banjir rob dan pengikisan dapat menjadi akibat jangka panjang bagi area industri. Jika persoalan tersebut tidak ditangani sejak awal, biaya nan muncul di masa depan bisa jauh lebih besar.

"Kalau kita memandang ini berfaedah Pantura itu bakal menjadi koridor industri, sementara Pantura itu juga punya tantangan tuh banjir rob, abrasi. Jadi industri nan berkembang kudu punya visi sebagai green industry, bukan industri nan tidak memperhatikan sensitivitas lingkungan," ujarnya.

Pembangunan area industri dapat sekaligus menjadi kesempatan untuk memperbaiki kondisi lingkungan. Pengembang dan pelaku industri mempunyai ruang untuk menyiapkan area hijau, sistem tangkapan air serta prasarana nan lebih adaptif terhadap perubahan kondisi pesisir.

Kendaraan investasi juga perlu dibarengi dengan tanggung jawab terhadap wilayah sekitar. Pengembangan industri semestinya tidak membikin pemerintah wilayah menanggung seluruh akibat lingkungan nan muncul dari pertumbuhan kawasan.

"Industri-industri Pantura tuh kudu sudah mulai tahu bahwa mereka kudu sediakan ruang hijau lebih banyak, tangkapan-tangkapan air, terus mencegah banjir gimana. Nah jika mereka enggak pikirin itu, 5-10 tahun tenggelam itu Pantura. Kalau Pantura kemudian berkembang menjadi koridor industri, justru industri-industri inilah nan kudu berkedudukan membantu wilayah kita agar punya keseimbangan lingkungan nan lebih baik lagi," kata Dimas.

Sebelumnya, Senior Research Advisor Knight Frank Indonesia, Syarifah Syaukat mengatakan aktivitas industri tetap terkonsentrasi di beberapa sub-market utama. Bekasi dan Karawang menjadi wilayah dengan transaksi lahan terbesar pada semester pertama 2026.

"Baik, sebagai ringkasan pasar dari performa area industri di Greater Jakarta, kami bisa sampaikan bahwa tetap Bekasi dan Karawang saat ini sebagai sub-market dengan transaksi terbesar di semester 1 tahun 2026," ujar Syarifah dalam konpers virtual, Kamis (20/8/2026).

(dce) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News