Investasi Emas Dinilai Masih Jadi Pilihan Tepat di Tengah Perang di Iran

Sedang Trending 2 bulan yang lalu
Militer Israel melancarkan serangan besar ke Lebanon pada Rabu (8/4/2026), sehari setelah kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran. Foto: STR / AFP

Perang antara Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel membikin nilai emas sempat terkoreksi, alih-alih terjadi reli seperti beberapa waktu sebelumnya meski sekarang harganya bergerak fluktuatif. Meski begitu, berinvestasi di instrumen emas dinilai tetap jadi pilihan tepat.

Perencana finansial Andy Nugroho menyebut investasi emas memang tetap tepat, meski harganya sempat terkoreksi. Ini lantaran emas berfaedah sebagai nilai lindung terhadap kekayaan nan berbentuk mata uang.

“Namun di kembali kejadian tersebut, jika kita kembalikan ke kegunaan dan kelaziman investasi emas, maka emas tetap worth it sebagai instrumen investasi nan patut dikoleksi, dan sebenarnya kita tidak perlu terlalu panik menghadapi koreksi tersebut. Pertama, lantaran kegunaan emas adalah sebagai lindung nilai mata duit kita,” kata Andy kepada kumparan, Minggu (12/4).

Selain itu, emas merupakan instrumen investasi jangka menengah sampai panjang. Mendapatkan untung dari instrumen emas biasanya memerlukan lebih lama.

Andy juga memperingatkan adanya akibat kerugian jika membeli emas saat nilai sedang tinggi, lampau menjualnya saat terjadi koreksi.

“Justru andaikan saat ini jika kondisinya merugi lantaran harganya turun, maka jika kita jual maka kita bakal merealisasikan kerugian tersebut. Tapi semisal tujuannya adalah untuk melakukan cut loss, maka perihal tersebut bakal menjadi sah-sah saja,” ujarnya.

Jika kudu mencari instrumen pengganti pada situasi geopolitik seperti ini, Andy menyarankan agar Surat Utang Negara seperti ORI maupun Sukuk Ritel bisa menjadi pilihan. Hal ini lantaran instrumen tersebut memberikan imbal hasil lebih tinggi dibandingkan deposito, namun dengan akibat nan tetap lebih rendah dibandingkan dengan pasar saham. Selain itu, investasi di pasar duit juga bisa jadi pilihan.

“Selain itu, bisa juga masuk ke reksadana berbasis pasar uang, lantaran reksadana ini adalah nan tetap bisa memberikan imbal hasil positif walaupun dengan akibat lebih tinggi dibandingkan dengan SUN,” kata Andy.

Perencana finansial Mike Rini Sutikno juga menjelaskan, prinsip investasi emas itu merupakan investasi jangka menengah sampai panjang. Maka dari itu, ketika nilai emas sempat terkoreksi dan bergerak naik turun akibat perang, dia menyarankan agar penanammodal tak langsung terburu-buru menjual emas.

Ilustrasi emas. Foto: Shutterstock

“Jadi untuk emas ini bisa di hold saja. Jadi tidak perlu kudu panik (selling), di hold. Karena penurunan dalam jangka pendek ini biasanya trend emas itu memang dia naik dalam jangka panjang. Jadi penurunan nan terjadi saat ini tidak kudu terlalu dikhawatirkan, simpan saja. Karena apa, hedging itu tetap penting. Tetapi untuk significant growth itu memang bukan nan diutamakan di sini,” ujarnya.

Sebagai alternatif, dia menyarankan penanammodal bisa masuk ke beberapa instrumen seperti Surat Berharga Negara (SBN), obligasi retail maupun sukuk. Hal ini lantaran dalam situasi seperti ini, terdapat kecenderungan suku kembang referensi bakal stabil apalagi meningkat.

video story embed

“Kalau kita lihat bahwa kecenderungan suku kembang itu stabil apalagi bakal meningkat, setidaknya stabil. Ini bakal membikin instrumen surat berbobot negara itu bakal juga berbanding lurus. Di sini bakal menarik. Karena dalam situasi ketidakpastian kita kudu tetap bisa menjaga preserve our capital. Mempertahankan modal investasi kita dan juga kudu tetap bertumbuh,” kata Mike.

Ia juga mengingatkan pentingnya diversifikasi instrumen investasi. Hal ini bisa disesuaikan dengan tujuan investasi masing-masing investor.

“Jadi strategi terbalik itu bukan 100 persen emas alias konsentrasi pada emas aja, alias semuanya saham aja, tidak. Jadi melainkan jika dari pendekatan perencanaan keuangan, berasas esensial investasi kita, kita membangun portofolio investasi sesuai dengan tujuan finansial alias sesuai dengan rencana finansial kita,” ujarnya.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan